My Beloved Duda

My Beloved Duda
Bab 6



KENCAN ATAU PIKNIK


-Coba bayangkan jika kamu menjadi seorang ayah, apa kamu akan membiarkan anak gadismu berkeliaran dengan seorang laki-laki yang bukan mahramnya. Pasti kamu akan merasa khawatir dan tidak rela dan itulah saya.-


-


-


****


Raihan duduk dengan gugup bersama Rakan diruang tamu rumah Raihanah, hari ini rencananya Raihan akan mengajak Raihanah pergi. Namun sesuai kesepakatan mereka kemaren ia harus meminta ijin kepada ayah Raihanah. Ia melakukan tantangan yang Raihan berikan. Ia akan menunjukan pada Raihanah bahwa ia bukan pengecut.


Ayah raihanah, Ridwan menatap tajam Rakan, karena baru kali ini ada seorang laki-laki yang datang kerumahnya.


"Siapa nama kamu anak muda?" Tanya Ridwan dengan nada tajam.


Ridwan merasa baru kali ini ada laki-laki yang berani datang kerumahnya, karena yang ia tahu setiap laki-laki yang mendekati Raihanah akan langsung mundur dengan semua sikap anaknya yang keras kepala itu. Menyadari hal itu membuat Ridwan menyeringai berarti laki-laki ini merupakan laki-laki yang tangguh, karena berani sampai ketahap ini.


"Raihan Salman Al-fatih om, dan ini anak saya Rakan Salman Al-fatih. Sekaligus murid dari Raihanah." jawab Raihan sambil memperkenalkan anaknya.


Ridwan menaikan alisnya disaat ia tahu bahwa Raihan ini memiliki seorang anak ia kira anak kecil ini keponakannya. Dan muncullah seribu pertanyaan diotaknya.


"Anak kamu? Berarti kamu sudah menikah" ucap Ridwan tanpa sadar.


"Lebih tepatnya lagi saya pernah menikah om, sekarang saya single parent" Raihan berucap dengan nada tenang.


"Oh begitu, jadi apa tujuan kamu datang kemari?" Ridwan menghela nafas lega, ia kira laki-laki ini mempunyai istri dan juga berniat menjadikan anaknya istrinya.


"Saya ingin meminta izin kepada om, untuk mengajak anak gadis om jalan-jalan dengan kita berdua" Raihan menatap Ridwan dengan pandangan penuh harap.


Ridwan yang mendengar itu merasa bahwa laki-laki ini tertarik pada anak gadisnya, namun Ridwan tidak akan membiarkan laki-laki ini dengan mudah kencan dengan anaknya, bagaimanapun Ridwan belum mengenal laki-laki ini. Dan ia tidak mau sesuatu yang buruk terjadi pada putrinya. Ridwan menghela nafas panjang, sibuk dengan fikirannya.


"Hem.. jika saya member izin, apa yang akan kamu jaminkan anakku akan pulang selamat tanpa ada yang hilang satupun dalam dirinya." Ridwan mengucapkan perkataannya dengan nada tajam.


Raihan terdiam,apa sesulit ini mengajak seorang gadis berkencan, biasanya ia akan dengan mudah mengajak gadis manapun untuk berkencan dengannya. Tapi kali ini ia merasa dipersulit sekali.


Menyadari Raihan yang diam, membuat Ridwan menghela nafas mengerti apa yang difikirkan oleh Raihan.


"Bukannya saya mempersulitmu anak muda, tapi saya sebagai seorang ayah tidak akan pernah tenang, jika mengetahui anak gadisnya jalan dengan laki-laki lain yang bukan mahramnya. Coba bayangkan jika kamu menjadi seorang ayah apa kamu akan membiarkan anak gadismu berkeliaran dengan seorang laki-laki yang bukan mahramnya. Pasti kamu akan merasa khawatir dan tidak rela dan itulah saya. Jadi apa jaminan yang bisa membuat saya mengi-.." belum sempat Ridwan menyelesaikan pembicaraannya Raihanah datang menyela ucapan ayahnya.


