
Alisa menghadang langkah Dika yang akan memasuki ruang gym dengan merentankan tangannya. Padahal lelaki itu sudah ingin sekali meregangkan ototnya setelah sekian lama beristirahat.
"Maksudnya apa ini, Al? Jangan cari gara-gara lagi." ucap Dika yang masih menerobos melewati tubuh kecil itu. Apa perubahan hormon bumil segitu drastisnya, hingga dia merasa istrinya menjadi childish sekali? Timbul banyak pertanyaan yang membuatnya berniat untuk googling.
"Nggak usah ngegym, Mas! " jawab Alisa masih menatap tajam wajah ganteng di depannya. Tangan kecilnya melingkar di pinggang keras Dika.
"Kenapa?" jawab Dika yang masih merasa heran dengan kelakuan istrinya.
"Kan, Mas Dika habis sakit!" alasan Alisa yang asal asalan.
"Ya ampun, Al.... gendong kamu saja aku masih bisa dan itu tidak masalah. Masak ngegym gk boleh?" bantah Dika dengan mengusap lembut bahu istrinya.
"Nggak boleh pokoknya!" Alisa masih saja ngotot.
"Kenapa? " desak Dika dengan menekan intonasi pada ucapannya. Lelaki itu malah dibuat penasaran dengan sikap istrinya.
"Nanti tambah seksi." lirih Alisa hampir tidak terdengar.
"Hahaahhaa astaga, Al ... Kamu kira suamimu artis?" Melihat tingkah istrinya membuat Dika tertawa keras.
"Ayolah, Al... sebentar doang. Dari pada aku ngegym di luar? Bareng cewek-cewek seksi? Gimana, hayoo?" goda Dika yang malah ingin memprovokasi istrinya.
"Berani???? " Alisa berkacak pinggang, masih merangkul tubuh keras itu, Alisa mendorong mundur Dika.
"Gk boleh, gk boleh! " rengek Alisa masih berusaha mendorong tubuh Dika.
"Eh-eh... Al, awas! Kalo aku jatuh bahaya." ucap Dika dengan terkekeh melihat kelakuan istrinya. Tapi Alisa masih tetap mendorong hingga Dika hampir kehilangan keseimbangan. Satu tangannya merangkul kuat tubuh istrinya dan yang satunya untuk menahan tubuhnya di dinding sebelum, kemudian dia menjatuhkan diri dan terduduk di sofa.
"Hati-hal Al, ada calon baby kita!" jelas Dika dengan melingkarkan kedua lengannya di punggung Alisa yang masih tengkurap di dadanya.
"Kamu kenapa, hemmm? " tanya Dika dengan menyentil hidung mungil istrinya saat wajah cantik itu menengadah menatap mata sayu yang selalu membuatnya jatuh cinta.
"Ayo cerita, bayi besarku! " bujuk Dika masih memeluk tubuh istrinya.
"Nanti di godain cewek seksi dan jadi fantasi liarnya. Sementara, sebentar lagi perutku buncit dan aku akan semakin terlihat jelek." jelas Alisa dengan wajah manyunnya.
"Aneh, Al. Cuma alasan itu sampai segitunya. Kamu pikir suamimu lelaki paling ganteng dan paling seksi gitu? Lagian sekarang perutmu kan sudah sedikit membuncit. Bukan lagi nanti!"
"Terus udah nggak cinta?" Alisa kemudian bangkit dan duduk di salah satu paha milik Dika.
"Makin cintalah, Sayang!" rayu Dika saat melihat Alisa sudah mulai cemberut. Lelaki itu mulai belajar banyak tentang sifat perempuan yang sangat paradoks menurutnya.
"Mas, aku takut kalo mas Dika di godain cewek seksi di luaran. Takut Mas Dika tergoda." sungut Alisa dengan pandangan menerawang.
"Semoga saja tidak, kalo model kayak temenmu itu malah bikin negh." Dika merengkuh tubuh yang duduk di atas pahanya dalam pelukan lembutnya.
"Aku takut kamu tergoda dengan yang bening-bening. Sekarang kan viral pelakor. "
"Kamu tetap yang paling cantik. Karena cantik itu bukan sekedar fisik. Dan orang yang tergoda wanita lain hanya k orang yang sudah kehilangan orientasi pernikahan dan lupa akan tanggung jawab terhadap Tuhannya. Tidak ada hubungannya dengan fisik orang lain."
Alisa merebahkan kepalanya di dada bidang suaminya. Lagi lagi perempuan itu selalu jatuh pada pesona Mahardika Setya Praja.
###
3 bulan kemudian...
Alisa keluar dari lift gedung lantai empat fakustasnya dengan menyungging senyum bahagia. Di usia kandungannya yang sudah menginjak lima bulan kini thesis nya sudah selesai. Kehamilannya memang membuat dia sangat malas mengerjakan thesis, jika tidak karena dibantu suaminya mungkin thesis nya masih terbengkalai.
