My Husband My Hero

My Husband My Hero
46. Sisi Romantis (End)



Nungky memasuki ruangan Alisa dengan membawa sebuah buku yang di desain khusus sekaligus sebuah buket bunga cantik sesuai dengan apa yang dipesan Dika.


"Bang, pesanan Abang aku taruh di meja! " ucap Nungky yang kemudian keluar bersama Mama Lucy untuk mencari makan.


"Al, bangunlah...! Aku membawakan bunga. Selama ini kamu menginginkannya, kan? " lirih Dika dengan menyeka air mata yang menetes dari sudut matanya.


"Bukalah matamu, Al! Jangan sampai bunga itu layu karena belum tentu aku akan memberikannya lagi." lanjut Dika dengan masih menciumi tangan putih itu. Sudah beberapa jam dia di dekat istrinya, tapi belum ada tanda-tanda Alisa membuka mata.


Lelaki itu tak ingin beranjak pergi sedikitpun dari sisi istrinya. Dia kemudian menelungkupkan wajah dan bertumpu pada kedua lengannya yang di tekuk. Rasa putus asa kembali menyelimutinya menanti Alisa yang tak kunjung bangun.


"Al, bukankah kau ingin sekali menjadi seorang ibu yang hebat. Inilah saatnya, Al. Dia membutuhkanmu, kamu harus bangun!" gumamnya diantara rasa putus asanya. Dika seperti kehilangan seluruh tenaganya untuk tetap menunggu.


"Bangunlah, Al!" lirihnya lagi. Air matanya kembali menetes di seprai putih rumah sakit.


Hening tercipta hingga beberapa puluh menit, keduanya kini dalam keheningan dan hanya sepenggal harapan yang masih tersisa di hati Dika saat menunggu orang yang dia cintai membuka matanya.


"Mas Dika... " Suara lirih yang hampir tak terdengar membuat Dika terhenyak dan mengangkat kepalanya seketika. Rasa putus asa hampir membuatnya tak percaya jika Alisa sudah membuka matanya, lelaki yang masih dengan mata berkaca-kaca itu menatap istrinya dengan tersenyum bahagia.


"Alisaku...!" ucap Dika yang kemudian memencet tombol untuk memanggil team medis.


Betapa bahagia hatinya saat wanita pucat itu tersenyum tipis ke arahnya.


"Terima kasih ya, Allah. " ucapnya masih dengan menyeka air matanya. Ribuan rasa bahagia yang membuncah hingga membuatnya salah tingkah.


Kini dia memilih menunggu di luar untuk pemeriksaan Alisa dan bayi yang ada di dalam kandungannya. Sementara itu, Mama Lucylah yang saat itu menemani Alisa. Lelaki itu seperti kehilangan banyak tenaganya saat ketegangan dan kecemasan itu berada di antara hidupnya.


Setelah semua pemeriksaan selesai, Dika kembali masuk ke dalam ruangan dengan perasaan yang sudah diredamnya sedemikian normal. Bibirnya masih tersenyum menatap perempuan yang saat ini juga menatapnya dengan senyum bahagia. Persis sekali, mereka seperti sepasang kekasih yang baru saja menyatakan perasaannya.


"Ehem.... " Tenggorokannya terasa tercekat saat manik mata hitam itu menatapnya dengan tersenyum. Tangannya mengatur tempat tidur alisa agar istrinya bisa sedikit bersandar.


"Mas... " Belum saja Alisa melanjutkan bicaranya, Dika sudah kembali tak bisa menguasai dirinya. Tangannya membingkai wajah mungil itu dan menciuminya bertubi-tubi.


"Kamu membuatku ketakutan, Al." Sejenak Dia menatap wajah istrinya kembali dan kemudian mencium kening perempuan yang saat ini masih tersenyum dengan rona bahagia. Kali ini ciumannya begitu lembut hingga membuat hati wanita itu berdebar.


"Dia baik-baik saja. Dia sehebat papanya." ucap Alisa dengan mengelus perutnya membuat Dika mengarahkan ciumannya di perut Alisa dengan memeluk pinggang kecil istrinya.


Alisa sangat bersyukur apa yang dia takutkan dengan bayinya tidaklah terjadi. Meski kondisinya belum kembali stabil sepenuhnya. Tulang leher yang retak hingga harus memakai penyangga leher dan pelipisnya yang menghantam setir kini sudah diperban.


"Sayang... terima kasih, kamu wanita terhebatku!" Dika menyerahkan sebuah buket bunga dan diary yang di desain khusus, rencana sebenarnya untuk hadiah wisudanya nanti.


"Apa, Mas? " tanya Alisa dengan heran, tidak biasanya suaminya seromantis itu. Diciumnya bunga itu tanpa mengharapkan jawaban akan pertanyaan yang sudah dia lontarkan.


