
Dika menggendong Alisa keluar dari kamar mandi. Sebelum berangkat kerja, Dika masih mengganti perban elastis dan memakaikanya dengan yang baru, meskipun hari ini Alisa mulai belajar berjalan.
Alisa pelan pelan melangkahkan kalinya keluar kamar. Memang sudah tidak sakit, sih. Tapi Dika masih meminta Alisa untuk hati hati.
"Al, kamu aku tinggal kerja nggak apa apa? Aku usahakan pulang cepet!" tanya Dika Saat berada di meja makan.
"Nggak apa-apa, Mas. Aku sudah baik baik saja."
Dika rasanya tidak tega meninggalkan Alisa sendirian, tapi Nungky memang sudah pulang ke kos karena tugas kuliah yang menumpuk.
###
Hari ini acara syukuran tiga bulan kehamilan Ajeng. Alisa mempersiapkan bajunya Dika yang akan di pake ke acara syukuran calon babynya Arsen dan Ajeng. Hari ini Dika harus menyelesaikan banyak urusan di kantor dan Alisa sendiri punya janji dengan dosen pembimbing, membuat mereka harus berangkat sendiri-sendiri. Alisa menggantung kemeja biru muda yang dilengkapi dengan blazer biru navy untuk ganti Dika saat akan menghadiri acara.
"Al, apa nggak terlalu formal itu?" tanya Dika saat melihat kemeja dan blazer yang di siapkan Alisa untuk digantungin di mobil sebagai prepare acara nanti malam.
"Nggaklah, Mas. Lagian ini blazer, bukan jas kerja lo! Terus di padunya juga dengan celana jeans." jelas Alisa penuh antusias.
"Iya ya..." ucap Dika sambil mengacak rambut Alisa.
"Kamu dandannya nggak usah cantik cantik!"
"Hah... kenapa?"
"Yang datang mesti banyak cowoknya, Al."
"Terus kenapa?"
"Ahhh....sudahlah! Aku berangkat dulu..." pamit Dika yang di sambut salim oleh Alisa.
Guratan jingga yang menggantung di langit membuat senja semakin menawan. Alisa memarkir mobilnya di depan Kos Anyelir, setelah bimbingan Thesis, Alisa sengaja menghampiri Nungky untuk berangkat bersama di acaranya Ajeng.
Alisa menenteng paper bag yang isinya untuk persiapan ke acara nanti. Alisa membuka kamar Nungky yang tidak terkunci, dilihatnya adik iparnya masih geluntungan di atas ranjang dengan ponsel di tangannya.
"Masuk, mbak Al!" ucap Nungky saat melihat kehadiran Alisa di kamarnya.
"Kamu belum persiapan, Dek?" tanya Alisa dengan melirik jam yang ada di pergelangan tangannya.
"Bentar lagi, aku mandi terus solat magrib, dan kita cuz otewe!" ucap Nungky yang kemudian menaruh ponselnya dan beranjak ke kamar mandi.
Mazda putih itu belok di sebuah rumah besar bergaya mediteran. Terlihat suasana yang sudah sangat ramai. Mereka berdua turun dari mobil dan berjalan menuju ke dalam.
"Kayaknya kita telat, nih!" ucap Nungky saat berdiri di dekat Alisa. Acara doa doa dan ritual jawa memang dilakukaan saat sore. Habis magrib hanya acara santai untuk mengumpulkan teman dan sanak saudara.
Mereka berdua mencari keberadaan Ajeng diantara ramai tamu yang hadir, beberapa mata pun menatap mereka secara bersamaan membuat Alisa dan Nungky sedikit grogi.
"Mbak, tuh Bang Dika di sana!" ucap Nungky yang menunjuk Dika dengan isyarat saja.
"Biarkan sajalah, kalo dia nganggep kita, ya disamperin pastinya, kecuali dia lebih asyik dengan teman temannya." ucap Alisa sedikit kesal karena Dika hanya melihatnya dari kejauhan. Apalagi diantara gerombolan itu ada Najwa, rasanya hatinya bertambah mecokol.
Alisa menarik tangan Nungky saat melihat keberadaan Ajeng. Mereka menghampiri Ajeng yang sedang duduk di kelilingi keluarga besarnya.
"Selamat ya ...semoga sehat dan selamat sampe lahiran." ucap Alisa dengan mengulurkan tangannya yang disambut oleh Ajeng.
"Heh,,, bentar lagi jadi emak emak lo. Semoga sehat selalu ya!" Nungky kemudian memeluk Ajeng.
"Ayo dinikmati hidangannya...aku mau ke atas dulu, ya! Pusing rasanya kepalaku." ucap Ajeng yang kemudian di tuntun oleh ibunya yang di ikuti Arsen.
"Dek, ayo nyari tenpat duduk dulu! Kayaknya kepalaku ikutan pusing juga nih. Sepertinya asam lambungku naik." ucap Alisa yang kemudian mengedarkan pandangannya mencari tempat yang lebih senggang untuk duduk. Alisa menarik tangan Nungky di sekitar bawah tangga.
