
Alisa's Pov
Aku merindukanmu, Pa. Tapi saat ini merindukanmu tidaklah cukup. Papa adalah figur terbaikku meski beberapa tahun figur itu tenggelam dalam ke marahan dan ketidak mengertianku. Ternyata aku tidak cukup bijak menjadi seorang anak untuk bisa memahami perasaan sayang Papa. Tapi, aku akan belajar menjadi istri yang bijak dan solehah, agar Allah bisa mengalirkan pahala itu untukmu, Pa. Aku ingin jadi putrimu yang kuat, tidak ingin berkutat dalam kesedihan dan ketidak ikhlasanku karena aku akan menjadi seorang ibu, dan sudah seharusnya aku yang akan menguatkan anak anakku
kelak. Oh ya, seharusnya Papa akan menjadi seorang grandpa, aku bisa membayangkan betapa bahagianya papa seandainya mengetahuinya.
Alisa mengusap sudut matanya yang sudah berair. Tidak ingin larut dalam kesedihan seperti halnya saat dia kehilangan Mama Meylin. Perempuan itu masih berdiri di dekat jendela dengan pandangan menerawang, menembus temeramnya lampu taman.
"Al..." panggil Dika saat mendapati istrinya yang sedang mematung di dekat jendela.
"Kenapa jendelanya nggak ditutup, Al?" lanjut Dika yang kemudian berjalan menghampiri Alisa dengan satu tanganya menutup jendela.
"Alisa Oria Norah ... apa yang sedang kamu pikirkan? Apa kau masih memikirkan perkataan Reni? " kata kata yang terdengar tajam dan begitu dalam di telinga Alisa. Kedua telapak tangannya membingkai wajah mungil itu, matanya menatap tajam manik mata hitam yang memancarkan kegelisahan.
"Yah, begitulah resiko saat harus berdampingan dengan center of universe! Menerima segala perlakuan adalah pilihan yang terbaik." ucap Alisa dengan memutar bola matanya dan menggembungkan pipinya. Berusaha terlihat baik baik saja di depan suaminya.
"Ayuk... tidur!" ucap Dika membawa Alisa ke tempat tidur. Lelaki itu sebenarnya ingin mengatakan banyak hal tentang pekerjaannya, tapi melihat Alisa yang murung membuat Dika mengurungkan niatnya.
Alisa merebahkan tubuhnya di samping Dika dengan kepala bertumpu pada satu lengan berotot itu.
"Semua seperti mimpi, Papa telah pergi! sekarang mereka meninggalkanku." cetus Alisa dengan menelusupkan wajah di dada bidang suaminya. Menyembunyikan matanya yang sudah berkaca kaca.
"Al, berusahalah untuk ikhlas. Ada seseorang yang harus kamu jaga saat ini! Dia..." lirih Dika dengan mengelus perut datar Alisa dan mencium puncak kepala istrinya.
"Al ..." lirih Dika.
"Hmmm ..." gumamnya masih dengan menempelkan wajahnya di dada bergelombang milik Dika.
"Jika... suatu saat aku tidak ada di dekatmu, jadilah wanita hebatku memberikan banyak cinta untuk buah hati kita." Mendengar kalimat Dika membuat wanita bermata sipit itu menengadah menatap mata sayu yang saat ini menunduk memperhatikannya.
"Emang mau kemana?... Jangan meninggalkanku, aku tidak akan memaafkanmu jika Mas Dika meninggalkanku!"
"Ayo tidurlah...!" Dika memberikan ciuman penuh cinta di kening putih milik istrinya.
###
Dika menatap lekat wanitanya yang masih bergelung selimut tebal. Wajah polosnya, bibir tipis yang selalu tersenyum lembut, pipi yang saat ini terlihat sedikit lebih mengembang. Wajah cantik yang selalu membuatnya memuja dan hati lembut yang semakin membuatnya jatuh cinta.
" Aku semakin mencintaimu, Alisaku." Dika bermonolog dengan perasaannya sendiri.
"Al, Bangun!" Dika menepuk-nepuk bahu kecil yang masih bergelung selimut.
"Ayo ...bangun!" Dika kemudian mencubit hidung perempuan yang sedang mengerjapkan matanya.
"Aduh...sakit!"
"Makanya cepat bangun. Sudah jam lima!" ucapnya dengan mengancingkan lengan kemejanya.
"Mas Dika, kok udah rapi?"
"Iya, aku berangkat jam enam." Alisa menarik lengan kokoh itu dan menyandarkan kepalanya sejenak mengumpulkan kesadaran di lengan kokoh suaminya.
"Waktu subuhnya keburu habis, Al." Mendengar ucapan Dika, Alisa kemudian beranjak ke kamar mandi.
Dika mengumpulkan barang-barang yang akan dia bawa. Macbook yang sudah seperti soulmatenya, pisau lipat dan sebuah senjata api yang sedang di masukkan kesarungnya.
