
Rain dan Hujan
Hari ini Raihanah ingin mencoba melupakan Raihan sejenak. Ia ingin bersenang-senang, Raihanah memutuskan pergi ke Kraton Solo, ia belum pernah kesini. Ini pertama kalinya, sebenarnya Raihanah ingin mengajak temannya Cindy kemari. Tapi temannya itu sedang sibuk, mengurus pernikahannya. Raihanah menghala nafas, ia senang melihat temannya akan menikah. Andai saja ia menerima Nathan atau Ryan, mungkin juga ia akan menikah. Hatinya tidak bisa dipaksa. Ia telah memutuskan akan menikah setelah ia bisa melupakan Raihan Salman Al-fatih.
Raihanah melangkahkan kakinya masuk kedalam Kraton. Matanya disuguhi suasana klasik berkesan mistik, tempat ini tidak terlalu ramai. Karena Raihanah datang bukan saat libur. Jalan yang dilaluinya, terdapat pohon-pohon yang menjulang tinggi di halaman kraton. lalu terdapat patung-patung disana. Ia harus mengabadikan gambarnya disini. Ia bersorak senang ketika melihat kereta kerajaan yang terpakir di depan pintu. Sangat cantik dan unik, ia menghampiri sosok pria yang sedang berada di dalam ruangan itu. ia akan meminta orang itu untuk memotretnya.
"Permisi mas, boleh minta tolong?" ucap Raihanah pelan.
Raihanah tersentak kaget, melihat wajah pria itu, ia tidak percaya jika pria itu bisa menemukannya di sini. Wajahnya terlihat kuyu, dan datar. Tidak ada senyum di sana, rasanya Raihanah ingin memberondong berbagai pertanyaan untuk orang itu. Tapi tubuhnya kaku, mulutnya bisu.
"Raihan,?" Raihanah, mengerjap bingung kenapa Raihan bisa tau ia disini? Apakah pertemuan ini sebuah takdir atau kebetulan?
"Apa kabar, rain?" tanya Raihan.
"Baik, kamu?"
"Seperti yang kamu lihat, bagaimana kalau kita berbincang-bincang sambil berkeliling," tawar Raihan.
Raihanah termenung ia menimbang-nimbang. Ini adalah ajakan paling menggoda yang pernah ada di hidupnya. Jika ia menerima tawaran Raihan, bukannya ia telah melanggar janjinya untuk tidak berada di hidup Raihan. Tapi jika ia menolah, hatinya terasa salah. Rindunya akan semakin menikam.
"Baiklah, tapi kamu jalan duluan." pada akhirnya ia lebih memilih melanggar prinsip nya. Karena ia sangat merindukan pria ini.
"Tadi kamu mau minta tolong apa," Raihan mengalihkan perhatian, ia ingin lebih lama berada di dekat Raihanah. Raihan tidak menyangka jika ia akan dipertemukan dengan Raihanah disini. Padahal ia mencarinya ke seluruh penjuru Eropa, Raihanah benar-benar menguji hatinya. Tadi ia tidak sengaja berhenti disini karena anaknya Rakan menelponnya meminta di belikan batik dan blangkon. Dan dia sekalian mampir mengunjungi Keraton untuk menenangkan hatinya. Liburan sebentar untuk refreshing tidak salah bukan.
"Aku mau minta tolong fotoin aku di kereta kencana itu."
"Berikan kameramu," Raihanah mengulurkan SLR-nya kepada Raihan. Raihanah berlari kecil-kecil menuju kereta kencana itu. ia berdiri di depannya dengan pose tangan membentuk huruf V.
Raihan mengarahkan kamera itu ke arah Raihanah, ia mengatur pencerahannya terlebih dahulu. Lensa kamera memantulkan gambar Raihanah, ia terlihat cantik dengan kerundung pink panjangnya yang di teruskan dengan long dress putih. Raihan tersenyum, melihat Raihanah seperti itu, ia seperti melihat bidadari surga.
"Cekrek" suara kamera mengambil shoot Raihanah.
"Kau mungkin bukan bidadari bermata jeli, tapi kau adalah bidadari yang mungkin Tuhan siapkan untukku." Raihan berkata, sambil menurunkan kamera dari wajahnya. Mereka saling menatap satu sama lain beberapa detik, kemudian Raihanah memutuskan kontak mata. Ia pura-pura melihat pohon yang berada di depannya. Raihan mendesah kecewa, sepertinya Raihanah tidak tertarik dengannya lagi.
