My Beloved Duda

My Beloved Duda
Bab 32



Raihanah menunggu dokter keluar dari Unit Gawat Darurat. Ia berdoa sepanjang waktu menunggu tenaga medis merawat Raihan. Airmatanya tak henti menetes membasahi wajahnya. Seharus nya ia yang terbaring di dalam sana bukan pria itu. Namun Raihan lah yang menolong nya. Andai saja Raihan tidak menolong nya pria itu tidak akan seperti ini.


Ryan yang mengamati Raihanah menangis seperti itu jadi tidak tega. Ia cemburu dengan Raihan. Pria itu selalu bisa menarik perhatian Raihanah. Gadis yang ia cintai. Ia juga ingin berada di posisi pria itu. Bahkan ia rela terluka jika itu bisa membuat Raihanah melihat dirinya. Kehadiran nya..


Ingin sekali Ryan menghampiri Raihanah lalu menghapus air mata gadis itu. Namun ia tidak mampu. Ia juga ingin mendekap erat gadis itu dalam pelukannya. Menghapus rasa sedihnya. Tapi ia hanya bisa melihat Raihanah dari jauh tanpa bisa berbuat apapun.


Suara langkah kaki membuat Raihanah mendongak. Dengan langkah yang tertatih-tatih. Gadis itu menghampiri dokter. Dengan wajah yang masih sembab dan terlinang air mata Raihanah menatap dokter itu dengan penuh harap.


"Bagaimana keadaan Raihan dok?" Tanya Raihanah tidak sabar. Ryan ikut menghampiri dokter itu.


"Disini siapa keluarganya?" tanya dokter tersebut.


"Saya istrinya dok." jawab Raihanah cepat. Ia tidak peduli lagi jika harus berbohong. Yang ia inginkan adalah tahu keadaan pria yang telah melindunginya. Sedangkan Ryan tercekat mendengar itu.  Ia tidak percaya jika Raihanah akan mengatakan itu. Apa sekarang tidak ada lagi kesempatan untuk dirinya? Sepertinya memang tidak ada.  Bahkan gadis itu denah. terang-terangan sudah mengakui Raihan sebagai suaminya. Bukankah itu berarti tidak ada lagi kesempatan Untuknya.


"Suami anda baik-baik saja. Kami juga telah menjahit kepalanya untung saja tidak sampai gagar otak. Suami anda hanya perlu istirahat untuk beberapa waktu." Setelah mengatakan itu dokter pergi meninggalkan mereka.


"Terima kasih ya Allah." gumam Raihanah sambil bersujud syukur. Orang yang di cintai nya selamat. Ia berjanji akan menjaga Raihan.


***


Raihan mengerjapkan matanya, kepalanya terasa sakit. Ia mengedarkan pandangan nya, yang pertama kali ia lihat adalah Raihanah dan Ryan yang sedang menatap nya cemas, Raihan memegang kepalanya.


"Kau di rumah sakit." Jawab Ryan.


"Raihan, lebih baik kamu istirahat dulu," sahut Raihanah ketika melihat Raihan memaksakan diri untuk duduk.


Raihan menurut ia membaringkan tubuh nya kembali. Raihan menghela nafas, ia memijat pelipisnya pelan. Kejadian tadi hampir saja membunuhnya, paling tidak Raihanah baik-baik saja.


"Lebih baik kamu minum dulu," Raihanah mengambil gelas berisi air di meja, ia ingin membantu Raihan meminumkan air itu.


"Rai biar aku saja," Namun Ryan menyela, ia tidak ingin Raihanah berdekatan dengan Raihan. Raihan menaikkan alisnya, lalu menatap Ryan tidak suka. Pria itu menganggu waktu nya bersama Raihanah. Ryan mengambil gelas yang dibawa Raihanah cepat. Ryan membantu Raihan untuk minum.


"Terima kasih." Raihan tulus mengucapkan itu. Ryan tertegun mendengar nya, apa akibat benturan itu Raihan berubah.


****


jangan lupa like ya... dan koment


love you ♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️


jangan lupa follow Instagram author @wgulla_