
Pagi menyising cahaya mentari memasuki cela-cela kamar utama mereka, dimas yg terbangun lebih dulu dari hanna melihat wajah sayu hanna yg kelelahan, menyelimuti tubuhnya dengan selimut dan membiarkannya.
"Selamat pagi sayang ,,-"
"Tidurlah dengan nyenyak,."ucap dimas sembari mencium pipi hanna yg merah merona.
Dimas pergi ke kamar mandi dan membersihkan dirinya, bersiap untuk pergi ke kantor, Aroma maskullin dimas membuat terbangunnya hanna dengan aroma khasnya yg sangat di sukai hanna."Kamu akan pergi?" tanya hanna terbangun dari tidurnya.
"Kamu sudah bangun sayang,,?" menghampiri hanna. Hanna terduduk diranjang itu dan menyenderkan kepalanya,."Aku harus pergi kekantor sebentar tapi, karna kamu terbangun niatku menjadi berubah haluan deh," goda dimas memeluk punggung hanna.
Begitu terkejut hanna membulatkan matanya saat dimas memeluknya."Jangan berpikir hal yg aneh lagi yak" balas hanna menatap dimas. Dimas hanya tersenyum melihat raut wajah hanna yg begitu lucu.
"Kamu tak bisa melarangku karna kini aku suamimu" mencium pundak hanna yg masih beraroma parfum khas yg masih menempel di tubuhnya. Dimas mengangkat tubuh hanna ala bridal dan membawanya ke kamar mandi."Dimas aku bisa terjatuh" keluh hanna memegang erat dimas.
"Aku tidak mungkin menjatuhkanmu sayang, aku hanya akan mengantarmu kekamar mandi agar kamu bisa bersiap" Alasanya. Hanna curiga akan raut wajah dimas yg berseri-seri dan dimas hanya tersenyum melihat wajah istrinya yg menatap tajam dirinya seolah tahu apa yg diniatkannya.
"Dimas,," teriak hanna terkejut air shower membasuh wajahnya. Dimas meletakan tubuh hanna di dalam baththub sehingga dimas kebasahan lagi." Lihatlah pakaianmu basah " keluh hanna.
"Aku sengaja .." jawab dimas dengan santai.
Hah..."
Dimas mendekati hanna di bawah guyuran shower dengan kemeja setengah dada terbuka membuat dirinya semakin cool dengan rambutnya yg basah. "Di..di..dimas."gelapan melihat dimas yg mendekatinya.
Dimas melakukanya lagi disana tak tahu kenapa daya tariknya terhadap hanna sangat lah membuat dirinya sangat tergila-gila. "Bagus sekali dimas niatmu sudah terpenuhi" ledek hanna sembari mengenakan kimono.
"Melihatmu seperti ini aku semakin tak bisa lepas darimu" memeluk hanna.
"Sudah sana bersiaplah,,"tersenyum malu.
Dimas dan hanna bersiap dan segera menuju ruang makan. Entah kemana semua orang disana hanya tersisa jesika yg tengah menikmati sarapannya." Mmmm.... kemana semua orang" tanya bersamaan.
"Selamat pagi pengantin baru,,, orang-orang sedang pergi memgerjakan tugas nya mungkin kalian terlalu pagi untuk bangun" ledek jesika pada kedua pengantin baru itu.
"Maaf,,,
"Tidak aneh juga bagi gue,," datar.
Ehh... ikut gue kata papa gue harus bawa lu pada ,,"ujar jesika.
"Kemana?" dimas dan hanna dengan kompak nya menanyakan nya pada jesika. Jesika tampak terdiam melihat mereka yg semakin kompak saja. Jesika meminum susu di atas meja makan begitu pun hanna dan dimas yg sudah selesai dengan sarapannya.
Mereka pergi bersama-sama mengendarai mobil mewah milik dimas, jesika terlihat dongkol dengan keromantisan dimas terhadap hanna membuatnya teringat satiawan yg masih di harapkan jesika menjadi pasangannya.
"Woii kok melamun..."tegus dimas membuyarkan lamunan jesika. "Nggak" ketus.
"Kemana nih ??"tanya dimas pada jesika menatap spion mobilnya."Lurus aja dulu nanti ada pertigaan belok kanan kemudian belok lagi kiri"sahut jesika menunjukan lokasi yg akan ditujunya.
