
Jeremy terperangai Shyren berjalan kesal menuju lobi, Jeremy segera menemui Dimas yg telah berada diruangan miliknya "Dimas Shyren sudah pergi da-n... terlihat sangat kesal " ujar Jeremy.
"Biarlah..."
Jeremy tak memahami dengan tingkah Dimas malah pergi keruangannya dan membiarkan Shyren pergi begitu saja dengan wajah yg kesal.
"Apa yg kamu lakukan pada Shyren dim?" tanya Jeremy.
"No.. aku tidak melakukan apapun, hanya saja aku menggunakan ponselku dan menghubungi nomor kantor dan aku katakan bahwa aku ada metting.. sudah itu saja!!" datar.
Jeremy hanya menggeleng kan kepalanya dan sedikit tersenyum kecil atas cara Dimas yg ingin menghindari Shyren.
******
#21.50 Malam.
Hujan begitu lebat diluar membuat Dimas terlambat pulang karna kemacetan, Hanna yg mulai gelisah karna sang suami tak kunjung pulang juga membuat nya tidak tenang dan berpikiran yg tidak-tidak.
"Dimas kenapa belum juga pulang apa dia baik-baik aja?!" resah.
Hanna yg tidak bisa kemanapun hanya bisa menunggu berharap sang suami tercinta nya segera pulang agar hatinya tidak di penuhi kekhawatiran.
Beberapa jam berlalu akhirnya Dimas sampai dirumah setelah kemacetan berlalu.
"Tuan,, malam sekali pulangnya nyonya dari tadi menunggu gelisah terus " salah satu asisten rumah tangga yg membuka kan pintu.
"Saya terjebak macet parah, jadi saya tidak bisa pulang cepat !!"sahutnya.
"Dimana nyonya??
"Ada di kamarnya tuan ,"
Dimas segera menemui Hanna di kamar yg sudah lama menantinya untuk menjelaskan atas keterlambatan nya.
"Sayang ,, aku pulang!!
Ctrek...
"Sayang ... maaf aku tidak bisa pulang cepat a-ku.."Terhenti. melihat Hanna tertidur di atas sofa karena terlalu lama menantikan Dimas yg belum pulang.
"Ya ampun istri cantikku sampai tertidur di sofa, !!"mengangkat tubuh Hanna dan memindahkan nya ke atas ranjang.
Tubuh Hanna menggeliat merasakan sentuhan seseorang, Hanna terbangun saat ada hembusan nafas hangat menyentuh wajahnya "Dimas itukah kamu, lama sekali kamu pulang!!" tanyanya meraba-raba wajah pria di dekatnya itu.
"Maaf aku terlambat!!"
"Sudah kah kamu makan?!"
"Sudah," bisiknya.
Dimas begitu terenyuh menatap wajah Hanna yg polos, air matanya jatuh begitu saja menimpa wajah Hanna. "Sayang kamu menangis?!"
Dimas segera menyapu wajahnya "Tidak .. sayang aku hanya ingin memandangmu ..!
"Kamu setiap hari selalu melihatku apakah masih kurang?!"
"Kurang .. aku ingin menatap mu sampai aku puas, tidurlah !!" sahut Dimas yg masih menatap dekat wajah Hanna.
Hanna tersenyum dan memeluk Dimas.
Setelah hari berganti Dimas sudah berada dikantor sebelum Hanna terbangun, tuntutan tugas kantor membuat sedemikian Dimas amat sulit membagi waktu untuk Hanna namun, Hanna tak pernah mempermasalahkan semua itu ia begitu.
"Kamu.." tugur Dimas.
"Hai.. morning?" sapa Shyren melukis senyuman diwajahnya.
"Se-pagi ini kamu sedang apa di kantor ku??" tegas Dimas menatap kesal Shyren.
"Sayang kok kamu marah harusnya kamu seneng dong sekarang aku ada disini, didepan kamu"Memeluk lengan Dimas.
"Aku sudah bilang jangan bertingkah seperti anak kecil Shyren, lepaskan!!"
Tatapan kesal Shyren tak dihiraukan Dimas, ia begitu tak memperdulikan wanita cantik semampai di hadapan nya wajahnya begitu datar ia hanya terfokus pada laptop dan pekerjaan nya saja.
Tingkah Dimas yg dingin tidak membuat Shyren hilang harapan malah ia semakin bersemangat untuk mendapatkan Dimas kembali.
Shyren tetap berdiam di sofa menunggu Dimas menyelesaikan kan pekerjaan yg tengah membuatnya sibuk semba sembari memainkan ponselnya.
"Kenapa dingin banget sih, biasanya dia paling suka aku sambut dia !!" mengerutkan kan bibirnya yg merah merekah.
"Kamu masih disini?!" menghela nafas berat.
"Aku nungguin kamu, salah!!"
"Terserah..
"Ihhh... jahat banget sih aku dicuekin ginih!!"
Shyren tak berhenti menatap Dimas, kesal karena Dimas terus tak menghiraukan nya Shyren mendekati nya dan segera menutup laptop di depan Dimas. "Shyren ... "ck.
"Cukup Dimas ..!! jangan diemin aku kaya gini dong .."
"Apa sih yg kamu mau?" sebel.
"Aku mau kita balik kaya dulu .."mengalungkan kedua tangan nya di leher Dimas.
"Nggak bisa maaf "melepas kan tangan Shyren.
Dimas meninggalkan ruangan dan pergi disusul Shyren dari belakang mengikuti nya.
"Dimas"..
"Apa lagi kamu mau ikut?!"
Tertera Toilet Pria di belakang Dimas, "No, sorry !!"
"Hhahahaha...." suara tawa terbahak-bahak dari kejauhan.
Jeremy tidak bisa menahan tawa nya lagi saat melihat Shyren mengikuti Dimas ke toilet dan dibuat salting disana. "Menurut mu ini lucu Jemy?" kesal.
"Emmm .. sorry kelepasan" menahan tawanya.
"Ihh ... sungguh keterlaluan Dimas."pergi menghentak kan kakinya dengan kesal.
Shyren pun bertanya-tanya mengapa Dimas begitu dingin dan begitu keras menolak nya, padahal selagi mereka bersama Dimas tidak pernah bersikap demikian, namun sebaliknya Dimas sangat hangat memperlakukan nya.
Tidak ingin menyerah begitu saja ia pun berniat tuk kembali lagi menemui Dimas dan mengajaknya bicarakan baik-baik tentang keinginannya untuk memperbaiki hubungan yang telah lama kandas.
"Aku tidak akan menyerah Dimas .."