
"Apa sebegitu tidak berguna nya sehingga mantan kekasih Dimas, begitu percaya diri merendahkan aku padahal dia tau aku ini istri Dimas tapi, dengan sangat sengaja dia tidak sama sekali menganggap aku jillea." Perasaan nya begitu sakit entah harus apa dia sekarang dia bukan tandingan dari Shyren yang sangat lebih sempurna dari dirinya.
"Nyonya jangan berkecil hati ucapan nya takkan mengganti kan perasaan tuan Dimas untuk nyonya." imbuh jillea berusaha menenangkan perasaan majikannya yang tengah tidak baik.
Memang benar jika Hanna hanya bisa berdiam diri tanpa melakukan apapun yang berguna untuk suaminya, bahkan seperti kebanyakan orang yang akan menilai wanita berkekurangan seperti nya hanya akan menjadi benalu bagi suami yang sempurna seperti Dimas.
Kini perempuan yang tengah larut dalam kegelapan yang sampai saat ini membuat dirinya benar-benar merasa tidak berguna untuk suaminya sendiri berusaha meminta salah satu dari pengawalnya untuk membawanya ke salah satu tempat yang akan membuatnya sedikit melupakan apa yang menjadi kelemahannya.
"Nyonya mau kemana kita?"
"Aku ingin pergi ke pantai, tolong jangan biarkan Dimas tau juga saya tidak mau pekerjaan suami saya terganggu." lirihnya Hanna menatap lamunan kosong.
"Tapi,"
"Ini perintah."
"Baik." dengan terpaksa pengawal Dimas menuruti kemauan nya meski itu sangat melanggar aturan dari Dimas.
Angin pantai yang sering kali membuat nya tenang, kini bisa ia rasakan kembali setelah sekian lama. Bukan hanya sekali saja dia datang untuk menyejukkan dirinya di tepi pantai namun, akibat kecelakaan itu sulit baginya untuk melakukan hal kesukaan nya. "Kak Dema, kak satia, aku rindu kalian." batinnya Hanna dengan tetesan air bening yang mengalir di kedua pipinya tertanda jika kini ia sanga membutuhkan support dari keluarganya untuk menghadapi kenyataan pahit yang sudah lama ia telan selama ini.
"Nyonya ini hampir senja mari kita kembali, saya takut jika tuan Dimas akan marah besar karena saya sudah membawa nyonya keluar rumah tanpa sepengetahuan nya."
"Saya masih ingin disini, Vienzo."
"Tapi, nyonya mohon mengerti tuan takkan mengampuni saya." wajahnya yang memelas kasih pada Hanna untuk segera ikut bersama nya pergi kembali kerumahnya.
"Vienzo, kamu bisa pulang biarkan aku disini sendiri jika kamu takut pada suami saya kamu bisa hubungi dia dan beritahu jika saya masih ingin disini. Dan saya yang meminta kamu untuk mengantarkan saya kemari."
Terlihat raut wajah itu bak sprei yang kusut, ada rasa bimbang untuk memberikan kabar pada Dimas dimana posisinya berada saat ini. Namun ia juga takut untuk menghadapi kemarahan Dimas karena menentang nya untuk tidak membiarkan Hanna pergi keluar. "Nyonya... "
Tiba-tiba seseorang menyapanya suara yang tidak asing bagi pendengarannya cukup ia hafal siapa sang pemilik dari suara tersebut. "Si.. siapa? itu pasti kamu."
"Wah! rupanya kamu masih hafal betul suara saya."
"Pergi kamu dari sini!" tegas Hanna.
"Tenang saja saya datang dengan cara yang baik-baik saya tidak berniat melukai kamu." sahut orang tersebut, pria berjas dengan wajah Casanova Italia.
"Alonso, saya minta kamu pergi sekarang dari sini. Vienzo.. Vienzo.. usir manusia ini!" perintah Hanna ketar ketir membanting tongkat yang tengah ia genggam.
Vienzo segera bergegas mendengar teriakkan Hanna setelah ia berbincang dengan seseorang di sebrang telepon. "Nyonya!"
"Nyonya! ada apa?"
"Usir dia,"
"Tuan ini siapa kenapa mengganggu majikan saya?" tanya Vienzo secara baik-baik.
Namun rupanya sikap Alonso yang angkuh enggan untuk menjawab seorang kacung baginya. "Ayolah Hanna kita bisa minum kopi sebentar."
"Jangan paksa majikan saya, tuan. Sebaiknya anda pergi segera dari tempat ini!"
"Berani sekali kamu, kamu tidak tahu siapa saya bahkan orang seperti kamu bisa saya beli untuk dijadikan pijakan kaki saya." sombong.
Sikapnya yang arogan masih ditanggapi dingin Vienzo, namun karena tempat itu terlalu ramai pengunjung ia lebih memilih diam dan segera membawa majikannya pergi kembali pulang. "Maaf saya tidak ingin membuat keributan, permisi. Mari nyonya tuan Dimas sudah menunggu kita ."