
Setelah tujuh hari kepergian Papa Handoko. Dika membawa Alisa ke rumah Mama Lucy agar istrinya bisa berganti suasana. Dika berharap Alisa menjalani kehamilannya dengan rasa bahagia. Setelah turun dari mobil, Dika membawa dua koper yang semua berisi barang barang Alisa. Sementara itu, Alisa malah memperhatikan pohon mangga yang sedang berbuah di halaman rumah Mama Lucy.
"Mas Dika, pengen mangga itu!" pinta Alisa dengan menarik lengan suaminya.
"Nanti ya, kita masuk dulu!" jawab Dika merasa harus membawa ke dua kopernya ke dalam lebih dahulu.
"Sekarang, Mas."
"Al..." panggil Dika penuh penekanan membuat Alisa menghentakkan kakinya masuk ke dalam rumah terlebih dahulu. Wajahnya kini berubah cemberut saat memasuki kamar.
"Al sayang ... jangan ngambek, ya! Ni, mau diambilkan." ucap Dika penuh pengertian.
"Nggak usah, udah nggak pengen!" Ketus Alisa dengan duduk di sofa menyandarkan tubuhnya dan menatap ke luar jendela.
"Duch...anak Papa ini ya, suka bikin Papa dimarahin Mama." ujar Dika dengan mengelus dan kemudian mencium perut datar Alisa.
"Ichhh.... geli mas!" Alisa menahan bahu Dika yang masih tak bergeming. Betapa bahagianya lelaki itu saat membayangnya menjadi seorang Papa.
"Istirahatlah, Al! Akan kuambilkan mangganya." Dika mencium kening Alisa dan meninggalkan Alisa di kamar dan kemudian menuju halaman depan.
Tidak sabar menunggu Dika, Alisa mengambil pisau di dapur dan membawanya ke depan.
"Al, kenapa kamu menyusul?"
"Udah pengen!" ucap Alisa dengan mengambil satu buah dan kemudian duduk di dekat kolam ikan. Dika masih membawa beberapa mangga muda di keranjang dan mengikuti di mana Alisa berada.
"Dicuci dulu, Al!"
"Nggak usah, Mas. Ntar aroma segarnya hilang." bantah Alisa yang langsung memotong motong daging buah mangga dan memasukkannya ke mulut. Melihat Alisa dengan lahapnya menikmati mangga muda membuat Dika meringis membayangkan rasa asamnya yang luar biasa.
"Al, satu saja...besok lagi!" ucap Dika dengan membawa mangga muda lainnya masuk ke dalam rumah.
Alisa masih berusaha mengejar tapi saat mobil sedan toyota tahun 94an memasuki garasi, membuat Alisa melupakan mangga mudanya.
"Mama..." Alisa berlari ke arah mertuanya dengan girang.
"Jangan lari, Al!" ucap Lucy memperingatkan Alisa yang sudah ada di depannya.
"Mam... bawa kue red velvet?" tanya Alisa dengan mengambil punggung tangan Lucy untuk salim.
"Ini Mama bawa?" Kemudian tangan kiri lucy memamerkan paper bag yang dia bawa dari toko.
Keduanya berjalan menuju dapur. Sedangkan Dika sudah duduk di sofa dekat ruang makan dengan melirik ke datangan dua wanita itu.
"Pantesan nggak nguber nguber orang, udah dapet makanan lagi!" celetuk Dika membuat Alisa berkacak pinggang dan mendengus kesal.
"Mas Dika pelit, kok!" sahut Alisa. Dika hanya tersenyum tipis saat melirik Alisa yang sudah manyun. Yah, cari aman saja jika sudah memasang gaya seperti itu, saat ini diam adalah emas.
"Al, udah berapa minggu usia kandunganmu? Kamu ngalamin morning sick nggak?" tanya Mama Lucy dengan menata beberapa kue yang dia bawa dari tokonya.
"Empat minggu jalan, Ma. Sepertinya nggak ada morning sick, kok!" jelas Alisa.
"Tapi baperan, sensitive dan tambah galak, Ma." sela Dika membuat Alisa memasang wajah cemberut.
Mama Lucy hanya menggeleng sambil tersenyum. Rasa bahagia saat semua masalah terselesaikan dengan baik ditambah saat ini akan ada calon lagi penerus keluarga Praja.
Malam ini Alisa sudah berdandan rapi. Wanita itu sudah mengenakan dress berwarna soft pink yang membuatnya semakin terlihat imut. Sudah saatnya dia mencari keberadaan suaminya.
