MY DEARY

MY DEARY
kembali pulang II



Selama perjalanan mereka hanya terdiam tanpa bicara, daffa yg mencuri-curi pandang kearah wajah hanna seketika membuat hatinya begitu berdebar-debar.


hanna hanya berfokus kebalik jendela mobil nya, tanpa menyadari bahwa daffa terus memperhatikannya.


"Hanna?? panggil dafa pada hanna yg tengah menikmati pemandangan jalanan yg ramai. "y, kenapa?" sahut hanna tanpa memalingkan wajahnya dari luar jendela.


Sebegituh nya melihat jalanan, sampai pandanganmu terpokus hanya pada jalanan saja" ketus nya sambil mengerucutkan bibirnya kesal karna perhatian hanna tak bisa terganggu. memang kenapa?? aku suka melihat ke luar jendela dari pada melihat wajahmu yg menyebalkan sudah tidak asing" seru hanna sedikit meledek dafa yg cemberut karna tak ada perhatian dari hanna.


Dafa yg kesal mendengar perkataan hanna seketika menghentikan mobil nya dan memasang wajah kusut sembari menyenderkan kepalanya di pundak hanna, "Tega sekali kamu han, aku kan sekarang pacarmu?" mengerucutkan bibirnya dan sedikit bersikap manja kepada hanna." kapan kita sampai nya kalo kamu terus berhenti?" kesal.


"Soalnya kamu aja gak sedikitpun memperhatikan aku". memalingkan wajah hanna kearah nya dan memasang raut wajah melas. iya nanti aja kita pulang dulu kak dema pasti khawatir sama aku" pinta hanna dengan kesal.


Baiklah".


Daffa pun melanjutkan perjalanan, hingga sampai lah mobil daffa di halaman rumah dema, hanna yg terus tidak tenang memikirkan kakak yg yg pasti akan memarahinya karna pulang telat.


Ah,,, bagamana ini mereka pasti akan .... "ujar hanna yg enggan untuk turun.


Kenapa kamu khawatir aku disini, dan aku akan menjelaskan kepada mereka"


Aku sungguh takut pasti mereka sabgat mengkhawatirkanku." penuh sesal.


Akhirnya mereka turun dari mobil dan mengetuk pintu rumah dema, kemudian....


*Krek,,,,


cetrek*,,,,


Pintu terbuka betapa terkejutnya hanna melihat raut wajah dema dan satiawan yg terlihat begitu kesal kepadanya.


Kaa...kakak...." tegang.


"Baru ingat kamu punya rumah, ??


Hanna dari mana saja kamu kami sangat mencemaskanmu,,?" seru satiawan.


"Maafkan aku kak, tadi kami terjebak hujan dan jalan untuk pulang tertutup banjir, kami terpaksa memutar jalan,," mencoba menjelaskan.


Iyak,, tadi ..."terhenti.


Cukup daffa aku percayakan adikku tapi, sepertinya kamu tidak menghargai kepercayaan ku,," ujar dema dengan tegas.


Kakak,,,"


Masuk hanna,,,!!!!"sentak dema.


Hanna berlari menuju kamarnya, sembari menangis karna tak biasanya kakaknya bicara keras padanya.


"Sebaiknya lo balik, dan gak usah ketemu dulu sama adek gue". keras satiawan.


Pergi dari sini dafa sebelum aku menyeretmu" ancam dema.


Baik,, tapi aku mohon pada kalian jangan terlalu keras padanya dia berkata benar,," mencoba meyakinkan dema.


"Aku tidak butuh penjelasanmu,,,,!!!!"


Menutup pintu rumahnya.


"Kenapa mereka tidak mau mendengar penjelasanku, kenapa kak dema dan kak satiawan bicara begitu keras padaku" tersedu-sedu.


Kak,,


Han, kakak mu seperti itu karna sayang padamu dan mereka sangat mencemaskanmu jangan anggap kakakmu marah itu tanda dia menyayangimu ,," mencoba menenangkan hanna.


Tapi,, harus kah dengan berkata keras kepadaku ??" ibuku saja tidak pernah berkata keras kepadaku,,,


"Mungkin cara mereka salah tapi, aku berani menjamin kasih sayang mereka sangat besar padamu" memeluk hanna.


Hanna hanya tertegun diam dengan terisak-isak, mendengar perkataan resta dan membuatnya tenang.


"Sekarang minta maaflah pada kakakmu, berjanjilah jangan buat kakak-kakakmu ke khawatiran lagi." mengembangkan senyuman nya pada hanna.


Hanna menganggukan kepalanya dan mengusap pipinya yg basah."baiklah kak, aku meminta maaf aku telah membuat seisi rumah marah,,,,hikss".


"Gadis pintar ,,, pergilah temui kakak-kakakmu "


...----------------...


Dema yg masih terdiam di ruang tengah masih memikirkan hanna, dan mencoba meredam kemarahannya.


Sudahlah kak,, sekarang kan hanna sudah pulang ,,!"


Ntahlah,,,!!! aku merasa sangat cemas bila dia sudah berani pergi dengan seorang pria,," keluh dema.


Stiawan mencoba menenangkan dema "Tentu kak, aku pun sama cemasnya seperti kakak,, tapi, kita jangan terlalu keras padanya kasian juga aku melihat hanna aku tak tega memarahinya"


Aku tahu tapi, jika tidak begitu dia akan melakukan kesalahan yg sama nantinya ,," tegas dema pada satiawan agar tidak selalu membela kesalahan adiknya.


Satiawan hanya diam dan tidak bisa bicara apapun lagi, sekilas sudut matanya menangkap wajah sendu adiknya yg sembab karna menangis, turun dari atas anak tangga dan tak sengaja mendengar pembicaraan kakak-kakak nya.


'


"Kakak,,,


Hanna...


"*M*aafkan aku ,, aku sudah membuat kalian cemas bisakah kalian memaafkanku???" memandangi wajah kakak-kakaknya.


Hanna aku tidak marah padamu, aku sungguh sangat khawatir padamu adiku,," lirih dema.


"Han, jangan kamu ulangi lagi ya?? setidaknya beri kabar pada salah satu dari kakakmu,," pinta satiawan memeluk adiknya.


Iyak kak,," ujung matanya meneteskan air hingga membasahi pipinya.


Maafkan kakak juga ya,, kakak sudah terlalu keras padamu ,," ucap dema dan satiawan.


Resta tak sengaja melihat pemandangan itu menjadi terharu dan meneteskan air mata.


"Kalian sudah membuatku menangis ,, " ucap rezta sambil bercanda.


Satiawan, dema dan hanna melepas pelukannya dan tersenyum melihat resta terisak. "ayok kita makan dulu ,,, ujar rezta mengajak mereka .


Baiklah bu negara ,,," kompak.


Mereka pun pergi ke ruang makan, meskipun begitu kemarahan dema tidak bisa mengalahkan kasih sayangnya pada hanna.


Dema mulai menyadari bahwa adik nya sudah bertumbuh dewasa dan mulai tertarik pada lawan jenis nya dia pun sudah menyadari bahwa dafa telah jatuh hati pada hanna dengan sikap nya terhadap adiknya itu, dema sudah berencana untuk menyetujui perjodohan hanna dengan dimas.