
Pagi yg indah, hembusan udara sejuk pun menembus sela-sela ruangan, tubuh gadis cantik tepat tengah terbaring menggeliat dan terbangun tak sadar sudah terbaring pria tampan disampingnya. Beberapa saat ia mengusili Dimas dan mencubit hidung mancung pria disampingnya, Dimas tak juga terbangun sesaat hanya menggaruk-garuk hidungnya.Hanna tersenyum usil melihat suaminya yg merasa pengap karna hidungnya dicubit sang istri. "Nyenyak banget sih...."ledeknya.
Kaki jenjang mulus dan indah terurai untuk beranjak dari tempat tidur namun, sebuah tangan menarik nya kembali ke atas ranjang dan menimpa suaminya "Ingin pergi kemana kamu gadis nakal?" bisik Dimas dengan suara serak khas seperti bangun tidur. Terbelalak mata gadis cantik nan anggun itu dengan pakaian dress mini begitu jelas terlihat belahan benda kembar miliknya itu, wajah Hanna mulai me-merah saat kedua manik mata Dimas terus memandanginya.
"Dimas,,"mencoba melepas dekapan dimas.
"Apa?dasar nakal "mencubit hidung Hanna. Tak butuh waktu lama Dimas membalikkan tubuh Hanna hingga berada di bawah dekapannya. Dimas mulai merasakan perasaan yg sama saat menatap kedua biji manik indah mata hanna, meski bangun tidur wajah Hanna tetap terlihat cantik natural tanpa riasan wajah, terlihat bibir lancipnya nya yg sedikit terbuka dan selalu menantang itu gairah Dimas semakin membesar rasa ingin menggeluti bibir Hanna.
"Cupp ..." ciuman pun mendarat di bibir Hanna, Hanna terbelalak saat Dimas mulai menyentuh lembut bibirnya.
"Kau selalu menantang gairahku, bisakah sehari saja kau tidak membuat suamimu terpana??" ujar Dimas menatap kembali istrinya. Hanna hanya tersenyum dengan ucapan Dimas tak menunggu waktu lama Dimas mulai menciumi setiap sudut lekukan tubuh Hanna, Hanna menggeliat saat sentuhan Dimas mulai menjalari area sensitif nya, "Dim.....ehhh" suara serak dari Hanna membuat gairah Dimas semakin memuncak dan meninggalkan jejak ke pemilikannya disana.
Kain yg membalut tubuhnya pun terlepas satu demi satu hingga mereka saling merasakan kenikmatan disana.
Waktu berlalu begitu saja dan kedua pasangan itu usai dengan acaranya, dimas yg sudah terlihat tampan dengan kemeja juga balutan jas begitu menawan tak kalah dengan sang pujaan yg sudah berbalut dress biru siap mengantarkan suaminya untuk berangkat ke kantor. "Aku pergi, kau yakin tak mau ikut denganku menemui klien disaat makan siang?" tanya Dimas.
"Tidak dim, aku tidak mau kemana-mana aku di rumah aja, lagian Jeremy ada untuk menemanimu yak kan sayang ,,!!!" mengalungkan kedua tangan nya di leher. Saling bertatap muka terbilang sangat dekat hanya berjarak sentian membuat Dimas menjatuhkan ciuman nya lagi pada Hanna. Saling berlumat sesaat bertukar Saliva merasakan kenikmatan cinta, mereka pun saling melepaskan ciumannya. "Pergilah kalo begini terus kau tidak akan sampai-sampai ke kantor" mengusap ujung bibir Dimas yg sedikit basah. "Baiklah nyonya,-" goda dimas berbalik membelakangi istrinya.
"Tapi, ..."langkah dimas terhenti.
"Tapi, apa?..-"diam seketika Dimas sekilas cepat mencium Hanna dan pergi berangkat ke kantor.
"Hah...-" kejut.
"Dasar pria nakal',,,"menggelengkan kepala nya.
Hanna kembali kedalam rumahnya berniat untuk bersantai di pinggiran kolam dihalaman belakang rumahnya namun, di kejutkan dengan suara bel rumah rupanya ada yg bertamu Hanna tak berpikir panjang dan menghampiri arah suara bel karena pelayan di sibukan dengan perkejaannya masing-masing terpaksa ia sendiri yg membuka pintu "Pasti itu dimas, dasar pasti ada yg ketinggalan" pikir Hanna.
"T**ingg....."suara bel pintu.
