
"Dia berada disana tuan"ujar Alice menunjukan pada salah satu sudut tepat berdirinya seorang pembesar perusahaan ternama di bangku tamu VIP.
Alonso tersenyum kecut memandangi pria itu dari balik punggungnya yg tengah bercengkrama dengan seseorang di balik telepon.
"Baiklah sayang aku tidak akan memaksamu untuk datang kemari, tapi aku cukup kesepian disini tanpa kamu .."
"Ada Jeremy disana sayang dia ikutkan kamu takkan kesepian.."sahutnya di sebrang telepon.
"Rasanya sangat berbeda yg lain membawa pasangannya masa aku harus gandengan sama Jeremy, tega sekali!!"
Tidak sengaja mendengar perbincangan mereka Alonso juga Shyren tiba-tiba sudah berada di balik punggung laki-laki tampan tersebut. "Uhh ... Sweet sekali maaf bila saya mengganggu!!" Ucap alonso dari balik punggungnya.
Ia pun berbalik dan mengurungkan senyuman yg tadinya manis.
Menatap tajam ke arah Alonso yg membuat perhatian nya teralihkan.
"Wow .. tiba-tiba kau berada tanpa perintah apa itu kebiasaan mu" sahut Dimas membalikkan badannya dengan na di ejekan.
"Sayang kita bertemu di rumah oke?" Sambungnya.
Segera menutup ponsel miliknya dan memasukkannya ke salah satu saku celananya, berdiam dengan cool gaya khasnya yg begitu menawan.
Mendengar ucapan Dimas, Alonso menaikkan ujung bibir nya dan tersenyum licik mengukir di wajahnya dengan sempurna. "Nyonya Hanna?? Kenapa kau menutupnya biarkan sebentar saja aku bicara padanya!!"
Tahu persis sifat Alonso Dimas enggan untuk menanggapi omong kosong yg seringkali membuatnya dongkol.
"Kenapa tidak diteruskan apa kedatanganku sangat menggangu?"
Matanya menatap seperti sebuah ejekan baginya, Dimas tetap diam tidak menghiraukan Alonso.
"Dimana nyonya hanna yg cantik itu, Upss... Maaf !!"matanya memejam dengan menyentuh dahinya yg tidak gatal.
"Jangan lancang kamu Alonso.."tatapan nya seperti macan yg akan menerkam.
"Itsss.... Jangan marah dong aku hanya sedikit salah bicara.. oh iya aku lupa mungkin kamu akan senang saat melihatnya ju...ga tidak akan merasa kesepian lagi"
"Apa maksudmu?" Jawab cepat Jeremy.
"Baby... Baby... Kemarilah ada yg ingin bertemu denganmu ..!!"panggil Alonso mengarah pada gadis bergaun panjang berwarna hitam.
Shyren menghentak kan kaki nya seolah berat untuk melangkah, mendengar panggilan sang kakak ia pun memaksakan dirinya untuk menghampirinya. "Aku baru saja duduk setelah lama berdiri sekarang dia malah memanggil ku Alon....so ...... kau sungguh menyiksa ku memakai kan gaun ini kepada ku..." Shyren mengangkat kedua tangannya dan meremas geram.
Dimas membulatkan bola matanya melihat sosok yg Alonso panggil tidak lain adalah mantan kekasih nya. "Shyren .. "umpatnya.
"Di-a.. bersama mu?" Menarik kedua tangannya dari saku celana yg sedari tadi di sembunyikannya.
"Wah.. ternyata kau sudah mengenal nya bagus deh jika kalian saling kenal ..!!"
"Kak, Alon mengenal laki-laki ini?" Tanya Shyren yg tak percaya bahwa laki-laki yg ia cintai berada dipesta yg sama.
"Tentu .. dia salah satu pemilik perusahaan yg paling sukses dia hebat bukan..? "nada ejekan nya pun terdengar kembali.
"Kakak...??? Wait ,,!!
Dia kakakmu?"
"Hmmm .. jangan terkejut begitu !!
"Emmm... Baiklah akan aku biarkan kalian mengobrol berdua tuan Jeremy bisakah kau ikut aku " merangkul pundak Jeremy.
Jeremy merasa dongkol melihat sikapnya yg so akrab, "Lepaslah jangan so akrab dengan ku.. aku tahu ini adalah akal bulus mu bukan ??!
" Ntah apa yg sedang kau rencanakan Alonso filling ku tidak enak mengenai dirimu" menatap tajam Alonso yg tepat di depan nya.
"Sering kali kau terus berulah dan kali ini akan ku pastikan aku yg akan terus memantau dan aku yakinkan apapun rencana nya pasti aku akan segera mengetahui nya"pekiknya Jeremy.
Alonso disana masih dengan raut wajah dengan penuh seribu bahasa yg mencurigakan tanpa membalas ucapan Jeremy sehingga senyum licik itu ia ukir kembali di sudut bibirnya.