Sesampainya mereka ditujuannya.
Inih...." tanya dimas.
Untuk apa papa suruh kita kemari.." mengerutkan dahinya.
"Kebanyakan nanya deh lo, masuk aja nanti juga lo tau ,,"mengerutkan dahinya kesal.
Dimas pun masuk kedalam rumah bak istana itu, hanna terdiam melihat jesika yg tengah sedih. "Are you ok jesika?" Tanya hanna mendekati jesika.
"I'am fine .." pergi menyusul dimas.
"Jesika."panggil hanna.
Langkah jesika pun terhenti mendengar panggilan hanna. "Jes, apa yg tengah mengganggu pikiranmu?" tanya hanna dengan lembut. Mata jesika terus berpaling melihat kesetiap sudut yg tak ingin di lihatnya."Gue nggak apa-apa, lo nggak usah khawatir," berkaca-kaca.
"Kamu yakin?"
"Of course I'm sure,," ucap jesika. yg mengatakan dia yakin tidak apa-apa.
Tapi, kenapa kamu menangis? kamu sedang memikirkan kak satiawan?" menatap dalam-dalam mata jesika. Jesika memalingkan pandangannya seolah tak ingin orang lain mengetahui dirinya menangis." Katakanlah jes?" kata hanna menunggu jawaban jesika.
"No... Gue nggak mikirin apapun ,,-"
"Kita masuk,," mengusap air di ujung mata nya dan pergi. Hanna mengangguk dan menyusul jesika.
Hanna masuk dan begitu terkagum-kagum melihat isi rumah yg begitu mewah dan indah, Dimas memanggil hanna "Sayang.. kemari, lihatlah apa yg sudah disiapkan papa dan mama untuk menantunya,,," ucap dimas seketika membuat hanna tak percaya.
"Kemarilah sayang,," Nyonya kalina.
Ini semua untuk kalian berdua, mama dan papa sepakat untuk memberikan hadiah pernikahan kalian dan mama harap kamu suka,," sambung nyonya kalina.
"Benarkah ?? Apa ini tidak berlebihan, kami berdua tinggal disini rumah seluas ini?" kata hanna. "Tentu sayang,, " jawab pak haris.
Dimas pun membawa hanna melihat-lihat isi rumah mereka. Beberapa pelayan tiba-tiba datang dan membawa sejumlah koper membuat dimas dan hanna terkejut.
"Apa ini ?" tanya hanna.
"Ini barang kalian,," sahut pak haris.
Dengan terheran-heran mereka malah saling pandang karna bingung, "Kalian mulai hari ini akan menempati rumah ini dan papa sengaja suruh beberapa pelayan bawa semua barang kalian kemari dan beberapa keperluan lainnya" ucap pak haris.
Dimas bahagian atas perhatian kedua orang tuanya begitu pun hanna sangat teristimewakan dengan perlakuan keluarga dimas, hadiah dari dema pun tak kalah indahnya memberikan hadiah bungalau di Amerika untuk hanna dan dimas.
"Yaa barang kali kalian ingin berlibur kalian bisa kesana ,," kata dema.
"Kak ini bukankah sangat berlebihan?"lirih hanna menatap dema. "Kebahagiaan mu lebih utama bagiku adik kecilku.." memeluk hanna penuh kasih sayang.
Mereka sudah mempersiapkan penerbangan pulang ke indonesia dan meninggalkan pengantin itu untuk berdua, meski satiawan tak hadir tapi, hanna memakluminya karna mungkin satiawan dan jesika sedang kurang baik ataukah pekerjaan yg menghalanginya.
Keesokan harinya.
Mereka sudah bersiap untuk pergi, diantar dimas dan hanna menuju bandara meski sedih tapi, apa daya hanna tak bisa melarang kepergian keluarga nya yg sudah di tuntut pekerjaan disana.
Hanna kembali dengan rasa sedih atas perginya keluarga besarnya. dimas mengantar hanna menuju rumah sedang dimas kembali menuju kantor memenuhi tanggung jawabnya sebagai pimpinan di salah satu perusahaan ternama.
...----------------...
#Jangan lupa yak vote and likenya.
#author sangat menunggu dukungan kalian.
#Upsss....... tinggalkan komentarnya juga yak,,