
Alisa menangis sesenggukan di tanah pemakaman yang masih merah, setelah raungannya yang kian melemah. Rasanya hampir tak percaya, secepat itu Papanya meninggalkannya. Tak pernah dia sangka jika hari itu adalah terakhir kali Alisa memeluk papanya.
"Papa..." hanya itu yang mampu terucap di antara isak tangisnya.
"Al, mendung semakin petang. Ayo kita pulang!" ajak Dika dengan menunduk dan memegang kedua bahu istrinya yang masih memeluk batu nisan papanya.
Alisapun ikut berdiri. Tapi, tubuhnya kembali meluruh membuat Dika dengan sigap menangkapnya.
"Al, ... astaga, jangan membuatku semakin khawatir!"gumam Dika sambil berlari menggendong Alisa menuju mobil.
Dengan cemas Dika melajukan mobilnya, sesekali melirik Alisa yang masih tak sadarkan diri. Tak butuh waktu lama, kemudian Range Rover itu membelok pada sebuah klinik tempat praktek dr. Anggara.
Flash Back
Alisa mengerjapkan matanya sesaat setelah tak sadarkan diri karena kabar yang di berikan Mama Liana.
"Al ... ada apa?" tanya Dika saat melihat Alisa tersadar.
"Papa Mas Dika, Papa...." tangisnya menjadi dengan memeluk erat lengan Dika.
"Kenapa Papa?" selidik Dika.
"Pap-Papa meninggal." kalimat Alisa terjeda dengan raungannya.
"Pa- pa... terkena serangan jantung!" lanjut Alisa membuat Dika segera bangkit mengajak Istrinya pergi ke rumah Papa Handoko.
Selama proses memandikan dan mengkafani jenazah, beberapa kali Alisa jatuh pingsan. Kondisi Alisa yang tidak stabil membuat Dika mengambil keputusan membawa Alisa ke pemakaman setelah Alisa merasa lebih baik.
Flash On
Semua mata seolah menatapnya, Dika menggendong Alisa dengan berlari kecil menuju ruangan dr. Anggara. Oh Tuhan, melihat keadaan Alisa yang semakin lemah membuat lelaki bertubuh atletis itu seakan kehilangan detak jantungnya.
"Ang, tolong!" ucap Dika yang langsung menerobos masuk dan meletakkan Alisa di tempat tidur. Untung saja, saat itu tidak ada pasien.
Anggara pun terkaget saat tiba tiba Dika membawa istrinya yang tak sadarkan diri. Tanpa berfikir panjang Anggara kemudian memeriksa kondisi Alisa.
"Kapan terakhir dia menstruasi?" tanya Anggara menatap Dika.
"Aku tak tau, Ang!" lirih Dika dengan wajah cemasnya.
"Jadi, sejak kejadian di tempat Arsen, kalian belum melakukan hubungan suami istri?" selidik Anggara yang kemudian mendapat tatapan tajam dari Dika.
"He he he...maksutnya sebaiknya bawa dia ke bagian obgyn saja. Aku kan, cuma specialis bedah!" cengir Anggara membuat Dika mendesah kesal.
Sesaat kemudian Alisa mengerjapkan mata. Pandangannya mengedar untuk meneliti keberadaannya saat ini.
"Mas Dika... Papa!" ucap Alisa yang kemudian kembali menangis.
"St st st... jangan menangis lagi!" ucap Dika dengan memeluk Alisa dan diikuti kernyitan dahi Anggara yang meminta penjelasan, tapi tidak dipedulikan oleh Dika.
"Ayo, sebaiknya kita bawa ke ruang dr. Obgyn, biar aku antar!" ucap Anggara.
Dika kembali menggendong Alisa menuju ruangan obgyn yang diantarkan oleh Anggara. Semua menatapnya, saat mereka menyela antrian.
"Kalo begitu aku akan kembali keruanganku dulu!" Anggara kemudian keluar dari ruangan dr. Astrid yang akan memeriksa Alisa.
Di bantu dengan asistennya, dr. Astrid bersiap siap untuk melakukan usg.
Senyumnya mengembang saat melihat monitor di depannya.
"Maksut anda saya hamil, dok?" lirih Alisa dengan meragu.
"Iya, ibu...lihat ini calon bayinya." dr. Astrid kemudian menunjukan satu titik di dalam monitor.
"Benarkah, Dok?" sela Dika yang dari tadi memperhatikan pemeriksaan itu.
