My Husband My Hero

My Husband My Hero
29. Surat Cinta Di Wallpaper



Entah sudah berapa rokok yang telah Dika sesap, hingga abunya seakan memenuhi asbak. Biasanya, Alisa akan mengomel untuk meminta dirinya mengurangi rokok. Ingatannya kini tertuju pada senyum manis wanita yang sekarang menjauh darinya.


"Maafkan aku, Al!" lirihnya dengan mata berkaca kaca saat mengingat jika dia sudah menampar Alisa.


Dika kembali menggeser crusor Macbooknya. Menatap beberapa foto Alisa saat tersenyum manis yang sengaja dia koleksi.


"Aku mencintaimu, Al. Jika kau tak bisa memaafkanku, aku mohon jangan meninggalkanku!" gumamnya saat melihat foto Alisa yang tersenyum dengan mata sipit yang menutupi manik mata hitamnya.


"Astaga... Abang!" teriak Nungky saat melihat apparteman abangnya yang kacau. Bahkan, dia sedikit terheran saat melihat abangnya duduk di ruang tengah pada hari kerja.


"Abang, nggak kerja?" tanya Nungky sedikit ketus saat melihat kondisi abangnya yang memprihatinkan.


"Ambil cuti!" jawab Dika masih menatap foto foto Alisa di Macbooknya.


"Bang, tak kasih tau ya! Mertahanin wanita itu nggak cuma melihat fotonya. Nggak cuma berdiam diri dengan menghabiskan ratusan gelintir rokok." ucap Nungky jengkel, saat melihat kekacuan dalam diri abangnya.


"Dandanlah yang ganteng, temui dia, tebus kesalahanmu. Kamu kira, wanita itu cenayan bisa membaca hatimu dari jauh!" saran Nungky.


"Katanya IQ 163 giliran ditinggal istri aja, melempem! Ternyata cinta itu bisa membodohkan seseorang, ya?" cebik Nungky dengan melirik abangnya menatap foto istrinya.


"Bang, ambilkan laptopnya Mbak Al! Dia yang memintaku mengambilnya." lanjut Nungky yang memang tujuan utamanya nenggambil laptop.


Dengan malas Dika beranjak dari duduknya dan pergi ke kamar untuk mengambil laptop Alisa.


"Ky, apa kamu nggak bisa bantu abang membujuk Alisa?" pinta Dika dengan menyerahkan laptop Alisa.


"Nggak bisa Bang, itu bukan ranahku. Lagian, aku saja marah melihat sikap abang yang keterlaluan. Apalagi jika aku jadi, Mbak Al." Kali ini semua memojokannya, belum lagi jika sudah bertemu Mama Lucy.


"Berdoalah, Bang! Seorang malaikat datang untuk menyelamatkan hubungan kalian. Mbak Al. Sudah bertekad meminta cerai, bahkan dia sudah mengatakan niatnya pada mama!"


"Apa ? Mama?" Dika terhenyak kaget.


"Iya mama, nanti malam mama akan menginap di appartemen Mbak Al. Ah sudahlah, Bang. Aku kuliah dulu!" ucap Nungky yang kemudian pergi meninggalkannya abangnya.


Dika memikirkan kembali apa yang di katakan adiknya. Memang benar semua harus di perjuangkan tidak hanya di ratapi. Jika memang bukan jodoh itu urusan Tuhan.


###


Mama Lucy menyisir rambut Alisa dengan telaten, beliau membelah belah rambut Alisa untuk diberinya vitamin.


"Mam, Apa Mama akan menyayangiku terus seperti ini, apapun itu yang terjadi?" tanya Alisa yang duduk di carpet. Sementar, Lucy duduk di sofa, mereka menikmati waktu bersama di depan TV.


"Tentu saja, Al. Kamu anak perempuan Mama. Tapi, Mama harap kamu memikirkannya lagi, Al." jawab Lucy yang benar benar sudah menyayangi Alisa seperti anaknya sendiri. Jika harus jujur, dia berharap Alisa tidak melakukan apa yang sudah dia pikirkan.


Lucy menghentikan kegiatannya sementara Alisa dengan malas beranjak dari duduknya karena bel yang terus dipencet dengan tidak sabar.


"Al... " suara bariton itu membuat Alisa spontan akan menutup kembali pintunya, tapi tangan kekar Dika dengan gesit lebih dulu menahannya.


Tanpa dipersilahkan masuk, Dika mengekori Alisa.


"Al ... Maafkan aku!" ucapnya dengan menarik pelan lengan Alisa. Membuat perempuan itu dengan sigap memberontak.


"Al, aku mohon. Jangan menjauh dariku!" pintanya dengan tatapan memohon.


