
Malam berganti pagi setelah menangis semalaman hingga membuat matanya sembab, Shyren turun dari ranjang big size miliknya itu dengan masih mengenakan piyama berwarna biru polos atau yg kita sebut baju tidur, langkah kakinya satu persatu menuruni anak tangga menuju Dining table.
Matanya terpencar mencari sosok laki-laki yg ia panggil kakak."Marry.. kemana tuan muda?"
"Tuan sedang gym nona ."
"Oh .. God se-pagi ini"
"Iya nona, nona ingin saya siapkan sarapan apa?"
"Yang biasa saja ..
"Baik non, ditunggu yak non"
Oke....
Shyren menuju tempat gym yg berada di rumahnya, ia mendapati sosok laki-laki kekar berotot disana yg tengah memainkan barble disana. "Alon..
"Very good"
"Alon.. se-pagi ini kau berolahraga ???
"Ini sudah menjadi bagian dari sarapanku, aneh rasanya jika kau memandangku sebagai orang asing.. kau telah lupa apa kebiasaan kakakmu!!" Nada yg sedikit mengejek.
"Sorry,,
"Kau sudah membaik ..??" Masih memainkan barble nya.
"Hemmm..."
Wajah Shyren yg polos tanpa riasan sedikit pun yg sudah tersapu air mata semalaman namun tak membuat nya berubah namun sebaliknya membuatnya lebih cantik alami.
Melihat kakaknya yg sudah bermandikan keringat ia menyuruh nya untuk berhenti dan mengajaknya untuk sarapan bersama seketika barble di tangan nyapun. Disimpan dengan pelan meski bermandikan keringat aroma khas maskullin dari laki-laki Italia ini tidak hilang.
"Tubuhmu bau keringat .."
"Olahraga tidak ada yg segar baby" meremas pipi tirus adiknya.
"Lepaskan kak, aku bukan anak kecil lagi"
"Tapi, menurut ku kau masih adik kecilku"Mengacak-acak pucuk kepala Shyren.
"Ayolah jangan seperti itu kau merusak rambut ku."keluhnya.
Laki-laki itu menyunggingkan bibirnya dan tersenyum kecil.
Sarapan sudah tersaji di meja makan, beserta susu dan jus merekapun duduk saling berhadapan namun, nafsu makan Shyren masih kurang bagus ia hanya memainkan makanan diatas table itu.
Laki-laki didepannya cukup jelas memperhatikan gadis itu terangkat spontan sebelah alisnya sedikit merengut.
"Ada yg salah dengan makanan mu Shyren?"
"Huh"terperangah.
"Kenapa? Kau ingin yg lain??"tanyanya.
"No .. aku hanya sedang tidak enak lidahku mendadak pahit untuk menyantap makanan kak..
"Ohh ayolah baby .. sampai kapan kau akan begini?!"
"I Don't know.."pergi beranjak dari tempatnya dan memasuki kamarnya lagi.
Damn it."memukul meja.
"Laki-laki itu sudah benar-benar mempengaruhi otaknya..
.. shitt!!!"
"Dimas mana yg dia maksud apakah dia ...??!!"
Umpatnya.
Shyren membanting tubuhnya ke atas ranjang big size yg berbentuk bulat itu menghela nafas berat, menatap langit-langit kamar berhias lampu kristal yg mewah.
Hidupnya penuh kemewahan, tidak kekurangan sedikitpun hingga Asisten pribadi khusus untuk menyediakan kebutuhan nya telah di siapkan oleh laki-laki ia panggil kakaknya itu hingga.
"Marry ... Marry ... Kemari ..!!" Pria bertubuh kekar itu.
"Iya tuan ,," pandangannya tertunduk.
"Beritahukan kepada asisten-asisten Shyren siapkan baju, sepatu, dan kebutuhan lainnya aku ingin mengajak nya pergi dan satu lagi jangan ada yg kurang sedikitpun jika tidak kalian tahu akibatnya..huh!!"
"Pergilah, !!"