"Iya sebentar,," kata Hanna.
"kreek trekk,,,," pintu pun di bukanya. Betapa terkejutnya Hanna saat melihat sosok di depannya tengah berdiri pria tampan tinggi berparas Itali tak lain Alonso tepat berdiri di depan pintu besar dan mewah itu "Kau" mengerutkan kedua alisnya.
"Pagi nona ,, Upsss nyonya dimas apa saya mengganggu anda?" bertingkah sopan dengan senyum licik terlukis di Raut wajahnya. Hanna mulai tak merasa nyaman dengan kehadiran Alonso disana. "Maaf suami saya tidak ada dirumah," menutup pintu.
"Alonso pergi dari rumahku sebelum aku panggil keamanan kemari,!!" ancam Hanna pada pria Itali di depannya.
"Benarkah ...???
"Owww ... aku mulai takut" begitu kalemnya menanggapinya ntah meledek nya.
"Emmm... nona tenang saja aku tidak akan menyakitimu, aku hanya merindukan wajah cantik ini"mencoba menyentuh wajah Hanna yg terlihat mulus dan menggoda. "Jaga sikap anda saya bisa lebih berlaku tidak sopan jika anda berani menyentuh saya" mundur menghindari tangan Alonso yg berniat menggapai wajah Hanna.
"Uhh... menarik sekali .. aku suka itu nona cantik"menambah daya tarik Alonso yg mulai menaruh hati pada Hanna. Hanna meraih sebuah telepon di sudut meja dan berusaha menghubungi seseorang namun, dengan sigap tangan Alonso menarik telepon itu dan menutupnya kembali "Oke aku pergi kau senang, tapi lain kali aku akan kemari lagi untuk mengunjungimu" tersenyum dan meniup wajah mulus hanna sebaliknya Hanna membuang muka saat Alonso menatapnya.
"Cihhhh..... sikapmu membuat aku jijik Alonso, kau benar-benar tak tahu malu, datang berkunjung kerumah seorang wanita yg sudah bersuami dan bertingkah tidak sopan"- tegas Hanna mengutarakan ketidak sukaannya pada sikap Alonso.
Alonso tersenyum kecut tak menghiraukan ucapan Hanna, ia semakin percaya diri dengan obsesinya dan berhasrat ingin lebih memilikinya"Apapun yg kau katakan akan terasa manis bagiku,,-" jawab Alonso berjalan membelakangi Hanna dan pergi begitu saja meninggalkan Hanna yg terdiam dengan sorotan mata yg tajam mengarah pada sebuah pintu yg terbuka.
"Ethan, close the door and lock it tightly, don't let anyone open the door before you bring it back,," teriak Hanna menyuruh pelayannya untuk menutup pintu. Penuh kesal Hanna pergi melangkah menuju ruang tengah namun, seketika langkah Hanna mulai terasa berat dan pandangannya menjadi kabur, Hanna merasa pusing tangannya tertahan pada sofa di sampingnya.
"brukk...."Hanna terjatuh tak sadarkan diri.
Dua orang pelayan melihat Hanna terjatuh dan pingsan, bergegas menghampirinya dan mengangkatnya ke atas sofa, Ethan seorang pelayan kepercayaan Dimas menghubungi dimas untuk segera pulang.
salah seorang pelayan wanita berusaha membangun kan Hanna dengan minyak gosok berharap Hanna siuman segera, beberapa menit Hanna tersadar sebelum Dimas datang, Hanna menyeka wajahnya dengan tangan merasakan kepalanya yg terasa begitu berat terlihat sudah berdiri beberapa pelayan disampingnya.
"Auwww... sakit sekali kepalaku,,,"beranjak turun dari sofa. "Kenapa kalian berkumpul disini?"tanya Hanna kebingungan.
"Nyonya tadi pingsan, maka dari itu kami menjadi khawatir,,"pelayan
"Trimakasih,, sudah mengkhawatirkanku aku udah nggak apa-apa kok, kalian bisa kerjakan pekerjaan kalian lagi" ucap Hanna tersenyum kecil menyakinkan pelayannya. "Baiklah,, "jawab Ethan dan pelayan lainnya mulai berpencar mengerjakan pekerjaannya masing-masing.
Hanna yg masih merasakan pusing membuatnya harus terbaring di sofa, badannya yang terasa lemas membuatnya tak kuat untuk berjalan menaiki anak tangga.
...****************...