My Husband My Hero

My Husband My Hero
BAB 15 MENGGODA



BAB 15 MENGGODA


Dua puluh menit kemudian,, Mirza keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang dililitkan di pinggang, sehingga menampakkan tubuh six packnya yang putih,mulus


Elvina yang kala itu sedang berbaring diatas ranjang sambil memainkan ponselnya langsung menatap Mirza tanpa berkedip karena dirinya merasa terhipnotis oleh tubuh Mirza


"Biasa aja kali liatin akunya, sampe tuh air liurmu mau netes gitu " ucap Mirza sambil terkekeh


"Ish apaan sih,, siapa juga yang ngeliatain kamu " sangkal Elvina sambil menyentuh bibirnya takut apa yang dikatakan Mirza itu benar


"Alahh ngeles aja ,, jujur aja kali, nggak apa-apa ko ,, lagian kan kita udah halal ini,nggak akan dosa . Bahkan kalau kamu mau tubuh aku juga sok aja, aku akan senang hati menerimanya " goda Mirza, hingga membuat pipi Elvina jadi merona karena malu


"Sudahlah sana pakai bajumu, aku tidak akan tergoda oleh tubuhmu itu " ucap Elvina memalingkan wajahnya


Mirza terkekeh sendiri lalu dirinya masuk kedalam ruang ganti


"Lebih baik aku cepat-cepat tidur, kalau enggak nanti dia minta haknya sekarang lagi ,, iihhh nggak boleh ,, aku masih belum siap" gerutu Elvina lalu menarik selimut sampai kebatas dadanya


"Yaahh,,, ditinggal tidur deh . Sabar Za sabar " ucapnya sambil mengelus dada, lalu Mirza ikut merebahkan tubuhnya disamping Elvina


"Selamat malam Istriku ,, semoga mimpi indah . Love you " ucap Mirza lalu mengecup kening Elvina


Sebenarnya Elvina belum benar-benar tidur, dia hanya memejamkan matanya saja , jadi ,,, dia mendengar apa yang dikatakn Mirza tadi


"Apa aku nggak salah dengar ? Barusan dia bilang Love you ? Itu beneran atau cuma pura-pura ? Tapi kan dia nggak tau kalau aku belum tidur. Masa sih dia beneran suka sama aku?" ucap Elvina dalam hati


Karena memang benar-benar lelah, Elvina dan Mirzapun terlelap tidur tanpa terjadi hal-hal yang biasa dilakukan pengantin baru


.


.


Keesokan harinya,


Dipagi yang sedikit mendung, dua insan berbeda jenis kelamin masih nyaman dengan alam mimpi mereka, ditambah dengan cuaca yang mendukung dan enak untuk tidur


Berbeda dengan para kedua orangtua mereka yang sudah berkumpul di meja makan untuk melaksanakan sarapan pagi


"Bu, coba panggil Elvina dan Mirza untuk sarapan, mereka kan semalam nggak makan lagi, langsung tidur "ucap Damar kepada Safira


"Iya Ayah,, sebentar ya Ibu panggilin dulu mereka" Safira beranjak dari duduknya dan melangkah pergi menaiki tangga menuju kamar sang Putrinya


Tok ,, tok ,, tok


"El,, Mirza ,, kalian udah bangun belum ?"


"Elvina ,,, " tok ,,, tok ,,, tok,,, Safira terus saja mengetuk pintu kamar Elvina agar mereka bangun


Sedangkan Elvina dia merasa terganggu dengan ketukan pintu yang terus berbunyi


"Siapa sih pagi-pagi gini udah berisik aja " gerutu Elvina sambil mengucek matanya


"AAAAA. ,,,,Siapa kamu ?" teriak Elvina sambil menendang seseorang yang disampingnya itu sampai terjatuh


BUUGGH ,,,


"Aww,,, kening ku " rintih seseorang itu , lalu dirinya duduk sambil mengusap keningnya


"Mirza ?" ucap Elvina pelan


"Aduh,, kenapa aku bisa lupa sih, kan sekarang aku udah punya suami " ucapnya dalam hati


"El,, Elvina buka pintunya Sayang,, kenapa kamu teriak-teriak gitu ?" teriak Safira panik


"Ibu ? " Elvina langsung berlari menuju pintu lalu membukanya


Ceklek ,,,


"El apa yang terjadi ? Kenapa kamu teriak barusan ? Kamu baik-baik saja kan ? Apa Mirza melakukan sesuatu sama kamu ?" tanya Safira beruntun


"Em,, Ibu ,, itu,, nggak ada apa-apa Ko , tadi cuma ada itu,, em kecoa Bu. Jadi ,, Jadi Elvina teriak " ucapnya terbata


"Yakin nggak terjadi apa-apa ?"


"Iya Bu. Ibu nggak usah khawatir,, aku baik-baik saja ko"


"Baiklah,, kalau gitu kalian cepat turun, kita sarapan "


"Iya Bu. Sebentar lagi kita turun " Elvina menutup pintu kamar, saat dirinya membalikan badan, Mirza sudah berada tepat dibelakangnya


"Astagfirulloh,,, "ucap Elvina terkejut


"Ka-kamu kenapa ?" tanya Elvina terbata tanpa menatap wajah Mirza


"Menurutmu ?" ucap Mirza sambil mendekatkan wajahnya, Elvina berjalan mundur hingga akhirnya dia berhenti karena sudah mentok dengan pintu kamar


"Em,, Za ,,, ka-kamu bisa mundur sedikit? Aku,, aku tidak bisa bernafas" ucap Elvina


"Tatap aku, atau aku cium kamu sekarang ?" ancam Mirza, dan benar saja ancaman itu ampuh, Elvina langsung mengangkat wajahnya dan mata mereka bertemu


