
Tepat waktu menunjukkan pukul 22.30. Dimas kembali pulang bersama beberapa orang, setelah kepulangan nya usai dari pesta para pejabat ia memutuskan untuk kembali lebih awal dibanding dengan yg lainnya.
Namun, kedatangan nya tidak ada sambutan hangat sama sekali dari sang istri, sosok nya pun tidak ia lihat setelah mencari keberadaan Hanna,
setelah berniat untuk pergi ke kamar sebelum ia dapat masuk sudut matanya mendapati seorang wanita yg tengah terbaring Santai di atas kursi ayunan yg cukup besar dengan balutan gaun tidur seksi berwarna grey gold sedikit terbuka dibagian dada dan pahanya salah satu kakinya yg terangkat menambah dayatarik yg mempesona dengan rambut yg terurai.
Langkah laki-laki tampan itu begitu pelan dan mengukir senyuman yg manis disana sorot matanya yg terpesona melihat sang istri tercinta telah terlelap disana dengan balutan gaun yg ia sukai.
"Dia menunggu ku disini sampai tertidur seperti nya pulas sekali .."membelai lembut wajah yg mulus itu dengan penuh kasih sayang.
Beberapa kali menautkan bibirnya pada Hanna yg sedang terlelap sesekali Hanna menggeliatkan tubuhnya merasakan sentuhan aneh.
Dimas menggendongnya ala bridal menuju kamar mereka dengan begitu lembut agar Hanna tidak terbangun dari tidurnya, wajah polos nya yg menawan membuat Hati Dimas menggila dan bergejolak.
"Sungguh kamu sangatlah cantik ketika sedang tidur seperti ini, bagaimana mungkin aku bisa berpaling kepada orang lain!!"bisiknya hangat di balik daun telinga Hanna.
Hembusan nafas Dimaspun menyentuk ceruk lekukan leher Hanna, sentuhan nya terus membuat Hanna menggeliat merasakan sentuhan aneh yg menelusuri bagian tubuhnya, hingga meninggalkan bekas merah merona dengan sempurna disana siapapun dapat melihatnya hanna yg merasakan sentuhan suaminya terbangun namun tidak disadari Dimas.
Dimas begitu menggila melihat setiap bagian tubuh Hanna yg terbuka begitu polos dan mulus, namun Dimas tidak ingin mengganggu tidur lelapnya.
Seketika ia terbangun dan berniat untuk mengganti pakaian nya yg sudah setengah terbuka bagian dada bidangnya yg sangat jelas.
Namun, sebuah tangan menghentikan langkahnya dengan memegangi tangan Dimas yg masih berada dibagian perut kecil Hanna.
"Sentuhanmu begitu menghangatkanku Dimas," ungkapnya Hanna.
"Sayang, maafkan aku sudah kanmu?!"membalikan tubuhnya hingga saling berhadapan saling beradu nafas yg menyentuh bagian wajah satu sama lainnya. "Tidurlah lagi sayang aku akan tetap disini"
"Dimas sebegitu besarnya cinta dan kasih sayangmu padaku"
"Sangat besar sayang.. sangatlah besar sehingga orang-orang yg ingin memisahkan kita takkan sanggup untuk menjauhkan kita"mencium pucuk kepala Hanna beberapa kali.
Hanna memeluk erat suaminya, mengalungkan kedua tangan sehingga bagian leher Dimas dikalungi penuh dengan kelembutan sentuhan tangan Hanna.
Sentuhan demi sentuhan membuat Hanna se-pasrah mungkin, Dimas menyesali bagian ceruk leher Hanna dengan lembut membuat Hanna menggila dibuatnya.
Dimas menautkan bibir mereka hingga saling bertautan begitu lembut, jemari-jemari lentik Hanna pun saling bercengkrama dengan jemari Dimas saling meremas.
Tautan bibir tipis itu semakin mendalam beradu Saliva saling mengikat lidah satu sama lain.
Begitu hangat, tanpa Terasa mereka sudah tidak mengenakan sehelai benang pun, tubuh polos Hanna yg jelas terlihat Dimas membuatnya sangatlah kacau, ia tidak ingat terakhir kali ia berhubungan kembali seperti ini dengan istrinya.
Mencoba menahan sesuatu yg keluar dari bibirnya dengan menggigit bagian bawah bibirnya namun lepas begitu saja dan men....desah.
"Dim..."lembut dan pelan.
"Biarkan saja sayang .. lakukanlah aku suka suara-suara manja yg keluar dari bibirmu sudah lama aku ingin mendengar nya"
Menyesap bagian kecil berwarna hitam disana, tangannya yg begitu cepat menyentuh bagian paha milik..nya Hanna hingga sampai di bagian puncak kenikmatan, jemari-jemari hanna mencengkram kuat Sprai diatas kepalanya desah...Han demi de...sahan keluar begitu saja membuat Dimas semakin menggila dibuatnya.
Alunan irama jemari-jemari Dimas begitu memompa kencang jantung Hanna..
Dan sesuatu keluar tumpah dari dalam sana, ia pun mulai menghimpit Hanna hingga Hanna berada di bawanya memasukan benda keras dibawah sana dengan lembut sembari menciumi bibir kecil Hanna dengan dalam.
"hmm...."
Seketika saja Dimas meremas kedua jemari-jemari yg tengah mencengkram sprai diatas kepalanya, memompa lebih cepat dan membuat suara-suara dibawah sana.
Sebuah gesekan membuat Hanna menggit keras bibir bawahnya dan mengeluarkan jeritan kecil yg gemilang indah "Aa .. sakit Dimas .." jerit kecil nya.
" .."menautkan bibirnya kembali agar Hanna tidak menjerit kesakitan saat terjadi gesekan yg lebih sempurna.
Dimas mempercepat pompaannya, sehingga sampai di puncak pelepasan kenikmatan bersama terasa basah dan mengeluarkan sesuatu dibawah sana membuatnya mencengkram erat jari-jari lentik Hanna dalam hitungan detik Dimas menggulingkan tubuhnya di samping Hanna dan membawanya kepelukan terindah bagi dirinya di dada bidang Dimas yg tercetak jelas bagian perut bagaikan roti sobek.
Saling bermandikan keringat, dalam semalam Dimas sudah beberapa kali membawa Hanna terus melayang bagai terbawa arus listrik yg cepat, sangat lah jelas kerinduan yg kian tak terbendung semenjak terjadi insiden yg terjadi pada Hanna membuat Dimas benar-benar merindukan sentuhan Hanna yg telah lama ia nantikan kini akhirnya ia dapatkan kembali.
Pagi menyingsing sinar mentari pun menembus disela-sela kamar mereka yg masih terbaring saling berdekapan, hingga bermandikan hangat sinar mentari pagi.
kelopak mata Hanna menyeringai merasakan kehangatan cahaya matahari yg tidak terasa sudah separuh ke atas,
"Aku bisa merasakan hangatnya cahayamu tapi, sayang aku tidak bisa melihatmu dan menikmati, ketampanan suamiku"
"Dimas maafkan aku yg selalu mengacuhkan keinginan mu ..
"Tidak sayang .. jangan bicara seperti itu" dengan mata yg masih terpejam ia mengetahui ungkapan sang kesayangannya.
Matanya membulat terkejut yg ia sangka Dimas masih tertidur dan ternyata ia tengah mendengar kan celotehan nya.
Tentu karna keterbatasan nya kini ia tak bisa tahu siapa saja yg berada di depannya.