"Al... kemarilah!" panggil Dika saat melirik istrinya selesai salam. Alisa pun mendekat menghampiri suaminya yang terlihat sibuk.
Saat melihat istrinya masih memakai mukena, sejenak Dika membisu menikmati pahatan indah Sang kuasa yang sudah di berikan Tuhan padanya.
"Kamu cantik, Al!" lirihnya tanpa mengalihkan pandangan ke arah istrinya.
"Tumben, hehehe." jawab Alisa dengan wajah merona. Tidak biasanya suaminya memujinya bahkan tatapannya sangat lekat ke arahnya.
"Cuma bilang itu, Mas?" imbuh Alisa dengan heran.
"Apa, Mas." jawab Alisa mendekat. Mereka berdiri dengan jarak yang sangat tipis.
"Aku hanya ingin memelukmu, sayang!" Dika kembali mencium kening istrinya kemudian memangkas jarak diantara mereka dengan memeluknya begitu erat.
"Alisaku ... jika sudah jam tidur, istirahatlah lebih dulu! Jangan menungguku!" kemudian Dika meregangkan pelukannya.
"Awas..kalo tidak pulang!" Alisa mengepalkan tinju ke arah Dika dan membuat lelaki beralis tebal itu terkekeh.
"Ayo buatkan aku kopi hitam, aku merindukan kopimu! Jangan manja Dika junior, jangan biarkan Mamamu jadi pemalas." ujar Dika dengan mengelus perut istrinya.
Alisa membuka mukena dan melipatnya. Perempuan itu mengapit lengan kokoh yang saat ini berjalan ke keluar kamar. Masih dengan bergelayut manja di lengan suaminya Alisa melihat Mama Lucy sudah beraksi di dapur.
"Ma ... " panggil Alisa yang membuat Lucy tau jika menantunya merasa sungkan.
"Udah Al, lagian Mama masih bisa mengatasinya. Pokoknya kamu lakukan saja yang kamu mau. Dan cucu Mama harus bahagia!" ucap Lucy sambil tersenyum ke arah menantunya.
"Makasih, Ma. Mama the best, deh." rayu Alisa dengan memeluk wanita paruh baya itu.
"Cincinmu bagus, Al. Cocok di jari kamu."
"Dari anak Mama, udah lama sih, cuma baru Al pake." jelas Alisa dengan mulai merebus air untuk membuat kopi.
"Tumben itu anak, romantis!"
" Pas lagi kesambet mungkin, Ma."
"Al, cepat! Jangan pake gosip di dapur!" teriak Dika saat mendengar obrolan kedua wanita yang sangat berharga di hidupnya.
Alisa berjalan dengan membawa secangkir kopi, sedang mamanya meletakkan soup dan ayam bumbu pedas di meja.
"Dik, tumben pagi pagi sekali perginya?" tanya Mama lucy saat melihat anaknya sudah rapi.
"Iya Ma, ikut ke lokasi!" jawabnya masih menatap layar ponselnya.
Alisa menyiapkan sarapan di piring untuk suaminya. Perempuan itu meletakkan piring yang sudah penuh nasi dan lauknya di depan Dika, kemudian memilih duduk di dekat lelaki yang tak bergeming dengan ponselnya.
"Kalo kamu bosan, ikut mama ke toko saja."
"Iya, Mas." jawab Alisa dengan melihat Dika meyelesaikan sarapannya.
"Jangan lupa makan, Al!" ucap Dika saat Alisa menyium punggung suaminya ketika mengantarnya sampai di garasi.
"Hati hati, Mas!"teriak Alisa saat Dika menyalakan mobilnya dan kemudian menghilang dari hadapannya.
###
Alisa masih terlihat duduk dengan tidak tenang di ruang tengah, sesekali dia menatap pintu utama berharap suaminya pulang.
"Al, istirahatlah udah hampir jam dua belas malam." ucap Mama Lucy mendapati Alisa yang duduk dengan cemas saat beliau keluar dari kamar.
"Terkadang Dika memang telat, tapi kadang malah tidak pulang!" jelas Lucy menghampiri Alisa.
"Istirahatlah!" Alisa pun beranjak berjalan menuju ke kamar.
Di kamar dia kembali melirik jam yang menggantung di dinding, sudah pukul dua belas lebih tapi suaminya belum pulang, perempuan itu kembali berjalan mondar mandir dengan gelisah.
"Mas Dika, kamu di mana? gumamnya dalam hati dengan mata berkaca kaca. Rasa cemas dan khawatir membuatnya terlihat kalut saat menanti kedatangan lelaki yang seharusnya menghabiskan waktu bersamanya.
Bersambung ...
Jangan lupa mampir di Rahasia Cinta Zoya, Mas Hans sudah mulai bucin sebucin bucinnya lo.... atau jangan lupa mampir di Merindukan Jingga ya..... Kisah cinta yang sedikit lebay hehehehe