
Sepintas pikir Jeremy bahwa Shyren takkan pernah berhenti untuk mencoba mendekati Dimas
"Dim, come on keluar lah dia sudah pergi"
Kepala muncul begitu mengejutkan jeremy yg menunggu diluar toilet pria "Ahh ... bisakah sedikit saja tidak mengejutkan ku dim?!" Jeremy mengusap dada nya.
"Banci kau, gitu aja kaget !!"
"Sorry??"
"Bercanda sobat..
"Aku bingung dengan cara apalagi aku harus menghindarinya, dia wanita yg keras kepala jem.."ujar Dimas menggaruk - garuk kepalanya.
"Tenanglah, kita makan siang diluar ajak juga Hanna bersama kita dia pasti senang"
Dimas cukup tersenyum dan mengangguk, namun tak dipungkiri perasaan takut nya seringkali muncul mengkhawatirkan Shyren jika dia sampai bertemu dengan Hanna ntah apa yg akan terjadi.
Bukan karena dia mantan kekasih nya namun, keinginan nya adalah sebagai hasrat, dia tahu betul sifat dan karakter seseorang Shyren.
Dimas dan Jeremy menjemput Hanna dan makan siang diluar begitu senang ia dapat launch bersama "Makasih ya udah ajak aku sayang ,, kamu sangat tahu kalau aku sedang merasa bosan dirumah hanya bisa berdiam diri"
"Tentu sayang "tersenyum.
"Rasanya aku harus pergi .. karena tidak asik jika disini aku hanya sebagai nyamuk" goda Jeremy.
"Jeremy... !!" Dimas dan Hanna.
Ntah kebetulan atau memang Tuhan sudah mengtakdirkan ditengah kebersamaan mereka Shyren tepat berada dibelakang meja mereka yg tengah menyantap makan siang disana.
Suara yg khas begitu ia kenal dan tak asing membuat Shyren tak bisa menahan untuk berpaling.
"Jemy, Dimas.."
Ia menaikan ujung bibir nya melihat Dimas tak jauh dari nya namun seketika saja mengerutkan dahi nya melihat diantara mereka terdapat sosok wanita cantik. "Siapa dia,, kelihatannya Dimas dan Jemy begitu akrab??"
Rasa keingintahuan Shyren membuat dirinya tidak bisa menahan diri untuk menghampiri mereka jelas Dimas terperangah melihat Shyren sudah berada tepat di belakang hanna.
"Hai .. boleh gabung nggak?"
"Shy-ren .." Dimas dan Jeremy.
Dimas dan Jeremy saling bertatapan.
"Siapa sayang?" tanya Hanna seketika bangun dari duduknya.
"Eummmm...."menatap Jeremy.
"Ini rekan kerja kita di kantor Han,, " Jeremy spontan bangun dan mendekati Shyren.
"Apaaa!!! ...
"Dia memanggilmu sayang dim? siapa dia?"
"Dimas.." panggil Hanna
Dimas begitu geram melihat Shyren berada di restoran yg sama disana. Jeremy juga Dimas kini menjadi tegang ketakutan yg sama membuat jeremy tegang.
"Sayang duduklah biar nanti aku jelaskan ya?"
"Tapi, dia siapa kenapa kamu tidak menjawab??!" desak Hanna.
"Jaga ucapan kamu Shyren..." Sentak Dimas dengan penuh kekesalan mendengar perkataan Shyren bagai ribuan jarum menusuk di telinga nya.
".. Jangan sekalipun menghina istriku!!"
"Istri .." menatap Hanna dengan sinis.
"Apa kamu tidak salah pilih Dimas, dari banyaknya wanita di dunia ini kamu lebih memilih gadis buta ini?!"
sungutnya.
Dimas mulai naik pitan dengan ocehan Shyren yg terus berkata "gadis buta" kepada istrinya, emosi dimas memuncak.
"Diam Shyren ... yg kamu sebut gadis buta ini adalah istriku jangan melewati batas mu " nada tinggi dari Dimas membuat Shyren membulatkan matanya seolah tak percaya sikap Dimas.
"Ayo sayang kita pulang" membawa Hanna menuju mobil.
Jeremy pun meninggalkan Shyren disana yg masih terdiam membeku yg begitu kesal karna tidak di perduli kan dimas.
Hanna terisak-isak menangis terluka dengan ucapan Shyren bagaikan tersayat-sayat, Dimas sangat memahami hati hanna sekaligus merasa bersalah.
Sepanjang perjalanan Hanna terdiam, tidak bicara sepatah kata pun hingga sesampainya di istana miliknya Hanna masih terdiam dan menolak untuk menggenggam tangan Dimas.
"Sayang .. kita sudah sam-..."
"Ti-tidak Dimas .. aku bisa sendiri" menolak bantuan Dimas.
"Tapi..
"A-aku bisa dimas .." pergi menggunakan tongkatnya.
"Baiklah .."lirihnya.
Dimaspun pasrah dengan mengikutinya dari belakang, isakan tangis Hanna begitu menusuk di dalam jiwanya rasa bersalah begitu menyiksanya.
Hanna segera masuk ke kamarnya dengan masih diikuti Dimas dan menutup pintu.
"Sayang .. kenapa di kunci biarkan aku menjelaskan semuanya..!"
..." .
Tidak ada jawaban sedikitpun dari Hanna.
"Kenapa rasanya sakit sekali hati ini, jika gadis itu memang pilihan suamiku kenapa aku harus kecewa-..." tersedu-sedu.
"Dan ...A-aku sudah memintanya untuk mencari wanita lain tapi, hatiku ma..sih belum siap menerima semua ini bisakah aku kuat, i..iya aku harus kuat a..ku tidak boleh marah, bukankah aku yg menginginkan nya ..."Isak tangisnya pun terpecah.
Dimas masih menunggu Hanna membuka pintu, dengan pakaian yg sudah semrawut tidak karuan.
Tok.. tok..tok..
"Sayang .. bukalah biar aku jelaskan semuanya!!"
"A..aku ingin pergi mandi dulu sayang, bi..biarkan a-ku bersiap sendiri nanti aku menemuimu .." mencoba ceria kembali meski ucapan nya setengah tersengal menahan tangisnya.
"Tapi ..."
"Aku mohon Dimas .."
"Baiklah .."