"Ada apa ?" tanya Elvina namun Mirza tidak menjawabnya, malah mendekatkan wajahnya hingga membuat Elvina gugup dan langsung memejamkan matanya


"Aduhh,,,, apa yang mau dia lakuin ?" batin Elvina


Mirza tersenyum kecil saat melihat Elvina memejamkan mata


"Kenapa kamu tadi menendangku hingga terjatuh ?" ucap Mirza pelan tepat di telinga kanan Elvina, hingga membuat Elvina merinding


"Ii-itu ,, Maaf ,, aku lupa kalau sekarang aku sudah tidak tidur sendirian lagi, jadi,, karena kaget aku nendang kamu sampai jatuh ,,, maaf " ucap Elvina dengan suara seperti mau menangis


Melihat Elvina seperti yang ketakutan dan mau menangis, Mirza langsung menarik Elvina untuk memeluknya


"Iya ,, iya aku paham ko, kamu pasti belum terbiasa . Sudah ya jangan menangis dan maaf karena aku sudah membuatmu takut"


"Sekarang lebih baik kita mandi lalu sarapan, orangtua kita pasti sudah menunggu " sambung Mirza dan Elvina hanya mengangguk


"Nyaman sekali berada dipelukannya"ucap Elvina dalam hati


.


.


.


"Pagi Ayah,Ibu , Om , Tanteu " sapa Elvina lalu duduk diikuti Mirza yang duduk disampingnya


"Pagi El ,,, "


"El,, mulai sekarang jangan panggil Om dan Tanteu dong ,, panggil Mama sama Papa aja biar sama seperti Mirza " ucap Naila


"Iya tuh bener kata Mama Naila, kan sekarang kamu sudah jadi anak kami juga " Gilang membenarkan ucapan Istrinya


"Baiklah om, eehh Pah, Mah " ucap Elvina sedikit terbata


"Nahh gitu dong ,, kan enak tuh denger nya " ucap Naila sambil tersenyum


Setelah itu mereka memulai sarapan pagi dengan tenang dan penuh kebahagiaan


.


.


"Hoooaaammm,,,, pegel banget nih badan " ucap seorang wanita yang baru terbangun dari tidurnya


"Loh gue ada dimana ini ? Perasaan kamar gue nggak putih - putih gini deh " ucapnya sambil menatap sekelilingnya


"Ini kan kamar hotel,, kenapa gue bisa ada dihotel? Badan gue ?" Zea langsung membuka selimut yang menutupinya dan betapa terkejutnya dia saat melihat dirinya tidak memakai pakaiannya


"Ini,,, ini pasti nggak mungkin kan ? Ini pasti mimpi kan ?" ucapnya sambil memeluk erat selimut


Saat Zea sedang berperang dengan pikirannya, tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka . Zea langsung menengok kearah sumber suara, dan Zea langsung terbelalak saat melihat seorang laki-laki yang tidak dikenalinya keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk saja


"Apa yang udah Lo lakuin ke gue ?" ucap Zea dengan menatap sinis laki-laki itu


"Menurutmu apa yang dilakukan seorang laki-laki dan perempuan di kamar hotel seperti ini ?"tanya balik laki-laki itu dengan senyum evil,


"Kenapa Lo lakuin ini sama gue ? Dan gimana caranya Lo bisa masuk kekamar gue ? "


"Kamu bilang apa tadi ? Kamar kamu ? Bener ya gara-gara minuman alkohol bisa membuat seorang wanita cantik seperti mu ini kehilangan kesadaran sampai-sampai kamar oranglain pun dikiranya kamar dia . Apa kamu nggak sadar, semalam kamu itu masuk kekamarku saat aku sedang mandi "ucap laki-laki itu sambil memakai bajunya


"Lo pikir gue bodoh hah? Yang bisa lo bohongi oleh omong kosong lo itu ? "


"Kamu lihat saja ini, siapa yang benar dan yang salah ?" laki-laki itu melemparkan nomor kartu kamar kepada Zea


"Kalau Lo tau gue salah kamar, kenapa Lo nggak suruh gue keluar ? Kenapa Lo malah memperkosa gue hah?" tanya Zea kesal, kenapa laki-laki itu malah menikmati tubuhnya dan merenggut mahkotanya


"Soalnya aku nggak tega buat bangunin kamu yang tidurnya sudah pulas, dan lagi bukan aku yang memperkosa mu. Tapi kamu sendiri lah yang memulai, saat aku mau melihat wajahmu, kamu malah menarikku dan langsung mencium bibirku, bahkan kamu sendirilah yang membuka bajumu karena kepanasan. Jadi jangan salahkan aku jika aku menginginkan lebih dari itu, karena aku juga laki-laki normal, yang mana pasti akan tergoda"ucap laki-laki itu panjang lebar, Zea hanya terdiam dan mencoba mengingat kejadian semalam saat dirinya berada dibawah pengaruh minuman alkohol


"Sudahlah,, percuma kamu mengingat-ngingat pun, karena semua sudah terjadikan ? Jadi lebih baik kamu sekarang bersihin badanmu itu, lalu pergi dari kamarku karena aku masih ingin tidur "


Zea tidak menjawab, dia langsung beranjak dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi dengan selimut dililitkan ditubuhnya


Saat Zea sudah berada dikamar mandi, laki-laki itu tersenyum karena dirinya melihat ada bercak darah diatas seprai ranjang


"Ternyata dia masih perawan,, beruntung sekali diriku ini hahahah" ucap laki-laki itu sambil merebahkan dirinya diatas ranjang dan memejamkan matanya


*Siapakah laki-laki itu ??


Entahlah Author juga nggak tau hhehe


😁😁😁💓*