"Mbak Al, kamu keliatan pucat!" ucap Nungky saat menatap wajah Alisa dengan seksama.
"Tadi, aku udah pake make upnya lumayan lo!" jawab Alisa.
"Jangan Dek, nanti bisa mutah aku." ucap Alisa sambil bersandar di dinding.
Diantara pesta yang ada, hanya Alisa dan Nungky yang nampak tidak nyaman. Alisa menyerahkan kunci mobilnya pada Nungky karena dia merasa tak kuat jika harus menyetir sendiri.
Semakin malam suasana malah bertambah ramai bahkan beberapa tamu undangan mulai menyumbang lagu satu persatu.
"Dek, aku akan menemui mas Dika dulu!" Ujar Alisa saat melihat Dika berada di halaman belakang bersama teman temannya.
Alisa berjalan menghampiri Dika. Dia menarik Dika untuk mengambil jarak dengan teman yang lainnya.
"Mas, kita pulang yuk! Rasanya aku nggak enak badan ini!" bujuk Alisa.
"Sebentar lagi, Al! Aku nggak enak sama teman temanku. Tidak setiap tahun kita bisa kumpul kayak gini!" kilah Dika masih memberi Alasan.
"Ya Sudah, aku nemenin Nungky dulu!" Alasan menemani Nungky membuat Alisa meninggalkan Dika.
Suara riuh terdengar, mereka bersorak penuh gembira. Bahkan, orang-orang yang bergerombol membuat kepala Alisa terasa berputar.
"Gimana?" tanya Nungky.
"Bentar lagi katanya." Alisa kembali duduk di dekat Nungky. Beberapa kali matanya melihat Dika berharap suaminya mau mengabulkan permintaannya untuk pulang lebih awal.
"Mbak, aku cari makan Dulu ya? Beneran, Mbak Al nggak mau diambilin?" Nungky kembali meyakinkan Alisa, tapi hanya di jawab Alisa dengan gelengan.
Sesekali Alisa mengerjapkan matanya untuk menormalkan pandangannya yang mulai berputar putar. Keringat dingin pun mulai keluar, dia kembali melirik Dika. Dan ternyata suaminya sedang berjalan menjauh dari teman geng sekolahnya jaman dulu.
Alisa mulai beranjak dari duduknya berharap bisa membujuk Dika lagi.
"Bang Dika, sudah makan? Mau aku ambilkan ?" Melihat Najwa menyapa suaminya membuat Alisa menghentikan langkahnya. Alisa mengatur nafasnya yang sudah menderu. Ada amarah yang membuncah di dadanya.
"Nanti saja, Na. Aku sedang mencari Arsen!"
"Oh, kelihatannya dia berada di atas, mengantar istrinya istirahat. Oh ya, sekarang selera style Abang udah berubah ya!" ucap Najwa yang di balas senyum oleh Dika, membuat amarah Alisa semakin meledak. Alisa kemudian melangkah menghampiri Dika.
"Oh, ini alasannya? Selamat bernostalgia dengan kekasih lamamu!" Ketus Alisa membuat Dika terhenyak kaget.
Alisa berlari membelah keramaian pesta. Isak tangisnya pun tak bisa ditahan meski beberapa orang menatapnya. Tubuh ringkih itu menahan keseimbangan untuk bisa bertahan meski kepalanya sudah berdenyut.
"Al..." panggil Dika mengejar Alisa yang sudah ada di pinggir jalan.
"Al...kebiasaan kamu ini, bikin malu! Kamu senang jadi tontonan? Jangan keterlaluan kamu." amuk Dika saat menahan lengan Alisa.
"Kamu bilang aku keterlaluan?" ucap Alisa dengan tatapan menghunus tajam ke arah Dika.
"Alisa... maafkan Aku! Aku tidak tau duduk permasalahan ini." sela Najwa yang tiba tiba hadir diantar percekcokan suami istri itu.
"Kamu pengen tau? Aku istrinya mantan kekasihmu yang masih mencintaimu! Tapi ...bersyukurlah hubungan kami cuma rekaya. Jadi kamu boleh mengambilnya. Silahkan!"
Plaaaakkk.....
Dika mendaratkan tamparan di pipi Alisa. Setelah menampar Alisa, tubuhnya kini yang melemas, ditatapnya tangan yang sudah melayangkan tamparan pada pipi putih itu dengan penuh penyesalan.
Sementara, dengan air mata yang terus mengalir Alisa memundurkan beberapa langkah dari kedua orang di depannya.
"Bagus!" teriak Alisa dengan ledakan tangisnya. Perempuan itu mendorong tubuh kekar yang tak bertenaga itu hingga terhuyun ke belakang.
Alisa berlari ...menghentikan sebuah taxi dan kemudian masuk di dalamnya. Tangisnya pecah di dalam taxi, perempuan itu meraung ingin menumpahkan semua rasa sakitnya yang menyeruak di dalam dadanya.
Bersambung.