
#SatuMingguSudahBerlalu
Hanna mulai sering mual dan lebih sensitif akan aroma dan sensitif akan segala hal membuat pria bergelar CEO terbaik itu dibuat kebingungan oleh Hanna, Dimas terheran-heran dengan perubahan sikap Hanna terkadang mual, terkadang marah-marah gak jelas, dan terkadang lemas pingsan tiba-tiba menjadi wanita yg super sensitif hingga Dimas pusing dibuatnya.
Disuatu pagi Hanna menikmati udara segar di halaman belakang dan membuatnya begitu nyaman "Ethan tolong buatkan saya jus lemon" panggilnya pada salah seorang pelayan.
"Baik nyonya saya akan ambilkan" jawab Ethan mengiyakan permintaan majikannya.
Dimas telah bersiap untuk berangkat ke kantor mencari di sekitarannya sosok sang istri tercinta yg terbiasa dihantarnya dengan satu senyuman manisnya. "Sayang ,,,"panggilan hangat dari pria tampan itu.
"Hemmm.." hanya bergumam saja dan menoleh arah belakang, tepat wujud suaminya tengah berjalan menuju arahnya dengan setelan jas nampak rapih dan berkelas."Kenapa tidak menyahut aku memanggilmu dari tadi,,-" gerutu kecil ia bisikan di telinga istrinya dari belakang.
"Aku akan berangkat kekantor apa kau tidak akan memberiku satu ciuman saja morning kiss,," memasang wajah manja nya. Hanna hanya menatap dingin pria disampingnya itu. "Dimas aku sedang tak ingin, jika kau ingin pergi maka pergilah,,"ketusnya. Begitu dingin mengunci pandangannya arah kolam renang yg begitu jernih.
Dimas tak heran lagi dengan sikap hanna, dia hanya menghela nafas panjang dan mengecup pucuk kepala Hanna dan pergi.
Dengan mengendarai mobil mewahnya Dimas pergi tanpa ditemani sopir pribadinya, memecah keramaian jalanan terlihat jelas orang berlalu-lalang di sepanjang jalanan trotoar dari sisi kanan dan kirinya. Tak lama ia pun sampai di depan kantor milik nya itu seperti biasa sambutan hangat "Selamat Pagi" selalu terdengar dari para karyawan nya.
"Pagi tuan?" pintu terbuka dengan suara seorang yg memasuki ruangan.
"Lusut sekali anda belakangan ini?"goda Jeremy melihat wajah Dimas bagaikan di tekuk.
"Diam lah aku sedang tak berselera untuk bercanda,,!!" lesu.
Jeremy paham akan sikapnya tanpa di beri tahukan pun ia sangat tahu dari sifat sahabatnya sekaligus rekan nya itu. "Masalahmu cukup berat bro, aku ikut turut prihatin" canda Jeremy menepuk pundak Dimas.
'Whatt.... Jeremy kemari kau ..."mengejar Jeremy seakan-akan anak kecil memenuhi ruangan kerja kebesaran Dimas.
"Hahahahhaaa...... aku bercanda .. dim... canda.. I'm sorry kidding.." habis di gelitikin Dimas.
Dimas pun berhenti, saling tertawa, kemudian Dimas pun bercerita tentang Hanna, Jeremy memahami sekali yg terjadi pada Hanna namun, sengaja Jeremy menyuruhnya untuk memastikan sendiri dan mengusulkan untuk membawanya ke dokter.
Dimas mengerutkan dahinya menerka-nerka perkataan sahabatnya merasa istrinya sehat bugar, secara jasmani namun, terpikirkan kembali saat-saat sikap nya yg aneh membuatnya tidak paham akan keinginan sang istri yg serba salah dibuatnya.
"kringgg....kringgg...
"kringgg...kringgg...
Suara dering telepon memecah lamunan Dimas, entah siapa yang menelponnya melalui telepon kantornya mencoba meraih gagang telepon tersebut diatas meja seakan terasa berat dan ragu untuk mengangkat panggilan. "Jem, angkat lah aku merasa malas saat ini"ucap Dimas membiarkan telepon itu terus berdering.
"Mmmm... oke .."beranjak dari sofa dan meraih gagang telepon diatas meja kerja Dimas.
"Hallo... selamat siang.? ...ad...-"belum sempat selesai bicara seorang wanita di sebrang telepon itu sudah menyelanya.