"Assalamualaikum, Al. Bagaimana ujiannya?" Dika menelepon Alisa dari kantornya. Sebenarnya dia ingin menemani istrinya di saat ujian tapi karena kasus perkebunan itu ada sangkut pautnya dengan kecelakaan Mama Meylin membuat kasusnya semakin alot.
"Wa'alaikum salam, Mas. Ini udah keluar dari ruang ujian. Alhamdulillah bisa jawab semua pertanyaan, meski belum tau hasilnya seperti apa."
"Ya sudah, aku pulang habis magrib. Hati hati di jalan ya! "
"Iya, Mas. "
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Alisa menutup telponnya, saat akan memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas, ternyata ada panggilan dari Mama Liana.
"Assalamualaikum, Ma" jawab Alisa.
"Al, rumah ini akan Mama renovasi. Dan ini ada foto dan barang barang Papamu. Ini mama buang saja atau kamu ambil? " tanya Liana. Alisa terdiam sejenak, dia menginginkannya tapi dia belum bilang ke suaminya jika ke rumah Mama Liana.
"Aku nggak bisa menunggu lama, Mama akan ke Jepang sebentar lagi!" desak Liana.
"Iya Ma, Alisa ambil sekarang!" tanpa berfikir lagi Alisa memutuskan pergi ke rumah Mama Liana.
Alisa mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, sejak hamil dia lebih hati hati saat menyetir. Dipasangnya earphone, perempuan itu berusaha menghubungi Dika, tapi ternyata nggak diangkat, membuat Alisa meletakkan kembali ponselnya.
Mazda putih itu membelok pada rumah berlantai dua. Alisa turun dari mobil, ditatapnya rumah itu dengan pandangan yang cukup asing. Ini rumah Papa Handoko, seharusnya tidak di renovasi. Ah, tapi Papa sudah memberikannya pada Mama Liana, pikir Alisa.
Alisa melangkah menuju pintu yang masih tertutup dengan mencari-cari letak mana yang di renovasi. Tapi, dia belum menemukannya juga.
Setelah beberapa kali memencet bel, akhirnya Mama Liana sendiri yang membukakan pintu.
"Masuk, Al? " ucapnya.
"Iya, Ma. " Jawab Alisa dengan mengikuti ibu tirinya itu.
"Ini, Al. Semua foto dan barang-barang Papa dan Mamamu." Liana menaruh sebuah kardus di atas meja.
"Tapi, tunggu! Sebelum mengambilnya, tanda tangani berkas peralihan perkebunan itu. " Suara Liana terdengar menggema. Ya, saat ini cuma ada Liana dan Alisa. Perempuan yang sangat membenci anak tirinya itu sengaja menyuruh seluruh anak buahnya untuk menjauh. Dia akan menyelesaikan ini sendiri karena menurutnya Alisa sangat lemah.
"Mama jahat sekali. Kenapa harus menggunakan perkebunan itu untuk sesuatu yang ilegal. Al, tidak akan memberikannya. " tolak Alisa dengan tegas.
"Hahahaa.. Oh, kamu sudah tau siapa aku? Apa kamu juga tau jika kematian Mama dan Papamu karena rencanaku? " ucap Liana dengan gelaknya yang nyaring.
"Apa, Ma? Mama setega itu dengan Papa? Aku tak menyangka. Padahal, Papa sudah baik sama Mama! Mengorbankan kebahagiaan kami untuk menebus kesalahannya padamu. " ucap Alisa dengan berkaca kaca. Seketika Liana mata Liana juga berkaca kaca.
"Dia memang berada di sisiku. Tapi tetap saja Meylin dan dirimu yang selalu ada di hatinya." Perempuan itu mengusap air mata yang berhasil keluar dari sudut matanya.
"Aku sudah kehilangan semuanya. Dan aku juga ingin kamu menyusul mereka di sana. " Liana menodongkan pistol, seketika itu tubuh Alisa bergetar karena ketakutan.
"Ma, jangan seperti itu! Aku sedang mengandung"
"Plaaakkk...... " Alisa menghantam tangan Liana dengan tas yang sedari tadi di jinjingnya, hingga membuat pistol itu terlempar jauh dari tangan Liana.
Melihat kesempatan itu, Alisa kemudian lari keluar menuju mobilnya yang kemudian di kejar Liana.
Alisa melajukan mobilnya dengan menggila. Apalagi dilihatnya dari spion, Liana yang masih mengejarnya dengan sedan marcy milik Papanya . Wajah Alisa menegang, dia tau kecepatan Mazda tak seberapa jika dibanding mobil mewah itu. Dua mobil itu terlihat kejar kejaran dengan membabi buta hingga memasuki tol.
To Be Continue.