
Di bawah guyuran hujan hanna sengaja berdiam diri dibangku taman, sementara dafa yg tengah mencarinya amat mencemaskan hanna, pikiran hanna pun tak menentu begitu lama dia dekat dengan dafa namun, dia pun seakan merasakan hal yg sama saat berada di dekat dimas namun, seolah berbeda.
"Kenapa aku begini, hanna kamu inih dasar payah"gerutu sendiri menutup wajahnya dengan kefua telapak tangannya.
"Padahal aku sering mendengar dia berkata seperti itu dan aku sudah terbiasa dengan hal itu tapi, kenapa sekarang aku begini perasaanku pun terasa begitu berbeda dari biasanya kali ini aku merasa bahagia bercampur aduk ntah itu sedih ntah itu bahagia" gumamnya hanna.
"Akkkhhhh... dasar bodoh-bodoh " menepuk dahinya beberapa kali.
Ntah sejak kapan seorang pria mendengar celotehannya, berdiri tegak dan tersenyum melihat tingkah hanna yg sedikit ke kanak-kanakan.
"Apa yg sebenarnya membuatmu bertingkah bodoh seperti itu" celetuknya pria di belakang hanna tak lain dafa. "kamu daf, ke..kenapa kamu tau aku disini?" hanna melebarkan matanya terkejut melihat dafa yg sudah berada tepat di belakangnya. "aku gunain GPS, makanya aku tau kamu disini" mengusap rambutnya yg basah.
"Lagian ngapain juga kamu kesini ujan-ujanan lagih'' ketus hanna. "aku khawatir sama kamu han apa kamu nggak kasian sama kakak kamu yg lagi nungguin" menarik tangan hanna yg tengah di lipatkannya pada atas perutnya. "aku udah kasih tau kak resta kok, kalo kamu mau pulang".
"Tinggal pulang aja ngapain nyariin aku" membalikan tubuh nya membelakangi dafa.
"Kamu marah?"tanya dafa.
"Nggak" ketus.
"Hanna" panggil dafa berulang kali.
Apaan sih?" mengerutkan dahinya kesal. dafa yg hanya tersenyum melihat kekesalan hanna yg seperti anak kecil.
"Sini deh, aku pengen liat wajah jelek kamu kalo lagi ngambek" ledek dafa menaruh dagu nya di pundak hanna. "Nggak"memalingkan wajahnya yg cemberut.
Dengan sigap tangan dafa menarik tubuh hanna hingga menjatuhkan wajah hanna ke dada kekar milik dafa.
"*A*ku mencintaimu hanna, aku sangat mencintaimu" bisik dafa
Hanna terdiam mendengar pernyataannya dafa seketika jantung hanna begitu terpompa kencang tak karuan "Ada apa denganku kenapa aku merasakan perasaan ini" dalam hati.
"Apa kamu benar mencintaiku" menaikan pandangannya kearah wajah dafa yg sedikit tinggi darinya. "Aku berani bersum-..." seketika terhenti saat tangan hanna menutupi mulutnya.
" Kamu tak perlu mengucapkan hal itu aku percaya padamu daf" memeluk dafa dan menyembunyikan wajahnya ke dada bidang dafa.
...****************...
Sayang" panggil dema.
Iya.., kalian sudah pulang kalo gituh kita makan sama-sama si kecil udah nungguin kamu di meja makan" seru resta mengambil tas dari tangan suaminya.
"Kak, kemana hanna apa dia belum pulang juga " mengedarkan pandangannya mencari sosok yg di tanyakannya. "dia katanya pulang telat di tempat mereka berada hujannya begitu deras, hingga mereka harus menunggu hujannya reda" ujar resta.
"Oh .. " satiawan melepaskan jas nya dan menghampiri dhhea yg tengah duduk sendiri di ruang makan. " Hallo ponakan om yg cantik" sapa satiawan pada dhea. "om udah pulang mana papa" tanya anak kecil itu dengan suara khas yg menggemaskan. "Papa dhea lagi ganti baju dulu sama om aja dulu ya" bujuk satiawan mengsejajarkan tubuh nya dengan dhea.