"Mas Dika dapat ide dari mana? "


"Ya Allah, Al. Mau apa nggak? "


"Duhh ... gitu aja marah. Jelas mau dong!" Alisa memeluk pinggang Dika yang berdiri di dekatnya dengan satu tangannya yang tidak diinfus.


Diregangkan pelukannya di perut keras Dika dan kemudian Mulai membalik buku tersebut.



Bertemu denganmu adalah bagian yang sangat tidak aku rencanakan apalagi untuk jatuh cinta. Tuhan mempertemukan kita dengan cara unik-Nya. Tidak menyukaimu dan ketertarikanku terhadapmu telah datang bersamaan hingga aku tak menyadari jika aku sudah jatuh cinta padamu.


Jatuh cintakah? ...


Saat itu aku belum menyadarinya. Aku pikir, aku merasa lebih tidak menyukaimu. Tapi, entah kenapa aku selalu khawatir saat terjadi sesuatu padamu. Saat itu kamu hampir pingsan karena racun ubur-ubur itu membuatku begitu panik, seharusnya aku menyadarinya jika aku mulai jatuh hati padamu.


Alisaku ...


Seringkali kamu mempertanyakan kapan aku mencintaimu? Pertanyaan yang seolah-olah meragukan perasaanku terhadapmu. Pertanyaan itu memang sulit aku jawab, tapi percayalah jika aku sudah mencintaimu jauh sebelum aku juga menyadarinya.


Aku selalu menatapmu diam-diam. Awalnya aku pikir itu bukan suatu ketertarikan, tapi ternyata aku memang sudah tak bisa mengalihkan pandanganku darimu.


Ah, senyum manis yang selalu kamu sungging sungguh membuatku tak mampu berpaling darimu. Rengekanmu yang tidak bisa aku tolak sama sekali, meski sering keluar kalimat penolakanku. Bahkan, air mata dan kesedihanmu yang selalu membuat hatinya terasa ngilu saat melihatnya. Seandainya kamu tau aku lebih senang menatapmu dari kejauhan atau di saat dirimu tertidur. Seandainya saja kamu tau jika aku sering mencuri pandang di mana keberadaanmu, seakan kamu adalah mangsa terindahku. Tapi, saat itu aku belum bisa mengakui perasaanku terhadapmu.


Alisaku....


Ah ... seandainya kamu tau jika menikahimu adalah ide gilaku. Tapi aku juga tidak tau ide gila yang seperti apa dan dari mana aku mendapatkannya. Logikanya, aku bisa saja menyelesaikan semua tanpa melibatkanmu. Tapi, aku tak mengerti kenapa aku memilihmu? Apa hanya untuk melindungimu? Atau mungkin saja, aku sudah jatuh hati padamu tanpa aku sadari.


Tapi, ada rasa yang menghangat di hatiku saat aku mengucapkan ijab kabul pernikahan kita Rasa yang aku sendiri tak mengerti, keinginan untuk selalu memilikimu dan menjadi bagian terindah dari hidupmu.


Alisaku....


Pertama kali aku hidup denganmu, aku pikir kamu akan menyerah dengan segala aturan yang aku buat. Tapi, ternyata di luar dugaanku. Aku tidak salah memilihmu. Asal kamu tau saja, bukan cuma kamu saat itu yang berjuang untuk menyesuaikan diri denganku. Aku pun juga berjuang, jika mengingat masakan pertamamu yang gosong, aku juga sedang berjuang untuk menelannya tanpa harus banyak berkomentar.


Alisaku....


Maafkan aku jika dulu selalu menyakitimu.


Maafkan aku, jika aku belum bisa membahagiakanmu.


Tetaplah bersamaku menghadapi semuanya, kesalahan dan perbedaan itu adalah bagian dari kehidupan kita tapi aku selalu ingin menggenggam erat tanganmu dalam menghadapi semuanya. Aku ingin kamu tetap bersamaku dengan segala kekuranganku dan kita akan menua bersama.


"Mas Dika...! " Alisa menoleh dan menengadahkan wajahnya menatap Dika. Tulisan sekaligus album foto tentang dirinya yang di berikan oleh suaminya membuat Alisa sangat bahagia.


"Kemarilah! " Dika kemudian menunduk dan memeluk Alisa.


"Terima kasih suamiku, sudah mencintaiku sebegitu besar. Cinta yang tak bisa aku bayangkan sebelumnya." bisik Alisa sambil memeluk Dika dengan wajah masih menengadah menahan butir kristal yang ingin menetes. Tangis bahagia yang tak bisa dibendungnya lagi.


End...


hae jangan lupa ya mampir di Rindu Alexa