
Melihat Alisa menghilang dari pandangannya, kini Dika baru tersadar dan kemudian berlari menuju mobilnya untuk menyusul Alisa. Tak ada niat sedikit pun untuk menyakiti istrinya. Dika meraup wajahnya kasar dan memukul setir di depannya untuk meluapkan segala rasa bersalah.
Mobilnya kini hanya di pinggirkan di tepi jalan. Lelaki itu kemudian berlari melewati loby menuju lift yang akan membawanya ke lantai appartemennya. Baru kali ini dia tak bisa mengendalikan perasaannya. Ada rasa bersalah, takut dan perasaan sedih yamg menyeruak menjadi satu.
Dika masuk ke dalam appartemen, saat melihat pintu kamar terbuka dia segera berjalan ke sana. Pandangannya memberi makna tak percaya, saat Alisa melempar banyak pakaianya ke dalam koper yang terbuka di atas ranjang.
"Al ..." lirihnya mendekati Alisa dengan rasa tak percaya.
"Apa ini, Al?" tanyanya untuk kembali meyakinkan apa yang dia lihat. Sedangkan Alisa hanya diam dan masih sibuk membenahi barangnya ke dalam koper.
"Apa yang kamu lakukan, Al?" lanjutnya dengan menarik tubuh Alisa untuk menghadapnya.
"Lepaskan, aku!" ucap Alisa dengan nada tajam. Wajahnya kini sudah basah dengan air mata.
"Al..." Dika ingin menyentuh pipi yang memerah karena tamparannya. Tapi tangannya seperti tak kuasa, bahkan Alisa dengan gesitnya menepis tangan itu.
"Maafkan aku, Al! Aku salah, aku tak biasa menguasai emosiku." pinta Dika dengan suara yang tercekat. Rasa bersalahnya semakin dalam saat melihat pipi Alisa yang masih memerah.
"Lepaskan, Aku! Kita akhiri saja semua rekayasa ini. Biarlah semua berjalan apa adanya." ucap Alisa penuh penekanan dan air mata yang terus mengalir.
"Jangan pergi, Al! Aku mencintaimu."
ucap Dika dengan menekuk lututnya di lantai dan memeluk pinggang Alisa.
"Jangan membohongiku! Jika hanya untuk menahanku." Alisa mencoba melepaskan pelukan itu dan berjalan menuju lemari untuk mengambil sebuah kotak dan membuangnya di dekat Dika.
Bruuuggghhh...
"Inilah kenyaataannya!" Alisa menunjuk ceceran gelang, foto dan surat untuk Najwa. Dika terbungkam menatapnya. Dia tak tahu apa yang meski di lakukannya. Kesalahan, semua mengarah kepadanya meski dia tak bermaksud menyimpannya lagi.
"Kamu tidak hanya menyakiti fisikku, kamu juga melukai hatiku, mempermalukanku dan aku ingin kita bercerai!" Kata kata terakhir Alisa membuat Dika sedikit limbung. Alisa menyeret kopernya meninggalkan laki laki yang masih mematung. Dadanya terasa sesak. Bahkan dari tadi dia tak bisa menahan air matanya meski hanya sesaat. Dengan jalan tertatih perempuan itu keluar dari appartemem dan mencari taxi di depan.
Dika meraup dan mencengkeram semua isi dalam kotak itu. Bahkan, kini dia melempar semuanya ke segala Arah. Matanya berair, Ini salahnya, ini memang salahnya!.
"Aaaaaaargggghhhhh..." teriakan Dika memenuhi ruangan.
"Bang, ini apa? Kenapa jadi berantakan?" tanya Nungky yang berdiri di tengah pintu kamar abangnya dengan bingung saat semuanya terlihat kacau.
Nungky hanya melihat abangnya duduk di lantai tersandar pada ranjang. Nampak sesekali Dika mengusap sudut matanya yang berair.
"Alisa pergi... dan itu salahku!" lirih Dika dengan menatap ke sembarang.
Nungky terhenyak kaget menatapnya. Tapi, menanyai abangnya bukanlah hal yang tepat.
"Bang, aku tidur di sini. Kalo butuh apa apa bilang saja." Nungky memilih keluar kamar dan meninggalkan abangnya sendiri. Baru kali ini, dia melihat abangnya tidak bisa mengendalikan diri.
###
Alisa terus menyeret kopernya menuju appartement lamanya, yang ditempatinya sebelum dia menikah dengan Dika. Matanya masih sembab, banyak orang menatapnya aneh, tapi dia sudah tak peduli apa pun, hatinya masih terasa sakit saat mengingat kejadian di pinggir jalan itu.
