MY DEARY

MY DEARY
#: PENYESALAN SATIAWAN II



#II: PENYESALAN


aghisya tersedu-sedu menuju kamar nya, dia teringat kembali saat dirinya kehilangan anaknya, dimana satiawan tak pernah menghubungi nya sama sekali meski berulang kali menghubunginya satiawan sangat sulit di hubungi, aghisya amat terluka atas acuh nya satiawan saat dia dimasa sulitnya yg sudah mengandung diluar nikah.


satiawan benar benar sudah membuat aghisya sehancur-hancurnya, meski aghisya masih sangat mencintai satiawan namun, dia harus berusaha melupakan perasaan itu dan menghilangkan perasaan itu dari hatinya.


"luka yg telah di tanam satiawan membuat aghisya tak bisa melupakan semuanya.


"kenapa hidupku harus sesulit ini kenapa disaat aku butuh kamu, kamu gak pernah sekalipun menghubungiku sekarang kamu sudah membuka lukaku satiawan dengan menanyakan kepastianku" jeritnya aghisya di dalam kamarnya sembari menangis.


terdengar suara ketukan di balik pintu kamarnya yg terkunci.


tokk...tokk.....tok......


"aghisya sayang,, kenapa kamu nak, " wanita paruh baya itu memanggil manggil dirinya. aghisya tak menjawab pertanyaan ibunya dan terhanyut dalam kesedihannya. "sayang,tolong buka pintunya jangan buat mama khawatir " ujar mama aghisya.


mam, saat ini aku ingin sendiri tolong tinggalin ghisya sendirian dulu." teriaknya dengan mata sembab. "baiklah mama tinggalkan kamu" ucap mama aghisya sembari meninggalkan pintu kamar aghisya.


kringh...kringg...kringg...


deringan bunyi handphone-nya aghisya terdengar, aghisya mengarahkan pandangannya pada tas di sampingnya dan merogoh isi tas nya.


aghisya mengusap layar ponselnya dan melihat layar ponselnya dengan bertuliskan Unknown Number. aghisya mengangkat telpon.


"hallo,," terisak isak.


"aghisya, " suara di sebrang sana.


"si..siapa ini?" tercengang diam mendengar suara yg tidak asing baginya. "a..aku satiawan aghisya." jauh disana terdengar sedang menangis.


"kenapa kamu menghubungiku satiawan diantara kita sudah selesai begitupun jawaban yg kamu minta selama ini" sontak aghisya mengeraskan suara nya. "aghisya cobalah dengar dulu penjelasanku aku akan menunggumu di tempat kesukaan kita, aku mohon ghisya" pinta satiawan di sebang telponnya.


"kenapa,, kenapa aku harus temuin kamu aku sudah cukup terluka satiawan jangan buat aku semakin terluka" air matanya sudah tak terbendung lagi aghisya pun menangis tersedu sedu. "aku mohon sha kali ini saja aku mohon padamu akan aku tunggu sampai kamu mau menemuiku" ucap satiawan tegas.


aghisya tanpa menjawab sepatah kata pun mematikan telponnya dan melemparnya ke atas ranjang.


aghisya mengusap air mata nya dan membersihkan wajahnya dengan air,


...----------------...


30 menit berlalu


dema sampai kerumahnya di sambut resta di depan pintu, dema yg terlihat lusut berantakan begitu berat melangkahkan kakinya.


"hayy sayang, bagaimana di kantormu?" tanya resta sembari meraih tas yg di bawa dema.


"baik," singkat.


"kenapa kamu pah, kurasa suasana hatimu sedang tidak baik." memandang wajah dema penuh penasaran. seorang gadis menghampiri mereka yg tengah mengobrol.


"kakak malam sekali pulangnya tumben,,"terlihat hanna menuruni tangga. "iya hari ini kakak sibuk sekaligus banyak masalah di kantor" melonggarkan dasi dari kerah nya.


"emmm,, masalah apa? oh ya mana kakakku yg satunya lagi?" mengedarkan pandangannya mencari sosok yg di carinya.


"masalah satiawan." sontak membuat resta juga hanna termenung memandang dema. "satiawan? ada apa dengan nya pah?" duduk di sebelah dema. "dia sudah tau semuanya sayank, sekarng dia pergi menemui aghisya" ucap dema yg masih membuat hanna bertanya tanya.


"aghisya siapa dia kak?" mengerutkan dahinya. "pacar kakakmu" ujar dema sedikit menaikan dahinya yg terlihat kesal.


dema menceritakan semuanya, hingga hanna terkejut dibuatnya, resta hanya diam dan memahami karna sia tau apa yg sudah terjadi pada aghisya saat tempo hari bertemu ayahnya aghisya.