Shyren membulatkan matanya, terperangah kesal tiba-tiba beberapa asisten rumah tangga masuk ke kamar nya Shyren, tanpa diminta dan membawa beberapa pakaian.
"Siapa yg menyuruh kalian masuk lancang sekali pergilah aku tidak membutuhkan apapun .. PERGI!!!!!"sentak nya.
"Tapi, tuan muda menyuruh kami untuk menyiapkan nona muda untuk berdandan!!"sahut marry.
"NGGAK...!!"
"Tapi, nona nanti kami kena marah tuan muda."
"Pokoknya aku nggak mau kalian pergi, atau aku yg akan melempar kalian dari sini" ancamnya menunjuk pada sebuah pintu besar di depannya. Tiba-tiba...
"Isss .... Issss .... Kau mirip sekali burung pemarah di dalam salah satu karakter film kartun!!" Nada ejekan dari balik pintu.
Laki-laki tampan dan putih bertubuh kekar telah berdiri disana.
"Alonso..." Memunyungkan bibirnya.
"Apa??? .. ayolah bersiap baby"
"No .. Alon !!"
"Tidak Alon plisss...."
"Tidak ada alasan oke .. cepat dandani dia !!
Shyren melenggang pergi Dengan para pelayan nya,
Siapa sangka Alonso ternyata kakak dari mantan kekasih nya Dimas, pantas karena dulu Alonso berada di Kanada bersama Daddy nya sedangkan Shyren yg masih berkuliah dikota besar sendiri.
Mereka jarang sekali bertemu namun, berkomunikasi dengan baik. Mereka tak berkekurangan sedikitpun hanya kekurangan kasih sayang seorang ibu
Saat semasa kecil Alonso sudah mulai membenci mommynya sendiri dikarenakan sosok wanita yg kerapkali di panggi mommy itu meninggalkan sang Daddy dengan pria lain yg ntah siapa.
Sehingga semakin bertumbuh nya kedua kakak beradik ini tumbuh tanpa kasih sayang dari seorang ibu. Dan menjadi kan sosok Alonso keras dan membenci wanita sehingga seringkali Alonso bermain dengan wanita sekedar pelampiasan masalalunya.
"Kakak ..." Suara manis nan manja sedang memanggilnya.
"Aku disini baby, ayo kau sudah siap kita harus pergi?" Ajaknya.
"Sudah .. kau ingin mengajakku kemana dengan pakaian seperti ini aku sangat tidak nyaman"gerutunya.
"Kau ini bawel sekali .. bisakah kau sekali saja tidak bertanya saat kau ku ajak!!?" Kesal.
Shyren mengerutkan dahinya, dan diam dengan kesal mendengar keluhan kakaknya. Mereka segera menuju mobil dengan membawa salah satu mobil termewah nya.
Beberapa pengawal pul di ikut sertakan.
Sesampainya di tempat tujuan Alonso membawa Shyren pada sebuah pesta mewah antar perusahaan para CEO, MJE, bahkan komisaris, juga owner-owner antar pemilik perusahaan ada disini.
"Apa maksudmu untuk membawa ku kemari?" Menatap tajam mata Alonso.
"Disini banyak para pejabat baby kau bisa mendapati seorang yg lebih dari orang tidak berguna itu" menggaruk-garuk keningnya yg tidak gatal.
"Sudah kuduga kau takkan mengerti perasaan ku"menaikkan bibirnya.
Shyren dengan kesal menarik gaun panjangnya dan berniat melangkah pergi melewati pintu besar di belakang nya.
"Hus... Huss... tenang dulu "menahan tangan Shyren.
"Alice" panggilnya pada seorang gadis dengan rok mini disana.
"Dimana tamu istimewa VIP itu?!"
"Iya tuan, tamu yg tuan maksud sudah datang baru saja selisih beberapa menit setelah mu"
"Oke ..thanks..!!"
"Siapa?!"
"Kau akan tahu nanti adikku ikutlah ..."menarik lembut tangan Shyren.