My Beloved Duda

My Beloved Duda
Bab 7



hay readers, aku dateng bawa cerita ♥️♥️♥️♥️


please give me vote and coment please... :) :♥️♥️♥️♥️♥️


CEMBURU


-Cemburu ini membakar hatiku bahkan aku membakarnya hingga hangus, yang tinggal hanyalah sisa debu-


-


-


Mereka berempat tiba dipantai Ancol, Jakarta Utara. Setelah seharian tadi mereka bersenang-senang dengan mengelilingi dufan dan mencoba berbagai wahana permainan disana, mereka memutuskan untuk berjalan-jalan dipantai. Menghabiskan waktu sore mereka dipantai sekaligus mencari makan untuk mengisi perut mereka.


Mereka terlihat seperti keluarga idaman, penuh canda dan tawa. Bahkan Rakan yang biasanya akan menjadi sosok yang diam dengan orang asing, tapi sekarang Rakan tidak segan-segan menunjukan sifat manjanya. Rakan selalu menempel dengan Ridwan, ayah Raihanah mereka berdua terlihat seperti cucu dan kakek. Melihat pemandangan itu membuat Raihan tersenyum senang.


"Walaupun hari ini lebih terlihat seperti piknik keluarga dari pada kencan namun tidak seburuk yang aku bayangkan, karena aku merasa nyaman." Raihan membatin.


Raihan berjalan dibelakang Raihanah dan Ridwan yang sedang menggendong anak-nya itu dengan sayang. Entah kenapa hati-nya menghangat, hembusan angin disore hari ini membuat-nya merasa sejuk. Begitupun juga deburan ombak pantai menambah suasana bahagia dihati Raihan.


***


Setelah menemukan tempat yang cocok untuk makan, mereka pun akhirnya menghentikan langkah mereka untuk mengisi perut mereka. Mereka memilih makan sate dan lontong, sebenarnya bukan mereka yang memilih tapi Raihanah entah kenapa Raihanah menginginkan makan sate.


Raihanah memilih duduk didepan Raihan sedangkan Ridwan disebelah Raihanah dan Rakan didekat ayahnya. Ketika menu tersaji dihadapan mereka, Raihanah yang merasa sudah kelaparan langsung mengambil makanannya, namun dicegah ayah-nya. Raihanah hanya bisa tersenyum kecut pada ayahnya, sedangkan Raihan terkekeh geli melihat tingkah lucu Raihanah.


"Berdoa dulu ibu guru." ucap Rakan melihat kejadian itu.


"Raihan pimpin doanya." perintah Ridwan, Raihan yang mendengar itu langsung mengangguk dan memimpin doa.


Setelah itu mereka mulai makan, dan tentu saja Raihanah makan dengan lahapnya seperti orang kelaparan. Ridwan yang melihat itu hanya bisa geleng-geleng sedangkan Raihan menatap lekat-lekat Raihanah, ia merasa lucu dengan sikap Raihanah. Namun disaat itu Raihan sadar bahwa ia mendapat tatapan tajam dari ayah Raihanah karena dirinya terus menatap Raihanah, ia langsung menunduk kebawah makan malam pun terus berlanjut.


****


Raihan duduk di café dekat kampus Raihanah, ia tadi mencari Raihanah di sekolah anak nya. Namun nihil Raihanah tidak ada disana, kata kepala sekolah disana Raihanah berada di tempat kuliahnya. Sebab itulah Raihan kemari, ia ingin memberikan sebuah hadiah untuk Raihanah. Ia sudah tidak sabar bertemu pujaan hati nya yang cantik itu.


Raihan menyesap capucino-nya, tepat disaat Raihanah masuk bersama seorang pria yang terlihat lebih dewasa dari pada Raihanah. Siapa dia? kenapa bisa bersama bidadari nya? entah kenapa nafas Raihan jadi sesak melihatnya. Tanpa sadar rahang Raihan mengeras dan ia menatap marah kearah mereka berdua. Raihanah seperti-nya tidak sadar dengan kehadiran nya bahkan di saat mereka memilih tempat duduk.


