My Beloved Duda

My Beloved Duda
Bab 28



Kebahagiaan


Tak perlu menunggu Yang Maha Kuasa memberikan kebahagiaan, karena dengan bersyukur kita bisa menciptakan kebahagiaan itu sendiri.....


-


-


Raihanah terkejut mendapati pemandangan yang seharusnya tidak boleh terjadi di sekolah. Ia berdecak kesal dimana pengamanan kenapa hal seperti ini bisa terjadi di sekolah. Ia takut hal itu bisa membuat keributan dan menganggu anak-anak yang lain dan juga lingkungan sekolah.


"Lepaskan jangan sakiti anak itu." Teriak Raihanah melihat Rakan di sakiti. Baru saja ia ingin kembali ke ruang guru. Namun ia harus di suguhi pemandangan seperti ini. Ia baru saja selesai mengajar.


Raihanah berdecak sebal melihat wanita yang bernama Tania. Berani-beraninya Tania membuat kekacauan di sekolah ini. Wanita itu dengan kasar menarik tangan Rakan, membuat Rakan menjerit kesakitan. Padahal wanita itu adalah ibu kandung dari Rakan sendiri, tapi dengan tega menyakiti anaknya.


Rakan mencoba memberontak dari wanita itu, tapi Tania dengan kegilaan nya mengabaikan anaknya itu bahkan tak menggubris omongannya. Raihanah yang tak tega melihat itu langsung menarik Rakan ke dalam pelukannya.


"Kau beraninya, ikut campur dengan urusanku." Tania mendengus sebal ia menatap Raihanah menantang, matanya menyalang seperti ingin membakar Raihanah hidup-hidup. Ia benci dengan wanita itu yang sok cari perhatian. Apalagi ia tahu bahwa Raihanah pernah dekat dengan Raihan dan juga anaknya membuatnya emosi karena kesempatannya untuk kembali pada Raihan jadi semakin sulit.


Raihanah hanya mendecih, ia mengabaikan Tania lalu mengecup kening Rakan sayang. Seolah-olah jika Rakan itu anaknya sendiri.


"Apapun yang berhubungan dengan Rakan itu menjadi urusanku." Balas Raihanah dengan menatap tajam Tania tanpa rasa takut. Ia akan menghadapi wanita itu untuk menjaga Rakan.


"Urusanmu, memang dirimu siapa?" Sahut Tania dengan marah. Ia berkacak pinggang menatap benci ke arah Raihanah tangannya gatal ingin menampar wajah wanita tak tahu diri itu yang berani menantangnya.


"Kau bukan ibu Rakan atau pun istri Raihan." Perkataan Tania begitu memohok hati Raihanah. Raihanah memilih diam dan mengabaikan Tania, ia tidak boleh terpancing emosi oleh ucapan wanita ular itu atau dirinya akan menjadi gila seperti wanita itu.


"Karena Rakan adalah murid ku dan aku adalah gurunya di sekolah. Jadi ia adalah tanggung jawab ku sebagai orangtuanya di sekolah." Balas Raihanah tidak ingin kalah. Tania terdiam sambil mengepalkan tangannya marah. Ia tidak suka di lawan.


"Rakan sayang kamu tidak apa-apa kan ," ucap Raihanah khawatir. Rakan diam tidak menjawab, ia menyembunyikan kepalanya di pundak Raihanah. Tubuhnya bergetar ketakutan, Rakan takut selama hidupnya ia tidak pernah diperlakukan kasar seperti itu. Anak itu terisak pelan di dalam pelukan Raihanah.


"Tenang sayang bunda ada disini jangan takut bunda akan jagain kamu," Raihanah mengelus punggung Rakan lembut mencoba menenangkan. Disaat itulah Raihanah meringis kesakitan, karena wanita gila itu menjambak kerudung Raihanah kuat.


" Lepaskan!!! " desis Raihanah meringis kesakitan. Ia juga menahan keseimbangan karena Rakan berada di pelukannya.


"Beraninya kau mengatakan jika kau ibunya." Teriak Tania tidak suka.


"Dasar ******!!" Seru Tania.


