My Beloved Duda

My Beloved Duda
Bab 24



- Tak bisa kupercayai cinta, ketika ia datang hanya untuk menyakiti. Tapi aku tidak bisa mengelak jika aku membutuhkan cinta .- Raihan..


-


-


"Bu, ini kiriman bunga dari Pak Ryan." Tyas menaruh sebuket mawar merah di hadapan Raihanah. Raihanah melirik sekilas. Pasti bunga itu dari Ryan lagi. Raihanah menggeleng kan kepalanya merasa Ryan terlalu terobsesi padanya. Hingga tak pernah berhenti mengirimkan nya bunga walau sudah ia tolak berkali-kali. Sebenarnya ia juga merasa bersalah namun bagaimana lagi. Hatinya tidak bisa di paksa. Ia sudah terlanjur menyukai Raihan apalagi sejak bertemu orang asing bernama Adrian itu yang mengatakan jika Raihan sangat menyukainya membuatnya semakin sulit untuk move on dari Raihan. Bahkan cintanya semakin kuat saja.


'Aneh bukan?'


kadang ia merasa gila dengan perasaannya sendiri. ternyata benar cinta kadang tak memandang logika.


"Taruh saja di meja." Tyas langsung pergi meninggalkan bunga itu , ia merasa bosnya sedang kalut. Karena yang dilakukan bosnya dari tadi hanya melamun di kursi menatap jalan raya.


Raihanah mengalihkan perhatiannya yang semula menatap jendela ke mawar-mawar cantik ini. Tangannya bergerak merengkuh bunga itu, dihirupnya pelan. Semerbak harumnya memenuhi indra penciuman Raihanah. Mata Raihanah menangkap secarik kertas yang terselip di buket itu. Ia sudah berusaha untuk melupakan Raihan semenjak kejadian kemarin. Walau hatinya sangat sakit tapi ia berusaha. Lalu sekarang ia malah di kejutkan dengan Ryan. Terlalu banyak pria di hidupnya membuatnya sakit kepala. Kenapa pria itu hanya memperumit hidupnya? katanya cinta itu indah. tapi kok hanya bikin dia mumet.


Dear Raihanah


Entahlah sudah berapa kali kau menolak lamaranku, aku tidak mampu menghitungnya. Semenjak aku melihat kau menangis untuk pria lain hatiku bertambah perih. Aku tahu kau belum bisa melupakan priamu dan aku takut aku tidak bisa melepasmu dengan pria manapun. Sebelum itu terjadi, aku memutuskan untuk pergi ke tempat yang jauh meninggalkanmu. Aku harap kau bahagia dengan cinta yang kau pilih.


From Ryan.


"Tidak mungkin," Raihanah tercekat, ia tidak percaya jika Ryan akan pergi dari kehidupannya. Bukannya Raihanah ingin melihat Ryan yang terus mengejarnya, tapi ia merasa bersalah karena ia penyebab kepergian Ryan.


Raihanah terisak lagi-lagi keberadaanya membuat orang-orang tersakiti. Ia terisak pelan, hidupnya terasa rumit mulai dari kehadiran pria asing tadi malam yang memintanya untuk tetap tinggal di sisi Raihan dan sekarang kepergian Ryan yang entah kemana. mungkin ini karma karena telah menolak pria baik.


Raihanah mendesah, ia menghapus airmatanya. Ia tidak boleh larut dalam kesedihan. Ia pergi ke tempat ini bukan untuk menambah luka tapi untuk menghapus luka. Jika jodoh pasti Allah akan mempersatukan dengan cara apapun. Raihanah yakin hal itu. Jadi ia tidak boleh menangis. Ia tidak boleh lemah karena seorang pria.


"Tyas." Panggil Raihanah dengan suara yang lembut. Ia menaruh surat yang di genggamnya ke laci meja.


Tyas menoleh menatap Raihanah, "Ibu memanggil saya," Raihanah tertawa pelan mendengar panggilan Tyas padanya.


Padahal Raihanah sudah memperingatkan Tyas untuk tidak memanggilnya seperti itu, tapi apa boleh buat Tyas tetap ngotot memanggilnya seperti itu. Ia agak risih saja di panggil ibu. Ia merasa terlihat tua dengan panggilan itu.


"Iya, kemari ada yang ingin aku bicarakan. Panggil Beno sekalian," Tyas mengangguk lalu pergi memanggil Bano.