"Kenapa kamu gak suruh dia pulang cepet inih udah mau gelap" kesal.
"Sayank udah donk jangan di permasalahkan hanna udah besar dia bukan anak kecil lagi" mencoba menenangkan dema yg kesal, karna hanna tak mendengar pesan dema saat tadi pagi. "sayank udah ya kita makan putrimu sudah menunggu" ajak resta pada suaminya yg kesal. dema menganggukan kepalanya mengiyakan permintaan istrinya resta untuk pergi makan bersama.
...****************...
Daf, kita mau kemana hujan nya semakin deras, menuju rumah ka dema pasti sudah tergenang air bilah jalan ke arah xxxx " ucap hanna menggigil kedinginan.
"Ya dah kita cari tempat berteduh dulu sementara, kamu pake jaket ku biar nggak kedinginan" menyelimutkan tubuh hanna dengan jas miliknya. "Makasih daf" tersenyum.
Mobil dafa terhenti di sebuah hotel xxx dafa yg sudah merasa kasihan melihat hanna yg sudah menggigil kedinginan akhirnya memesan dua kamar namun, hanya tersisa satu kamar di karnakan sudah penuh.
"Daf kenapa harus di hotel?" menggigil.
"Aku tidak tega melihat kamu seperti ini han, aku gak mau kamu sakit, aku sudah memesan beberapa pakain pada asistenku dan nanti dia akan mengantarkannya kemari" dafa membuka pintu hotel "
trek...
"Kamarmu dimana ?" tanya hanna memandang wajah dafa. dafa yg kebingungan atas pertanyaan hanna. "Sementara aku disini soalnya kamar nya hanya tersisa satu " menggaruk kepalanya yg tidak gatal.
Ya sementara aku di sini kamu di sofa aja oke." goda dafa sambil merebahkan tubuhnya di atas ranjang. " Apa ?? nggak kamu di sofa aku di sini," menarik tangan dafa yg tengan merebahkan dirinya. "Nggak kamu aja di sofa" menaikan kedua alis nya untuk menggoda hann.
Dafa kamu gak bisa gituh donk, aku yg di sini kamu yg di sofa gak mau ngalah banget ama cewek" seru hanna kesal
Hanna kesal melihat tingkah dafa yg tak mau mengalah padanya, hingga dafa menyadari bahwa dirinya memang terlalu kekanak-kanakan membuat hanna cemberut mengerutkan dahinya.
"Jelek tau ." dafa bangun dari ranjang big size itu dan mendekati hanna, "han udah dong marah nya gitu aja marah" goda dafa melihat wajah hanna yg cemberut.
"Biarin" ketusnya.
"Ya dah aku di sofa deh, tapi jangan marah lagi ya"tangan dafa seketika menyentil dahi hanna. "Auwww.. sakit tau" keluh hanna kesakitan memegangi dahinya. dafa meraih sebuah kimono dan handuk di lemari. "Nih kamu mandi gih air hangat nanti kamu masuk angin, mungkin sebentar lagi orang yg aku suruh membeli pakaian akan segera datang" ucap dafa menyodorkan handuk dan sebuah kimono.
Dari mulutnya tak bersuara hanna mengambil handuk juga kimono yg di berikan dafa dan pergi ke kamar mandi, dafa hanya menggelengkan kepalanya melihat wajah cemberut gadis manis itu.
20****menit kemudian
trekk...
Hanna keluar dari kamar mandi dengan memakai kimono, dafa yg tengah berdiri memandangi hujan di balik jendela, seketika teralihkan pada suara pintu yg terbuka, "Kamu sudah selesai han ?" tanya dafa menatap wajah hanna yg sedikit basah, dengan meraih handuk di atas ranjang dafa mendekati hanna yg tengah berdiri di depan pintu kamar mandi menutupi bagian dada nya yg sedilit terbuka.
