
Alisa masih terus saja melajukan mobilnya tanpa bisa berfikir kapan dia bisa berhenti. Sementara mercy hitam itu juga tak ingin kehilangan targetnya. Liana kini sudah kalap untuk terus mengejar Alisa. Mereka seperti lupa jika mereka sudah menggila di jalan dengan mobil masing masing.
"Ya Allah..." keluh Alisa yang sudah mulai lelah, wajahnya masih saja menegang. Bahkan, bulir keringat mengalir diantara rasa panik saat melihat trailer dari arah lawan semakin mendekat.
"Chhiiiiittt ... Sreeetttt......." Suara decitan rem dan gesekan body mobil di pembatas jalan terdengar jelas dan spontan perempuan yang tengah hamil itu membanting stir ke kiri dan kemudian ke kanan untuk mengimbangi gerak mobilnya, tapi masih saja body sebelah kiri mazda putih itu tetap meringsek saat bergesekan dengan pembatas jalan.
"Sreeetttt,,, brrraaaaghhhhh" Tapi, Trailer itu tetap menemukan mangsanya. Ya ... Mercy hitam itu kehilangan kendali menghantam truk trailer dan terpental melesat berguling-guling dan terbakar hingga beberapa detik kemudian terbakar.
Kecelakaan tragis itu mengundang banyak pihak yang bersangkutan, wartawan pun bergegas menuju lokasi untuk menayangkan secara langsung tempat kejadian.
###
Dika masih mempelajari banyak laporan yang sudah dia kumpulkan untuk kasus yang ada sangkut pautnya dengan Liana. Saat akan menuju ruangan temannya untuk menanyakan sesuatu yang masih mengganjal, Dika melewati loby kantor.
"Beghhh... santai betul, Don! " Sapa Dika saat melihat anak buahnya duduk bersantai dengan melihat berita di TV.
"Ini bang, ada kecelakaan tragis.... satunya ibu hamil dan satunya juga masih dicari identitasnya." ucap Doni masih memperhatikan berita itu.
Mendengar ibu hamil langkah Dika terhenti, lelaki itu membalikkan badannya tepat saat TV menampilkan mobil putih dengan plat polisi milik istrinya.
"Itu mobil istriku ... " Seketika kepalanya berdenyut. Sejenak dia mematung, merasa tubuhnya kehilangan tenaganya. Tapi harus pergi untuk meyakinkan kembali berita yang hampir tidak dia percaya kebenarannya.
"Tolong... simpan laporanku!" Dika langsung menaruh beberapa map di pangkuan Doni dan berlari keluar.
"Bang, aku temani.' Doni berlari mengejar Dika yang sudah berlari dengan tergesa menuju parkiran.
"Bang Riyan, temani Bang Dika nyetir! Istrinya kecelakaan." ucap Doni saat mendapati Riyan yang berpapasan dengannya. Riyan pun langsung dengan sigapnya mengejar Dika.
Riyan akhirnya mengambil alih kemudi. Disampingnya, Dika menelpon seseorang untuk mencari tau keberadaan korban kecelakaan itu. Wajahnya terlihat panik bahkan sudut matanya sudah meneteskan cairan cairan bening yang berkali kali di hapusnya.
"Cepet Yan, di RS umum daerah!" ucap Dika yang nampak tidak bisa tenang. Wajahnya pun terlihat memucat. Seperti menyimpan sejuta ketakutan dan kecemasan di hatinya.
"Oh Tuhan.. Anak dan istriku.... " gumamnya tak ingin berfikir buruk tapi tetap saja dia selalu gagal untuk menenangkan diri.
Range Rover itu akhirnya memasuki sebuah rumah sakit. Dika menghampiri reseptionis dan menanyakan pasien yang barusan mengalami kecelakaan.
Setelah mendapat informasi dari bagian receptionis, Dika pun berlari dengan tunggang langgang menelusuri setiap lorong menuju ruang operasi. Jantungnya berdetak tak beraturan mengiringi kecemasannya yang sudah menjadi di dalam hatinya. Dua nyawa yang sudah menjadi bagian dari kehidupannya kini sedang dipertaruhkan. Sementara Ryan hanya membuntut dengan lari kecilnya mengikuti temannya yang seperti kehilangan kendali dengan perasaannya.