Alisa membuka pintu kamarnya, saat ini yang dia tuju memang tempat tidur, kepalanya yang berdenyut pusing sudah ditahannya dari tadi.
Alisa's Pov
Jika rasanya sesakit ini, lebih baik aku tidak mengenalmu. Jika, semua akan hancur seperti ini sebaiknya aku tidak membangunnya. Harapan, aku selalu berharap menjadi cerita dan bagian terindah dalam hidupmu. Tapi, ternyata aku salah. Aku, tak bisa menggeser apapun di hatimu.
Mungkin ini tidak sepenuhnya salahmu karena aku yang sudah terlalu mencintaimu. Dan hal yang tepat saat ini adalah melepasmu.
###
Mendengar cerita dari Nungky, Mama Lucy langsung berangkat menuju kota XX untuk mengetahui keadaan anak anaknya. Nungky yang tidak tau cerita yang sebenarnya, kini sudah menjemputnya di stasiun dengan membawa mobil Alisa.
"Ky, kenapa kamu bawa mobilnya Al?" tanya Mama Lucy saat mereka masuk ke dalam mobil.
"Ceritanya panjang, Ma. Kemarin aku berangkat ke pesta bareng, Mbak Al. Terus nggak taunya aku sudah melihat mbak Al ditampar oleh Bang Dika. Di situ juga ada Mbak Najwa. Terus mbak Al nangis dan naik taxi. Waktu aku mau balikin mobil, ternyata Mbak Al udah pergi dari appartemen Bang Dika." jelas Nungky membuat Mama Lucy terdiam.
Mendengar anak laki lakinya menampar istrinya Mama Lucy dibuat geram olehnya. Bahkan, dia tak bisa berkomentar apa pun. Mendengarnya saja dia merasa kecewa, apalagi Alisa. Pikirannya tertuju pada perempuan yang sudah seperti anaknya sendiri itu.
Nungky memencet bel appartemen milik Alisa. Beberapa kali dia memencet bel, hingga akhirnya tubuh kurus pucat dengan rambut berantakan itu muncul di hadapan mereka.
"Mama..." Melihat Mama Lucy, Alisa langsung menghambur dipelukannya, menangis dengan sesenggukan seakan meluapkan rasa sedihnya.
"Masuk dulu, Al! Nggak enak dilihat orang." ucap Mama Lucy membawa Alisa masuk.
"Kamu pucat sekali? Sudah makan?" tanya Mama Lucy melihat Alisa yang lesu dan pucat.
"Nggak ada yang bisa masuk makanannya, Ma." Mama Lucy melirik meja Makan. Dan nemang ada makanan yang hampir tak tersentuh di sana.
"Kamu pengen makan apa?" tanya Lucy pada Alisa yang masih memeluknya.
"Rendang, tapi bikinan Mama!" Mendengarnya Lucy tersenyum karena kebetulan dia membawanya untuk oleh oleh.
Nungky yang dari tadi hanya menjadi pengamat tingkah polah kakak iparnya itu kemudian memamerkan paper bag yang dari tadi di tangannya.
"Kita kemeja makan!" ucap Mama Lucy.
Lucy membawa dua piring makanan bekas tapi tak tersentuh itu ke dapur. Dia pikir dari semalam Alisa memang tak bisa makan.
"Nasinya Mama memang sengaja bawa sedikit. Jadi, kalian bagi dua ya!" ujar Lucy sambil meletakkan dua piring dan sendok di meja makan.
"Mama?" tanya Alisa, saat melihat Lucy tidak ikit makan.
"Mama sudah makan tadi, Sudah tua nggak bisa makan karbohidrat terlalu banyak!"
Alisa makan dengan lahapnya, bahkan sempat membuat Nungky menatapnya aneh. Katanya Asam lambung kumat? Kenapa makan rendang begitu lahapnya. Setelah makan, Alisa mengambil satu cup cake red velvet dan mengesampingkan brownies coklat yang dulu selalu jadi rebutan antara dia dan kakak iparnya. Itu sempat membuat Nungky tak tahan untuk meledek.
"Sekarang benci banget sama Bang Dika. Tapi kenapa malah tertular kesukaan Bang Dika, Mbak Al?" Mendengar ucapan Nungky, Alisa melambankan kunyahannya. Mau berhenti, tapi kue itu terlalu enak di lidahnya.
"Kalo udah selesai beresin, Ky!" ucap Mama Lucy sedikit melotot ke arah bungsunya.
Bersambung....