Senyumnya mengembang saat melihat sosok yang saat ini menjadi tergetnya, tengah duduk menatap Macbooknya.
"Mas, aku sudah cantik nich!"ucap Alisa bergelayut manja di lengan kiri suaminya.
"Hmmm..." jawab Dika masih fokus dengan pekerjaannya.
"Kenapa cuma hmmmm saja?" Protes Alisa membuat Dika merangkul dan mencium puncak kepala istrinya dengan satu tangannya.
"Nyari ice cream, yuk!" rengak Alisa dengan sebelah tangannya menggosok paha suaminya dan sebelahnya lagi memeluk punggung Dika. Lelaki berambut cepak itu seperti kehilangan fokus dengan masih merangkul tubuh mungil istrinya apalagi wangi parfum bunga lily yang terendus kuat di hidungnya.
"Iya ... tunggu sana!" jawab Dika menunjuk sofa dengan dagunya berusaha untuk menyelesaikan pekerjaannya. Matanya masih fokus dengan macbooknya meski pikirannya sudah mulai berkeliaran.
"Sekarang, ya!"ucap Alisa masih dengan menggosok gosok paha suaminya.
"Al... kalo kamu terus kayak gini. Ntar jadinya nggak beli ice cream lo, tapi masuk kamar!" ucap Dika saat merasa mendapatkan elusan tangan Alisa di pahanya, bahkan sejak mencium aroma lily parfum Alisa membuat Dika semakin gemas.
"Jangan pake lama, keburu nggak pengen nanti!"cetus Alisa membuat Dika segera mengakhiri pekerjaanya sebelum wanitanya merajuk dan berubah menjadi galak.
Dika meletakkan macbooknya di kamar dan mengambil kunci mobilnya. Hidupnya rasanya berbanding terbalik 180 ° sejak ada malaikat kecil di perut istrinya. Yah, merepotkan yang membuatnya bahagia.
Dika menghentikan mobilnya di depan swalayan terdekat. Sebelum turun Alisa sudah memprotesnya.
"Bukan di sini, Mas!" kilah Alisa yang menginginkan ice cream di kedai depan resto jepang yang pernah dibelinya. Dengan meraup wajahnya mengumpulkan kesabaran, Dika pun melajukan kembali mobilnya menuju kedai ice cream yang dimaksut istrinya. Mereka turun dari mobil dan harus berjalan dua meteran dari parkir.
Laki laki dengan perawakan atletis dan berwajah tegas itu berjalan dengan mengapit pinggang istrinya.
"Hae, Dik! " sapa seorang wanita berambut panjang itu menghentikan langkah Dika dan Alisa.
"Eh, Ren... apa kabar?" jawab Dika kemudian menyalami wanita itu.
"Baik...aku sedang ambil cuti pulang ke Indo. Oh ya. Kamu jadi menikah dengan Najwa?" deg ... pertanyaan Reni membuat Dika langsung melirik Alisa yang sudah memasang wajah cemberut.
"Ini...istriku, Alisa." jawab Dika dengan mengenalkan Alisa.
"Alisa!" Alisa mengulurkan tangan memperkenalkan diri tapi perempuan di depannya malah seperti acuh.
"Eh, sejak kapan kamu berubah selera? Bukannya kamu menyukai wanita yang kalem dan dewasa? Kok, nggak ada undangan resepsi... jangan jangan kamu kepaksa ya?" Mendengar ucapan Reni membuat Dika melirik wajah Alisa yang sudah berubah menjadi pias dan pergi meninggalkan mereka.
"Aku duluan, Ren!"ucap Dika yang kemudian berlari mengejar Alisa di kedai ice cream.
"Dua porsi, coklat vanila!"ucap Alisa kepada si penjual Ice cream. Alisa menyerahkan uangnya dan kemudian berjalan tanpa mempedulikan Dika yang berjalan di sebelahnya.
Melihat kursi panjang di pinggir jalan wanita itu memilih duduk di sana dan menikmati ice creamnya.
"Al, jangan dengerin, ya! Saat ini cuma ada kamu dan malaikat kecil kita yang jadi fokusku." bujuk Dika saat mereka duduk di kursi panjang itu.
"Kisah cinta kalian sepertinya indah ya? Hingga melegenda di setiap orang yang mengenal kalian." ujar Alisa dengan menatap jalan.
Tbc
Jangan lupa tinggalkan jejak ya ...vote atau komen