Sepuluh menit kemudian, ke dua nya duduk di hadapan Raihanah dengan secangkir teh yang menemani. Ada rasa penasaran di benak Beno dan Tyas. Tidak biasa nya bosnya ini mengumpulkan mereka dengan raut wajah serius itu.


"Kalian tahu kenapa aku memanggil kalian kemari?" Tanya Raihanah lembut penuh arti.


"Tidak tahu Bu."


"Rileks aja jangan tegang, aku tidak akan menggigit kalian." ujar Raihanah pada bawahan nya.


"Hahahahaha" Raihanah tertawa pelan, membuat Tyas maupun Bano yang tadinya tegang menjadi santai.


"Sebenarnya maksud ibu memanggil kami untuk apa," Beno yang dari tadi menyimpan pertanyaan itu akhirnya bisa ia utarakan. Ia sudah tidak sabar dengan lautan penasaran.


"Aku akan pulang ke Jakarta," Raihanah tersenyum kecil, lalu ia menolehkan wajahnya ke rumah kaca tempat toko bunga nya.


Tempat yang menyimpan kenangan, ia jadi teringat setiap pagi Ryan akan kemari mengirimi nya bunga yang Raihanah rangkai sendiri dan juga melamarnya. Raihanah tersenyum kecil mengingat itu. Ia juga tidak menyangka jika ia akan memiliki bisnis seperti ini dan bisa menghidupi kedua pegawainya. Dulu ia bercita-cita jadi guru tapi selain jadi guru ia ternyata juga bisa jadi seorang pengusaha. Walau tidak sebesar Raihan. lagi-lagi ia memikirkan pria itu. Padahal sudah jelas Raihan menyakiti nya tapi ia sama saja tidak bisa membenci Raihan. Hatinya sudah dibutakan dengan cinta. Raihanah menghela napas. Rasanya percuma jika ia menghindar sejauh apapun. Tidak ada gunanya. Ia harus jujur dengan perasaannya. Bahwa ia tidak bisa jauh dari Raihan.


Wajah Tyas kaku mendengar itu, ia takut kehilangan pekerjaannya begitu juga dengan Beno. Kapan lagi punya bos baik dan gaji mereka selalu di tambah. Bahkan dengan baik hati bos mereka akan memasak makanan untuk mereka. Jadi mereka tidak perlu uang untuk jajan.


"Ibu akan pergi," sahut Tyas sedih ia tidak ingin berpisah dari Raihanah. Ia sudah menganggap Raihanah sebagai kakak nya sendiri. Kalau Raihanah pergi ia akan merasa kehilangan sosok kakak perempuan.


"Tapi aku tidak akan menutup tempat ini, karena tempat ini memiliki kenangan tersendiri untuk ku. Kalian sudah aku anggap adikku jadi aku percaya menitipkan tempat ini kepada kalian." Raihanah melanjutkan ucapannya. Hal itu membuat bawahan nya senang bukan main. Walau ada rasa sedih, karena harus pisah dengan Raihanah.


"Jadi?" Tanya Beno tak sabaran, Tyas menyenggol lengan Beno pelan untuk bisa sopan. lagi-lagi Raihanah tertawa mendengar perkataan Bano yang blak-blakan. Beno banyak berubah sekarang.


"Aku ingin kalian menjaga tempat ini, kalian boleh menambah pegawai lagi jika kerepotan. Bisa di bilang aku ingin kalian melanjutkan bisnis ku dan aku pulang ke Jakarta. Jika ada masalah dengan tempat ini kalian bisa menghubungi ku." Lanjut Raihanah. Ia tidak ingin menghindari Masalah lagi. Ia juga rindu keluarga besarnya. Sepertinya kepulangannya akan membawa kejutan bagi keluarganya terutamanya sang ayah pasti akan mentertawakannya habis-habisan yang berdalih ingin mandiri namun baru beberapa bulan sudah kembali lagi ke Jakarta. Raihanah tersenyum membayangkan ha itu.


Ia jadi tidak sabar. Dan juga ia rindu mengajar.


***


jangan lupa follow Instagram Author ya teman-teman ku @wgulla_


semoga suka sama cerita aku ya..


jangan lupa like dan komen...


aku tunggu ya .


love youuuuuuuuuu 😘