Raihanah termenung mendengar kata-kata Raihan, wanita mana yang tidak akan meleleh mendengar ucapan manis Raihan. Raihanah menggeleng, ia harus bersikap normal. Mengharapkan cinta Raihan sama saja dengan menyiksanya.
"Lebih baik kita berkeliling," Raihan melangkah meninggalkan Raihanah, ia sibuk memotret keadaan. Raihanah berjalan dibelakang Raihan. Mereka hanya diam, Raihanah mengikuti setiap langkah kaki Raihan. Mereka bergerak mengelilingi area kraton, hanya ada sepi dan hembusan angin. Mereka tidak saling bicara, namun hati mereka saling bicara satu sama lain.
****
Mereka berjalan menyusuri Pasar Klewer, rintik hujan turun tiba-tiba. Raihanah mendongak langit berubah kelabu. Sepertinya hujan akan turun, ia menjadi panik. Ia berlari meninggalkan Raihan. Raihan menatap kepergian Raihanah bingung, ini masih gerimis tapi kenapa Raihanah klabakan mencari tempat berlindung. Raihanah berlari dengan kencang ke arah pohon beringin yang besar itu, ia tidak sadar jika ada sebuah mobil yang datang.
****
Raihan membeli payung yang tak sengaja dilihatnya. Ia tahu hujan akan turun dan Raihan tidak ingin Raihanah sakit karena kebasahan. Hujan turun dengan deras membasahi bumi. Raihan bergegas sambil membuka payung agar mengembang, lalu ia mengejar Raihanah, sampai saat itu ia melihat sebuah mobil bergerak melaju mendekat ke arah Raihanah.
"Rain, awas." Teriak Raihan.
Raihan berlari lalu menarik tangan Raihanah, membuat Raihanah reflek memegang bahu Raihan. Tubuh Raihan terciprat air kotor dari jalan akibat laju mobil itu. Tangan kiri Raihan bergerak memayungi tubuh mereka berdua dikala ia merasa hujan turun semakin deras membasahinya.
Raihanah terpaku ini pertama kali ia memeluk tubuh seseorang laki-laki, jantungnya berdebar kencang. Lagi-lagi ia jatuh dalam kehangatan seorang Raihan, ia merasa senang sekaligus berdosa karena menikmati kehangatan ini. Raihanah rasa ia tidak ingin melepas pelukan ini, ia ingin berada dipelukan Raihan selamanya. Rintikan hujan menambah suasana romantis itu, tak ada ucapan hanya tatapan. Mereka saling menatap satu sama lain. Raihanah sadar, ia mendorong dada bidang Raihan kencang menciptakan jarak di antara mereka.
"Maaf," ucap Raihan.
"Tidak apa-apa, lagipula kau melakukan itu untuk menolongku." ucap Raihanah. berusaha memaklumi jika semua ini bukan di sengaja. Tapi Karena Raihan ingin menolongnya.
Mata Raihan masih menatap Raihan, rasa rindunya terluapkan tapi masih menyisakan dahaga yang tidak dapat terhapuskan. Ia tidak bisa menahan diri lagi. Sepertinya ia memang harus membuat Raihanah jatuh cinta kembali padanya.
"Ku kagumi kamu wahai bidadariku, aku tak bisa ku jelaskan seperti apa kecantikanmu. Bahkan penjabaran Tuhan akan kecantikan bidadari surga di Firman-Nya, tak cukup untuk menjelaskan betapa cantiknya dirimu saat ini, Rain." Raihan bersuara, entah datang darimana syair-syair itu.
Raihanah terpaku, ia tertegun dengan ucapan Raihan. Lagi-lagi Raihan mampu membuat hatinya meleleh dengan syairnya. Raihanah menggeleng ia tidak boleh luluh secepat itu.
"Kau bis,-"
"Raihanah," ucapan Raihanah terhenti, tubuhnya membeku mendengar suara itu. raihanah tidak bisa membayangkan jika Raihan bertemu dengan pemilik suara itu.
"Ryan." panggil Raihanah melihat pria yang akhir-akhir ini selalu mengikutinya.
*****
jangan lupa like ya... dan koment
follow Instagram author @wgulla_