Dika menghampiri Alisa dan membantunya bangkit dan berjalan. Sementara dokter Astrid menuliskan beberapa resep vitamin.
"Ini janinnya sehat, perkiraan empat mingguan,tapi ibu Alisa juga harus menjaga kondisi tubuhnya, ya!" Rasa bahagia tidak bisa dipungkiri dari wajah Dika. Sedari tadi lelaki itu menggenggam erat jari jari mungil istrinya.
Alisa merebahkan tubuhnya di sofa, malam gelap yang berhias bintang membuatnya ingin menghabiskan waktunya di balkon appartemen. Meski rasa bahagia kini menyelimutinya tapi kehilangan seorang papa menyisakan kesedihan yang mendalam.
"Al ..." ucap Dika saat melihat Alisa melamun. Alisa beranjak duduk saat Dika menghampirinya dan kemudian duduk di dekatnya.
"Mas Dika...kenapa Tuhan mengambil semua yang aku sayangi? Aku sekarang tidak punya siapa siapa lagi!"matanya kembali berkabut membuat sudut mata sipit itu kembali berair.
"Sayang, semua milik Tuhan. Dan Tuhan berhak mengambilnya kembali. Lagian aku yakin Papa Han lebih bahagia di sana. Mungkin papa akan bertemu Mama Meylin, wanita yang sangat dia cintai." Mendengar ucapan Dika Alisa kembali teringat rasa bersalah yang selalu menghantui papanya. Ya, mungkin saja papa akan lebih bahagia di sana.
"Al, iklaskan Papa. Sekarang ada malaikat kecil yang dititipkan Tuhan pada kita ... kamu tidak akan sendiri, Al. Kita akan menua bersama!" ucap Dika yang kemudian memeluk dan mendekap tubuh kecil istrinya.
"Sebaiknya kita masuk. Angin malam tidak baik untukmu." ucap Dika yang kemudian menggendong Alisa menuju ke kamar.
"Mas, aku bisa jalan sendiri." protes Alisa. Tapi, tak dihiraukan Dika. Lelaki itu merebahkan tubuh Alisa di ranjang dan kemudian ikut berbaring di sebelah istrinya.
"Sayang... aku sangat merindukanmu!" ucap Dika yang menelusupkan wajahnya diceruk istrinya.
"Mas, sejak kapan kamu mencintaiku?" selidik Alisa mempertanyakan pernyataan Dika tempo hari.
"Tepatnya tidak tau sayang..." jawaban singkat Dika sekenanya membuat Alisa menggeser tubunya.
"Kamu bohong ya!" cetus Alisa membuat Dika yang menghentikan ke asyikannya di ceruk leher istrinya.
"Sayang ..."desah Dika menatap Alisa yang kini memasang wajah cemberut.
"Al ... mana bisa aku menentukan tepatnya. Mungkin sudah lama, Al! Dulu saat resepsi pernikahannya Arsen dan Ajeng aku suka melihat wajah cantikmu! Atau pas kena racun ubur ubur ya? Kamu sendiri juga nggak bakal tau kan? Kapan kamu jatuh cinta?"
"Aku cantik ya, Mas?" sela Alisa membuat Dika tersenyum miring.
"Astaga, Al! Kenapa pertanyaanmu kayak anak kecil, sih?" sergah Dika yang kebingungan menjawab.
"Nggak cantik, ya?" Pertanyaan retoris Alisa membuat Dika mendesah. Oh tuhan, Dika merasa istrinya menjadi kekanakan begini.
Melihat Alisa yang kemudian memunggunginya membuat Dika tersadar, jika menghadapi bumil itu harus serba sabar dan serba ngalah.
"Sayang... kamu wanita tercantik di dunia ini!" jawab Dika yang kemudian mengeratkan lengannya di perut Alisa yang masih datar.
"Nggak usah bohong,Mas!" sungguh saat ini semua tingkah Alisa membuat Dika memijit pelan kedua pelipisnya.
"Jangan merajuk, Al! Aku tidak pandai merayu. Yang pastinya aku mencintaimu!" ucap Dika kemudian kembali memulai aksinya menciumi wanita yang selalu di dambanya dan memeluknya dengan hangat.
"Ingat pesan Dokter ya, Mas! Jangan terlalu sering."
"Astaga... Al! Kan, udah lama kita nggak melakukannya gara gara marahnya kelamaan." Kali ini tanpa menunggu persetujuan Alisa, Dika melancarkan aksinya. Membuat wanitanya itu harus menyerah karena serangannya yang sudah di tahan dari kemarin.
bersambung....