"Bang ... pulanglah! Biarkan Alisa sendiri dulu." suara syakral itu membuat Dika terbungkam. Lucy berjalan menghampirinya dan memintanya pergi.


"Tapi..., Ma. Al, aku merindukanmu!" teriak Dika saat Mama Lucy mendorongnya keluar. Alisa meneteskan air mata, rasa hatinya yang campur aduk membuatnya lebih sensitive.


Setelah Lucy membuat Dika keluar, wanita setengah baya itu menutup kembali pintunya.


Lucy mencari Alisa yang sudah berada di kamar. Akhir akhir ini perasaan Alisa memang lebih sensitive dari biasanya. Melihat Alisa yang meringkuk di bawah selimut, membuat lucy mendekatinya dan duduk di tepi ranjang dengan mengelus pundak Alisa.


"Aku tidak bisa memaafkannya, Ma!" jawab Alisa kemudian.


"Mama tau. Tapi, pikirkan lagi keputusanmu itu. Kamu boleh mengambil keputusan yang menurutmu baik dengan pikiran tenang."


Lelaki yang selalu terlihat dengan pesona cool dan wajah tegasnya kini tubuhnya meluruh seperti tak bertenaga di depan unit apparteman Alisa. Matanya menatap pintu itu berharap Alisa akan memintanya masuk.


"Al, bagaimana aku harus memohon!" gumamnya dengan mengusap wajahnya. Gila, mungkin saat ini dia terlihat gila bagi orang yang sedang melewatinya. Tapi sungguh ketakutan akan Alisa yang meminta cerai membuatnya berhenti bersikap waras.


Dika melewatkan beberapa jam dengan duduk di depan appartemen Alisa hingga dari kejauhan nampak Nungky berjalan ke arahnya.


"Loh. Bang... ngapain duduk di lantai?" ejek nungky yang sebenarnya tau jika kakak iparnya telah mengusirnya. Dika tidak menjawab. Dia hanya melihat Nungky memencet bel berharap dia bisa melihat wajah Alisa kembali.


Benar saja, Alisa membukakan pintu untuk Nungky. Sesaat, pandangan mata mereka saling tertaut sebelum Alisa menutup kembali pintunya.


Rasanya hatinya sedih, saat melihat Dika yamg terlihat kacau. Dia tak melihat lagi figure Dika yang biasanya. Tapi, sungguh rasanya sulit sekali memaafkannya. Jika hanya sakit fisik, mungkin akan lebih mudah. Tapi, di sini hatinya yang sakit, ditampar di depan Najwa. Wanita yang jelas jelas menaruh perasaan pada suaminya.


"Dek, laptopnya dapet?"


"Iya mbak." jawab Nungky dengan menyerahkan laptop di tangannya kepada Alisa.


"Bang Dika parah, appartemenya kayak kandang bebek, Ma. Kerjaannya cuma liatin foto Mbak Al di macbooknya." celoteh Nungky membuat Alisa diam diam merasa sedih.


"Al. Mama bikin puding buah. Kamu mau?" Lucy mengalihkan pembicaraan saat melihat Alisa nampak sedih.


"Iya, Ma sepertinya lezat." Alisa membawa laptopnya ke meja makan. Sementara, Lucy masih menatapnya heran. Kenapa semua makanan kesukaannya Dika membuatnya bersemangat.


"Al, besok Mama pulang! Kamu nggak apa apa ditinggal?"


"Nggak apa, Ma . Al. udah biasa." ucap Alisa sambil menyuap puding buahnya dengan lahap.


"Al, mama ke kamar dulu nanti kalo nggak habis taruh di kulkas lagi." pesan Lucy yang kemudian berjalan menuju ke kamar.


Sambil menyendok makanannya Alisa membuka laptop dan akan menghidupkannya. Alisa menaruh pudingnya saat melihat fotonya di pinggir pantai ketika resepsi pernikahan Ajeng menjadi wallpapernya.


Dear: istriku


Sebelum mengatakan banyak hal aku ingin mengatakan.


'Aku mencintaimu'


'Aku merindukanmu'


Aku sengaja menulisnya karena untuk mengungkapkannya langsung mungkin aku akan kesulitan.


Istriku...


Maafkan aku, kamu berhak marah dan membenciku tapi aku akan tetep memohon itu.


Istriku


Aku tau, tidak mudah memaafkan kesalahanku. Tapi, aku mohon jangan meninggalkanku! Mungkin, kamu bisa hidup tanpaku. Tapi, aku tidak bisa!


Sekali lagi maafkan aku


Suami yang selalu menyakitimu


Bersambung...


Jangan lupa tinggalkan jejak ya