"Jaminannya ayah ikut dengan kami, dan melihat apa saja yang akan terjadi nanti." Raihanah kemudian duduk disamping Ridwan sambil memeluk pinggang ayahnya dengan manja, Ridwan yang mendengar itu terkekeh, lucu sekali anak gadisnya


"Baiklah kapan kita pergi?" Ridwan tersenyum menatap Raihan.


*****


Dufan,


Akhirnya mereka tiba di dufan, setelah perdebatan panjang kemana mereka akan pergi namun karena tiga laki-laki ini harus mengalah dengan satu gadis yang bersikap kekanak-kanakan itu.Raihanah merasa senang sudah lama sekali ia tidak ke dufan. Disaat ia melihat komedi putar Raihanah langsung berlari seperti anak kecil, melihat tingkah laku anaknya Ridwan hanya menggeleng-geleng.


Rakan masih setia mengikuti ayahnya, ia merasa asing disini. Ridwan yang melihat tingkah Rakan pun tersenyum, didekatinya anak itu dan dielus kepala Rakan sayang.


"Ayo sama kakek, kakek gendong" ucap Ridwan dengan nada lembut, Rakan menatap Ridwan ragu lalu menatap ayahnya meminta persetujuan. Raihan yang melihat itu tersenyum dan mengangguk setuju.


Rakan berlari kecil kepelukan Ridwan, Ridwan mengangkat Rakan kedalam gendonganya dan melangkah menyusul langkah Raihanah.


Raihanah duduk dikuda bewarna hitam disamping kuda milik Raihan, sedangkan Ridwan berada jauh dua langkah didepannya. Raihanah tersenyum senang saat kuda-kuda itu mulai berputar. Raihan yang melihat itu tersenyum, gadisnya tampak sangat cantik hari ini.


"Apa yang kamu fikirkan Raihan?" Tanya Raihanah disaat ia melihat Raihan tersenyum-senyum seperti orang gila.


"Kamu." jawab Raihan tanpa sadar.


Mendengar itu membuat Raihanah kesal. Baru saja Raihanah ingin marah, tangan Raihan tanpa permisi mencubit pipi Raihanah.


"Aduhhh....." jerit Raihanah merasa sakit pipinya dicubit.


"Kamu tau ngak ini namanya pelecehan seksual, aduh sakit pipi ku udah ngak perawan lagi huhuhu...." ucap Raihanah sambil mengelus pipinya pelan. Kuda mereka masih berputar-putar seakan tak mengganggu keduanya.


Raihan terkekeh geli mendengar ucapan Raihanah, padahal ia tadi hanya sekedar mencubitnya. Bukan ya kalian tau lah...


"Pelecehan seksual? Aku tidak ngapa-ngapain kamu Raihanah." balas Raihan gemas.


"Iya, kamu ngapa-ngapain aku. Kamu nyubit aku dan kamu menyentuh aku. Kamu tau ngak sih?"


"Tidak!!!" balas Raihan cepat, Raihanah memutar bola matanya sebal.


"Seandainya kepala laki-laki ditusuk dengan jarum besi, itu masih lebih baik dari pada menyentuh wanita yang tidak halal baginya." (HR. Thabrani dengan sanad hasan)


Raihan terdiam mendengar ucapan Raihanah, Raihan merasa bersalah sungguh ia belum-belum mengerti tentang Islam sepenuhnya.


"Aku baru tau ada hadist seperti itu?" Ucap Raihan.


"Namun sepertinya aku rela harus ditusuk dengan jarum besi untuk bisa menyentuhmu." ujar Raihan.


Raihanah termenung sebentar mendengar ucapan itu, ada rasa senang didalam hatinya namun ia membuang jauh-jauh fikiran itu. Raihanah memalingkan wajah-nya untuk berfikir lalu dikeluarkan sebuah buku didalam tasnya.


"Baca ini dan pahami, kamu akan mengerti wanita yang sebenar-nya itu seperti apa?" Raihanah menyodorkan sebuah buku yang berjudul Ensiklopedia Wanita kepada Raihan. Buku yang selalu ia bawa kemana-mana entah apa yang ada di pikiran-nya hingga ia memberikan buku itu pada Raihan. Raihanah rasa ia benar-benar menyukai Raihan.


*****


jangan lupa like ya... dan koment...


follow Instagram author @wgulla_ ya ♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️


love you all ♥️♥️