"Dimas ,, kamu sudah tidak menyayangi ku berangkat tak seijinku ,, -
"....aku ingin kamu berada dirumah kamu sangat tidak peka dengan sikapku kau sudah tidak mencintai ku lagih yak,,,"rengek jelas suara manja Hanna membuat sontak Jeremy terdiam.
"Bro, habislah kau...."suara pelan dengan kode memainkan tangan di arah leher Jeremy membuat Dimas tak memahami maksud dari kata-katanya. "Apa?" tanya heran Dimas. Jeremy meletakan gagang teleponnya Dimas paham tindakan Jeremy menaruh telpon berharap dimas yg mengangkatnya.
"Hall....." terdiam seketika tanpa melanjutkan ucapannya.
"Tuttt....tuttt......tuttt ....
Dimas hanya terdiam membatu tak mengerti lagi akan sikap Hanna, Dimas dibuat mati kutu olehnya setelah menyimpan gagang telepon pada tempatnya, Dimas menoleh arah Jeremy menatap konyol padanya sebaliknya Jeremy mengalihkan pandangan sembari bersiul seakan tak ingin tahu apa-apa "Jem, kenapa kau tidak bilang yg menelepon istriku..??" keluh Dimas.
"Apa kau bertanya?? ledeknya.
"Dia mulai marah lagi jem, bantu aku?" pinta Dimas.
"Kenapa minta tolong padaku, kau mengangkatnya saja tidak mau,!!" ketus jeremy.
Dimas tak bicara lagi namun, memasang raut wajah yg memelas untuk mencarikan permintaan istri tercintanya. "Oke deh,, kasian amat mukanya"ledeknya lagi.
"Ehh,, bukan kah kau tadi pagi pamit pergi?" sambung Jeremy
Terheran "iyak,, kenapa?'"
"Tapi, katanya istrimu ..." terhenti. "Sudahlah aku paham pasti dia bilang aku nggak pamit,,!!"mengerucut kan bibirnya.
Senyum yg tertahan nampak jelas terlihat oleh Dimas, Dimas pun merangkul pundak Jeremy dengan penuh candaan ala pria.
Sembari berjalan menuju kendaraan mewahnya, langkah kaki Dimas begitu terasa berat memikirkan segalanya terasa berputar diatas kepalanya mendongak atas langit-langit tak karuan pria di sampingnya hanya menggeleng-geleng kan kepala melihat temannya yg begitu lusut "Kasian,,, sabar kabar baik sedang menantimu sobat,,"mengedipkan sebelah matanya.
Masih dengan raut muka yg ditekuk tak menggubris ucapan Jeremy, memasang wajah datar dan menjalankan kendaraan miliknya.
Entah memikirkan demikian atau memikirkan hal lain Dimas tak sengaja malah membeli se-box makanan Cina jeremy tak banyak berkomentar iya hanya diam saja melihat temannya, hanya mengembangkan senyuman kecil dari wajah nya dan menawarkan diri untuk mengendarai mobil sport nya tanpa menolaknya.
20menit berlalu.
Jeremy memecah jalanan hingga seketika tak terasa sudah sampai di depan rumah Dimas, mereka turun dari mobil Dimas menghela nafas panjang dan menatap serong ke arah kantung bungkusan yg di bawanya.
"Udah ayo masuk,,??" ajak Jeremy.
"Hmmm..."meng-iyakan ajakan Jeremy,
Baru saja melangkahkan kaki menuju anak tangga sembari merasakan hal yg ia takuti namun, sang asisten rumah tangga menghampiri nya dengan berlari setengah panik "Ahh,,, tuan kebetulan tuan pulang ,,-" ujar pembantu.
"Ada apa kenapa kau terlihat panik??" tanya Jeremy. "Nyonya tuan nyonya,,"sambungnya pembantu dengan nada penuh risau. Dimas spontan masuk dan berlari tanpa mendengarkan lagi sang pembantu mengkhawatirkan istrinya "Dim,,, "panggilnya Jemmy. Dimas pun tak menghiraukan kan panggilan Jeremy dan langsung masuk rumah.
"Sebenarnya ada apa coba kau pelan-pelan jelaskan .."menenangkan pembantu. "Nyonya hazell,,, nyonya ,,, pingsan tuan Jeremy"!!
"Oh,,my God,"berlari menyusul Dimas.
#jangan lupa vote
#like
#and
#komentar nya yak...