"Aku nggak nyangka ternyata kamu adik dari saingan bisnis ku Shyren, !!"
"Akupun sebaliknya..!"singkat.
"Dimas .. a.. aku.."
"Bicaralah .. !!
"Aku minta maaf saat kejadian tadi siang mungkin istri mu akan salah paham..!!" Penuh penyesalan.
Dimas tidak menanggapi ocehan Shyren malah memainkan sebuah gelas minuman disana, Dimas cukup tahu sifatnya apalagi sekarang ia tahu bahwa Shyren adik dari seseorang yg selalu mengganggu istrinya, darah mereka sama dari garis keturunan yg sama juga kemungkinan besar sifat dari Kakak beradik ini tidak jauh beda.
Sekarang Dimas mencoba memahami satu hal untuk tidak terlalu mempercayai perkataan dari kakak beradik ini yg jikalau nanti ia termakan omongannya maka ia akan menyesali nya di kemudian hari.
Berharap Dimas menanggapi ucapannya Shyren terdiam konyol dibuatnya sikap dingin Dimas benar-benar membuat nya dongkol, berusaha meyakinkan Dimas bahwa ia tidak mengada-ngada dengan ucapannya Dimas malah berpaling darinya dengan bertutur sapa dengan pria paruh baya disana.
Perasaan kesal bercampur rasa sakit hati membuatnya beranjak dari sana.
Dengan kasar Shyren membanting pintu mobil dan tancap gas pergi tanpa kawalan yg di haruskan Alonso untuk menjaga nya, seperti orang gila ia mengendarai mobil itu dengan hampir mencapai di atas rata-rata.
"Breng..sek...!!"
Damn it ..
"Jika sikap nya saja seperti ini bagaimana aku mendapat kan yg aku mau? Berapa lama aku harus bersandiwara??!"
"Sikapnya yg seperti itu tentu akan semakin sulit untuk mengambil kepercayaan nya"
"Sial .." begitu bertutur mengutarakan uneg-uneg nya yg kian membakar bagai api di dalam tubuh nya.
Memikirkan nya saja membuat kepala nya pening apalagi jika terus dibiarkan berlama-lama ia tak sanggup untuk melihat mantan kekasih nya itu lebih lama dengan wanita lain.
Sementara Alonso yg memencarkan pandangan nya tak mendapati Shyren "Kemana anak itu?!"
"Tuan Dimas .. bisakah kau berikan waktumu sedikit?!"
"Tentu, apa yg bisa ku bantu tuan Alonso yg terhormat?"ketus meneguk minuman di dalam gelas yg ia pegang.
"Breng..sek terakhir aku biarkan adikku mengobrol denganmu tapi, aku tidak melihatnya denganmu lagi"
"Ntahlah, dia tadi ada disini setelah itu aku tidak tahu !!"
"Jika sesuatu terjadi padanya kau yg akan merasa kn akibatnya!!" Sebuah telunjuk mengarah kepadanya. Alonso pun pergi mencari keberadaan Shyren.
"Ciirsss...." Umpatnya. Dimas mengacungkan sebuah gelas kepada Alonso yg sudah pergi meninggalkan ruangan pesta tampak datar mengekspresikan ketidaksukaan nya.
Alonso segera mencarinya diluar gedung pesta dan tidak juga melihatnya sepersekian detik ia bertemu seorang paruhbaya sekitar 40 tahunan menghampiri nya "Tuan .."
"Kau.. kenapa disini? Mana Shyren?"penuh dengan kecemasan.
"Nona muda pergi tuan, dan tidak mau di temani dia ingin membawa mobilnya sendiri.."ungkapnya.
"Sial .. pasti terjadi sesuatu !!!" Membawa mobil yg digunakan oleh pengawalnya.
Sakit hati yg ia rasakan kini benar-benar sudah membuatnya hilang akal dengan menjalankan mobil segila-gilanya beberapa menit sebelum nya ia hampir menabrak kendaraan yg berlalu lalang di dekat nya dan sekarang hampir menabrak pejalan kaki didepannya.
Spontan kakinya menginjak rem pedal gas nya hingga kepala nya terbentur pada stir mobil meninggalkan bekas memar yg memerah didahinya.
SHITTT ..."
"Sakit sekali kepalaku.."menyentuh atas kepala nya.
Ia mengarahkan kepalanya dengan kedua mata yg masih terpejam, merasakan rasa sakit yg menyelimuti bagian kepalanya.
Ntah perasaan sakit kepala atau kah sakit hatinya membuatnya seperti orang gila disana,
Rasa ingin berteriak marah emosi yg bergejolak meliputi jiwanya bercampur aduk hingga pecah sudah tangisnya di sana tenggelam dengan bayang-bayang kebersamaan nya bersama Dimas.