Mereka terlihat sangat akrab, entah apa yang mereka bicarakan namun ada satuhal yang membuat Raihan kesal. Disaat laki-laki itu menyodorkan sebuah beludru yang berisi cincin. Raihan berusaha menebak-nebak ada hubungan apa mereka berdua, atau karena laki-laki inilah Raihanah selalu menghindar darinya dan tidak ingin disentuh diri-nya memikirkan hal itu membuat Raihan marah.


"SIAL" umpat Raihan tak kala melihat laki-laki itu pergi meninggalkan Raihanah dan meninggalkan cincin itu di hadapan Raihanah.


Raihan menghela nafas kasar, ia rasa ia sudah gila. Seperti inikah rasa-nya cemburu kenapa rasa-nya sangat menyesakkan dan kenapa rasa-nya begitu menyakitkan. Tanpa Raihan sadari amarah menguasai hati-nya. Raihan melangkah menuju tempat duduk Raihanah ia menatap tajam Raihanah seakan-akan ingin menerkam-nya.


*****


Raihanah duduk dihadapan Nathan, dia adalah dosen Raihanah. Entah apa yang ingin di bicarakan dosen ini, seperti-nya bukan hal menyenangkan untuk Raihanah. Karena ini bukan pertama kali-nya mereka berbicara seperti ini.


"Jadi?" Raihanah membuka percakapan karena dari tadi mereka hanya diam.


"Huft.. hatiku masih sama seperti dulu Raihanah, aku mencintaimu dan menginnginkan kamu menjadi pendamping hidupku" ucap Nathan to the point pada gadis di hadapan nya.


"Dan aku tetap sama, aku tidak bisa menerima dirimu.." tolak Raihanah' pada Nathan. Ia tidak bisa menerima pria itu. Karena Nathan bukanlah pria yang ia sukai.


"Why? Apa ada yang kurang dariku?" tanya Nathan bingung kenapa ia di tolak.Apa kurang-nya dia. hingga Raihanah' tidak mau menerima- tawaran-nya.


"Anda sangat sempurna menurut saya, tapi takdir bukan memilih bapak untuk menjaga hati saya tapi takdir telah berkata lain. Hati saya sudah dipilih untuk seseorang." Jawab Raihanah' dengan bijak. Ia tidak ingin membuat Nathan terluka Dengan perkataan-nya. Jujur ia sudah menemukan seseorang sejak hari itu. Orang yang mampu membuat jantung-nya bertalu-talu.


"Aku rasa orang itu beruntung karena telah mendapatkan hatimu Rai, namun jika kau berubah fikiran aku akan siap menerima dirimu kapanpun." Nathan mengucapkan itu dengan nada kecewa, namun sedikit menaruh harapan disana. Di keluarkan nya sebuah beludru yang berisi cincin berwarna perak kepada Raihanah.


"Simpan ini, suatu saat nanti jika kamu berubah fikiran datang padaku dengan cincin ini yang melingkar dijari manismu." Ujar Nathan pasrah. Ia masih ingin berjuang walau itu sulit. Ia menginginkan Raihanah' sebagai istri-nya. Apakah Raihanah' tidak bisa memberikan-nyaa kesempatan lagi?


Raihanah hanya menatap cincin itu dengan tatapan kosong, menyadari tatapan itu membuat Nathan kecewa.


"Kalau begitu aku pamit, Assalamualaikum." Nathan mengundurkan kursinya, lalu pergi menjauh dari hadapan Raihanah dengan hati terluka.


"Walaikumsalam." balas Raihanah pelan.


Lamunan Raihanah berhenti disaat ia mendengar sebuah suara berat yang akhir-akhir ini mengusiknya. Suara itu terdengar tajam dan menakutkan ia tidak pernah mendengar suara Raihan seperti ini. Entah kenapa ia merasa takut dan merinding.


"Apa yang kamu lakukan disini?" ucap Raihan dengan nada tajam, bahkan siapapun yang mendengarnya pasti akan bergetar ketakutan.


Raihan berdiri menjulang didepan Raihanah dengan tatapan tajam, ingin rasanya Raihan menghukum gadis ini sekarang juga namun di tahan nya.


****


jangan lupa follow Instagram author ya @wgulla_


love you ♥️♥️♥️♥️♥️


jaga kesehatan


semoga kita semua terlindungi dari corona


♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️