
Dafa yg tak tega mengetahui hanna, menerima kemarahan dari kakak-kakaknya karnanya membuatnya merasa sangat bersalah dan berusaha untuk bicara pada dema juga satiawan esok pagi.
"Sungguh tidak aku sangka bahwa gara-gara kesalahanku hanna harus menerima semua ini kasian dia". menundukan kepalanya dan menyembunyikannya dengan kedua tangannya.
Dafa merogoh saku celananya dan mengambil benda pipihnya dari sana, "apa aku hubungi hanna,, untuk menanyakan kabar nya sekarang" sembari mengusap layar ponsel miliknya.
*Tutt,,,,tuttt,,," nada panggilan ponsel.
A... aaa .. apaaa yg dia lakukan* ??" terkejut melihat nama nomor kontak di ponselnya.
"Kenapa dia menghubungiku sekarang,, tidak tahukah kakak-kakak ku masih marah padanya,, sebaiknya aku non-aktifkan saja biar sementara waktu aku tak usah berhubungan dengannya" gumamnya.
"Deerrrrrttt ..... "
Dafa mengirimkan pesan pada hanna. "Siapa yg mengirim pesan apakah dafa" masih terdiam memperhatikan ponselnya di atas tempat tidur.
Tak lama kemudian hanna pun mengambil ponsel milik nya betapa terkejutnya hanna tertera nama dafa di laman depan ponselnya yg ternyata dia yg mengirimkan pesan untuk hanna.
Hanna membukanya semakin terkejut hanan saat membaca nya yg bertuliskan "H**an, maafkan aku jika karna kepulangan kita yg sedikit terlambat membuatmu dalam masalah aku hanya ingin memberi tahukanmu aku ingin melamarmu kepada kakakmu esok hari**" isi pesan dafa.
Hanna membulatkan kedua matanya karna tak sangka bahwa dafa justru ingin memperistrinya secepat ini, sedangkan dia pun masih belum di nyatakan berpacaran dengannya.
,Apa dia yakin,,?"
Sepertinya dia tidak main-main ,,
"Kenapa jadi seperti ini, aku hanya melakukan kesalahan kecil ,, tapi, kenapa dampaknya kok membuatku dilema,,," pandangannya pun tak karuan. hanna tak yakin untuk menerima dafa secepat ini.
...----------------...
Dafa pun berusaha memberanikan dirinya bicara kepada kedua orang tua nya agar dapar mengirimkan lamaran untuknya.
,Bu ??
Iya sayang,, "membolak balikkan majalah
Aku ingin bicara sesuatu ,," ujar dafa sedikit gugup. bicaralah sayang apa yg ingin kamu sampaikan".menutup majalahnya dan memperhatikan wajah dafa.
"Mengapa kamu sangat gugup ,,
Aku .... emmmm...aa..aaakkuu.." terbata-bata.
"Aku ingin menikahi seorang gadis,," pipinya berubah menjadi merah.
Sayang ,, kamu bersungguh-sungguh? ini kabar yg sangat bagus nak,," gembira.
Datang seorang pria parubaya menghampiri mereka yg tak lain ayah dari dafa. siapa yg mau menikah?"tanya ayah dafa.
Yah,, rupanya anak kita yg satu ini sudah beranjak dewasa dia sudah mulai memikirkan untuk mengawali harinya dengan pernikahan,,?" goda ibu dafa.
Ahh,, ini berita bagus nak,," seru ayah dafa.
Aku senang kamu sudah memikirkan masa depanmu putraku,,?" senyum gembira terlukis di wajah ayahnya.
Dafa gembira dengan jawaban kedua orang tuanya yg sangat gembira mendengar keinginannya untuk segera menikah, meski terkadang dafa juga ayah nya slalu bersitegang karna pebedaan pendapat satu sama lain.
Namun, kali ini dafa sangat behagia karna akhirnya bisa sepaham dengan orang tua nya. karna, yg satu ayahnya yg tak pernah meluangkan waktunya karna slalu disibukan dengan pekerjaan, di sisi lain ibunya yg slalu mementingkan sosialitanya.
Disisi lain hanna yg masih termenung menatap keatas langit kamarnya memikirkan semua kejadian yg tlah terjadi hari ini, hanna seakan paham akan sikap dema yg tak menyukai dafa.
"Aku tidak mengerti sama sekali semua ini.. Apa aku .... "terhenti.
Ah ,, kenapa denganku apa aku menyukai dafa??,,,"hatinya bertanya-tanya.
Apa aku melakukan hal yg patal sehingga kakakku sangat marah ,," masih termenung meliarkan pandangannya sekitar ruangan itu.
Hanna terbangun dan meraba-raba bibirnya, seakan mengingat sesuatu "apa yg sudah aku lakukan, Aku berciuman dengan dafa ,," melebarkan bola
Matanya.
"Kenapa rasanya aku nggak ingat yak,, pantas saja dafa ingin melamarku mungki aku-......... " terhenti dengan kedatangan dema.
Apaaaaa ......?" sentak dafa.
Nggak hanna, kamu tidak bisa menikahi dafa dan kakak tidak akan merestui itu ..." pergi seketika. dema begitu marah mendengar dafa akan melamar adiknya hanna.
Hanna hanya termenung dan bimbang entah apa yg tengah di pikirkan oleh hanna. Kenapa jadi seribet ini sih " keluar begitu saja dari mulut hanna.
Hanna yg tak sanggup memikirkan kejadian hari ini, akhirnya membaringkan tubuhnya dan mulai tertidur lelap. di sisi lain dafa yg tak sabar menantikan hari esok tak bisa memejamkan mata nya.