"kakak serius, ?" hanna melebarkan bola matanya. "iya hanna sayangku" dema mencubit hidung mancung adiknya. "ihh kakak aku serius" rengeknya. "kakak juga lagi gak becanda ko" meminum segelas air yg sudah di sediakan oleh resta istrinya.


"lupakan soal satiawan biar dia menyelesaikan masalahnya sendiri, kakak dengar ada yg sudah bersenang senang di pantai tadi siang" menyorotkan bola mata nya ke arah hanna. hanna yg merasa tersindir dan merasa dia orang yg telah di maksud kakaknya.


"apaan sih kakak?" memalingkan wajah nya.


"seberapa dekat kamu sekarang dengan dimas" tanya dema menatap kedua manik mata hanna. "tau ahh"pergi berlari menuju kamarnya.


dema dan resta hanya tersenyum melihat hanna bersikap malu-malu pada kakaknya, mereka pun pergi ke kamarnya menemui putri kecilnya yg sedang tidur.


...****************...


arloginya sudah menunjukan pukul 10.45


satiawan sudah cukup lama menunggu aghisya yg tak kunjung datang juga namun satiawan tidak menyerah dia tetap menunggu kedatangan nya meski angin malam begitu meresap kedalam tubuhnya.


satiawan berulang kali menghubungi aghisya juga mengirim pesan pada aghisya namun tidak mendapatkan respon.


aghisya hanya memandangi layar ponselnya yg terus menyala, dia masih ragu dengan keputusannya untuk tidak menemui satiawan namun hati dan lidahnya bertolak belakang, meski bibir berkata tidak namun hatinya ya.


aghisya pun mengalah pada hatinya dan memutuskan untuk pergi ke taman menemui satiawan.


1jam kemudian


aghisya tak mendapati seseorang dalam pandangan nya aghisya mengedarkan tatapannya mencari sosok satiawan yg sedang menunggunya.


"akhirnya kamu mau bertemu denganku sha?" suara terdengar di belakang punggung aghisya.


"stiawan." gumam aghisya seketika berbalik. "terima kasih aghisya kamu mau menemuiku" menyambut tangan aghisya dengan kedua tangannya. aghisya melepas kan kedua tangannya dari satiawan dan mengalihkan pandangannya ketempat lain.


dia tahu bahwa hatinya yg sedang berkecamuk dengan pikirannya ingin menolak namun hatinya tidak bisa. "katakan apa yg mau kamu katakan ?" aghisya membalikan tubuhnya menghindari pandangan satiawan.


"bisakah kamu bicara sambil melihatku sha?" menundukan wajahnya sejajar dengan wajah aghisya.


"satiawan hentikan ini aku sudah tidak mau berbasa basi lagi" sontak aghisya. "aghisya bisakah kamu memberiku kesempatan untukku memperbaiki semua kesalahanku ?" meraih tangan aghisya.


"apa yg harus di perbaiki satiawan semua nya sudah terjadi" matanya pun mulai berkubang air mata.


"sha , aku mohon sha kasih aku kesempatan aku janji aku tidak akan pernah menyakitimu lagi" melipat kakinya dan menundukan tubuh nya di hadapan aghisya. "janji.... Lagii....." tersenyum kecil bertangis air mata. "kamu keterlaluan satiawan, kamu menjanjikan hal yg sama namun seketika kamu mengubah nya lagi, hebat banget kamu" menangis sendu.


"sha aku rela kamu mau pukul aku mau hukum aku bagaimana pun tapi, aku mohon kamu bisa maafin aku dan berikan aku kesempatan kedua untuk memperbaiki kesalahanku" stiawan masihh tersimpuh di hadapan aghisya dan terus memohon.


"kamu sudah terlambat menyadari itu semua satiawan" pergi berlalu meninggalkan satiawan sendiri.


aghisya beranjak pergi menuju mobilnya dan bergegas kembali pulang ke rumahnya, sambil menangis aghisya memikirkan perkataan satiawan yg ingin memperbaiki hubungannya yg telah kandas karna suatu peristiwa.


hati aghisya begitu terluka saat menolak permintaan satiawan tak bisa di pungkiri hatinya masih mengharapkan satiawan kembali ke sisinya lagi namun, apa daya aghisya masih di selimuti ego nya atas apa yg sudah di perbuat satiawan.


...----------------...


#jangan lupa vote and likenya.