"Aku... sudah selesai " suara hanna yg tergagap-gagap melihat dafa kian terus menuju arah nya.
"ya ampun bos ngeselin ini mau ngapain ya kok jalan terus ke arahku sih, kalo dia macem-macem awas liatin aja nanti" gumam dalam hatinya memperhatikan langkah dafa yg terus menuju arahnya.
Hanna memejamkan mata nya dengan memalingkan wajahnya dan tetap menutupi bagian dada nya dengan kedua tangannya, dafa kebingungan melihat tingkah aneh hanna "Hanna hello...." dafa tengah melambaikan tangan nya di depan wajah hanna, sebelah mata hanna di bukanya dan melihat dafa yg sudah berdiri di depannya " Hah... dafa mau apa kamu" mundur menatap tajam mata dafa.
"Kamu ini kenapa sih?" menaikan dagunya bertanya pada hanna atas sikapnya yg aneh. "Ka..kamu jangan curi kesempatan deh daf" seru hanna.
Dafa menatap tajam kedua mata hanna, dan tangan nya mulai menghampiri pinggang nya detakan jantung hanna yg sudah tak beraturan mulai melirikan matanya pada tangan dafa mendekati belakang pinggangnya hanna dan menutup kecil kedua matanya
*T*rekkkk...." pintu di buka dafa.
Gak usah ke GR-an dehh." dafa tersenyum melihat raut wajah hanna yg begitu terlihat ketakutan. dafa pun masuk kedalam kamar mandi sembari tertawa kecil.
Hanna begitu terlihat melongo dah menghela nafas panjang kemudian mengusap dada nya "untung aja gak ngapa-ngapain " menghela nafas kemudian.
Tak lama kemudian dafa keluar dari kamar mandinya dengan berbalut handuk bagian bawah, beritu polos dan bersih dada bidang dan perutnya yg terlihat sizfex membuat hanna yg melihatnya terdiam menatap nya.
"Oh ya ampun apa dia dafa?" dalam hati.
"Kenapa tampan banget ya liatin nya sampei gitu amat" goda dafa melihat hanna tak berhenti menatap nya. "Hah ke PD-an" mengutkan hidungnya.
"Ahh jangan-jangan kamu-..." melebarkan matanya menggoda hanna. "Hah jangan-jangan aku apa" terbelalak mendengar ucapan dafa.
Hanna menatap tajam dafa kebingungan dengan maksud perkataannya, Akhhhhh..."teriak hanna menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. handuk yg di kenakan dafa dengan begitu saja terlepas hingga dafa segera menyelimuti area nya dengan handuk.
"Kali ini kau harus diam jangan sampai melorot lagi karna harga diriku yg di pertaruhkan" gerutunya dafa. hanna menahan tawa mendengar celotehannya.
Dafa yg terlihat kesal melihat hann cekikikan tertawa "Oh kamu senang sekali sepertinya" mendekati hanna dengan kesal. "Dafa.... dafa...." tertawa.
Dafa mengelitiki hanna yg tak berhenti menertawakannya, berlari sana kemari hingga akhirnya keduanya duduk kecapean di sofa. "Aku lelah " ujar hanna terengah-engah.
Aku juga ,, kamu sih ngetawain mulu" mencubit hidung hanna. hanna yg meringis kesakitan menatap dafa begitu tajam, "Han, kamu gak malu apa menatapku kaya gitu" dafa melebarkan matanya dengan kedua tangannya menutupi bagian dada bidangnya. Apaan sih daf?" mengerutkan dahinya melihat tingkah dafa.
"Han, jaga pandanganmu sepertinya kamu sangat kelaparan melihat tubuh atletisku ini, aku mohon jangan makan aku" goda dafa membuat hanna kesal dan membantingkan sebuah bantal pada nya.
Dafa hanya tertawa melihat hanna yg gemas atas kelakuannya, merekapun saling bercanda sembari memesan makanan disana sekaligus menunggu asisten dafa membawakan pakaian untuk mereka.
...****************...
#jangan lupa vote, share, and likenya ya!!!!