Dika memelankan larinya untuk mencari ruangan yang sudah di beri tahu oleh resepsionis. Saat tubuhnya membolak balikan arah, sebuah pintu ruangan terbuka dengan keluarnya team medis yang masih berpakaian lengkap.
"Apa anda keluarga korban? " tanya salah satu dokter yang keluar dari ruangan.
"Iya, Dok! " lirih Dika dengan wajah pucatnya.
"Nggak mungkin! Nggak mungkin itu, Dok! " ujar Dika dengan menggelengkan kepala. Air matanya kini sudah menganak sungai,bahkan tubuhnya terhuyun ke dinding di sebelahnya. Menolak segala yang baru saja dia dengar.
"Maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin." ucap dokter tersebut yang kemudian meninggalkannya.
"Al, Alisa ...! " Teriakannya menggema dengan tangan mengepal memukul dinding di sebelahnya. Tubuh tegap itu pun meluruh ke lantai bersamaan dengan tubuhnya yang bergetar dengan tangisannya yang tergugu. Baginya dunia sudah berakhir ketika mendengar dua nyawa itu meninggalkannya.
"Bang,... " Tangan kecil itu menyadarkan dirinya, membuatnya menoleh ke arah pemiliknya.
"Ruangan, Mbak Al di sebelah! " ucap Nungky yang kasian sekaligus pengen tertawa melihat abangnya yang sudah frustasi terlebih dahulu.
"Terus yang ini? " tanya Dika yang kemudian berdiri dari duduknya.
"Keluarga bapak itu sepertinya." Mendengar ucapan adiknya Dika menoleh ke kursi yang tidak jauh darinya. Di Sana memang ada seorang laki laki yang bersandar lemas dengan air mata yang menetes dari pelupuknya.
"Makanya bang, tenang dulu!" sahut Riyan yang sebenarnya ingin tertawa saat melihat orang segarang Dika menangis saat mengira istrinya sudah meninggal.
"Bagaimana keadaan Alisa? " tanya Dika saat adiknya menarik lengan tangannya.
"Biar Bang Gara yang jelasin, Bang! " jawab Nungky masih dengan menyeret abangnya untuk masuk ke dalam ruangan yang cukup hening. Dimana Alisa masih memejamkan matanya. Meskipun masih mempunyai banyak harapan, tapi melihat Alisa terbaring tak sadarkan diri membuat hatinya terasa ngilu.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Dika masih dengan mata berkaca-kaca.
"Kita masih memantaunya, Bang."
"Alisa masih dalam pengaruh obat bius. Tadi kami melakukan operasi tulang leher, ada keretakan di bagian itu. Tapi yang aku khawatirkan, dia mengalami trauma, Bang. Dan mengalami sindrom tidur. Berdo'alah, Semoga cepat sadar! Ajak bicara terus, Bang...!" jelas Anggara.
"Anaku... ?" lirih Dika masih terlihat putus asa.
"Itu yang aku khawatirkan, jika sampai dalam waktu lama Alisa tertidur. Kami juga masih memantau janinnya, semoga Alisa bisa cepet sadar." Ada rasa tidak tega saat melihat sosok yang biasa memberi kesan kuat kini terlihat sangat terpuruk.
Nungky keluar bersama Anggara, dan Ryan memutuskan untuk kembali ke kantor. Mereka sengaja memberikan Dika ruang untuk bersama Alisa.
"Al, cepat bangun .... jangan membuatku cemas terlalu lama. Aku mencintaimu, Al. Aku takut kehilanganmu, meski sering kali kamu meragukanku." lirih Dika dengan air mata yang kini mengalir dari kedua matanya. Lelaki itu masih menciumi tangan kecil istrinya itu dirundung rasa cemas yang luar biasa.
"Al, jangan biarkan aku sendirian! Aku tak sehebat yang kamu kira. Jangan membuatku ketakutan seperti ini! Seandainya kamu tau, baru kali ini aku merasa takut yang amat sangat." Kalimat demi kalimat mengalir terus hingga tak terasa sudah hampir dua jam dia duduk di dekat istrinya yang belum juga siuman.
"Bang, bagaimana keadaan Al? " Tiba tiba Mama Lucy pun datang menghampiri dan memeluk putranya yang terlihat putus asa. Sejak Dika dewasa baru kali ini Mama Lucy melihat Dika terpuruk seperti ini.
"Aku takut, Ma. Mereka meninggalkanku." Mata sayu yang sudah memerah kini pun kembali basah.
Tbc