"Mati saja kau!!" Bukannya melepas Tania malah menarik kerudung Raihanah semakin kencang. Tarikan itu membuat Raihanah meringis dan hampir kehilangan seimbangannya namun sebelum tubuhnya jatuh ke tanah. Ada sepasang tangan kokoh menyentuh bahu Raihanah agar tidak terjatuh seperti déjà vu Raihanah tertegun menatap mata hitam kelam itu. Raihanah tidak bisa membaca tatapan Raihan, tapi Raihanah bisa mendengar degupan jantung Raihan yang memenuhi Indranya.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Raihan, Raihanah mengangguk lalu dengan cepat ia berdiri dan membenarkan gendongannya pada Rakan. Ia bersyukur Rakan tidak terjatuh dari gendongannya.


Raihan menatap tajam Tania, tatapannya seakan-akan ingin membunuh Tania saat itu juga. Tania melihat tatapan tajam Raihan menjadi ngeri, ia langsung mundur.


"Awas saja aku akan membalas kalian!!"


"Aku akan bawa Rakan kembali padaku, camkan itu !! Dan kau wanita sialan akan ku pastikan kau mati di tanganku." teriak Tania dengan lantang lalu pergi tanpa menoleh ke arah mereka lagi. Ia berjanji akan mengambil semuanya yaitu Rakan dan Raihan nya kembali dalam pelukannya.


"Lakukan apa yang kau suka, tapi aku bersumpah akan membuatmu menderita jika menyentuh milikku seujung kaki pun." Guman Raihan marah, ia mengerang marah.


"Shut!!", kenapa wanita ular itu bisa melewati batasannya. Sebenarnya apa yang Tania harapkan dari Rakan, bukannya wanita itu sudah bahagia dengan selingkuhannya. Kenapa wanita gila itu harus kembali dan merusak hidupnya. Raihan membuang nafas kasar, matanya terpejam menyimpan amarah. Lalu ia menarik nafas berusaha membuang amarahnya.


Raihan membalikkan tubuhnya menatap Raihanah, memeriksa setiap detail wajah Raihanah mencari apakah ada luka yang terlukis di sana. Ia takut Raihanah terluka karenanya. Ia tidak ingin melihat Raihanah menderita.


"Bagaimana keadaan mu?" Tanya Raihan sekali lagi. Ia tak mampu menuruti rasa khawatirnya. Biarlah Raihanah menertawakan sikap plin-plan nya tapi ia sungguh tak bisa hidup tanpa wanita itu. Ia sudah bertekad untuk mendapatkan hati Raihanah. perempuan yang dia cintai.


"Aku baik-baik saja." Ucap Raihanah gugup, ia memalingkan wajahnya dari tatapan Raihan. Ia tidak terbiasa ditatap seintens itu. Jantungnya berdebar begitu kencang. Ia juga tidak menyangka jika Raihan akan menolongnya. Ia kira Raihan akan membela mantan istrinya itu.


"Alhamdulillah." ujar Raihan tanpa sadar. Ia juga merasa kaget dengan dirinya sendiri biasanya ia tidak pernah bersyukur tapi sekarang lihatlah. Ia bersyukur kepada Tuhan tanpa sadar. Raihan menggeleng kan kepalanya mungkin efek dia akhir-akhir ini yang sering membaca-baca buku tentang Islam.


Kemudian Raihan mencium kening Rakan yang di Gendong oleh Raihanah. "Jagoan ayah baik-baik saja kan." Rakan hanya diam tidak menjawab. Hal itu membuat Raihan terdiam. Anaknya itu pasti ketakutan melihat pertengkaran tadi. Ia berpikir sejenak kemudian muncul sebuah ide di dalam pikirannya.


"Ayo." Ajak Raihan pada gadis di hadapannya untuk mengikutinya.


"Ada apa?" Raihanah mengernyit bingung ia tidak mengerti dengan ajakan Raihan.


"Ikuti aku." Raihanah ragu apakah ia harus ikut dengan Raihan, tapi melihat wajah sendu Rakan yang terus memeluknya erat.


"Bun." guman Rakan lirih hal itu membuat hati Raihanah luluh.


Raihanah mengikuti langkah tegap Raihan di belakang, ia berusaha menormalkan degup jantungnya. Tanpa Raihanah sadari ia tersenyum kecil, ada sedikit rasa senang di hatinya karena Raihan tadi membelanya. Apa Raihan masih mencintainya? jika ia maka Raihanah tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu lagi untuk berharap kembali pada Raihan


****


Semoga kalian suka cerita aku :)


love youuuuuuuuuu 😘


jangan lupa Follow Instagram Author @wgulla_