My Beloved Duda

My Beloved Duda
Bab 48



-Tapi ternyata merindukanmu memang tak mengenal waktu.-


1 tahun berlalu...


Raihanah berbaring diranjang rumah sakit, ia merasa sedih bagaimana tidak ia baru saja melahirkan anak pertamanya namun ia hanya didampingi keluarganya dan kakek Raihan. Tapi Raihanah juga merasa bahagia karena ia bisa melahirkan anak pertamanya dengan normal dan selamat. Anaknya laki-laki, terlihat sehat dan tampan seperti ayahnya.


Raihanah mendesah sedih tak kala mengingat Raihan rasanya ingin sekali ia berteriak sekencang-kencangnya dan berharap Raihan ada disini menemaninya. Namun Raihanah bisa apa takdir berkata lain. Raihanah tidak bisa mengingkari takdir dan tidak bisa melawannya ia hanya bisa pasrah.


"Aku merindukanmu Raihan." Guman Raihanah pada dirinya sendiri.


Raihanah mengusap lembut kepala anak pertamanya, jujur ia masih bingung mau memberi nama apa untuk anaknya. Dicium kening anaknya dengan lembut, anaknya sedang tertidur pulas disampingnya.


"Bunda" panggil seseorang anak kecil laki-laki di tengah lamunannya.


Raihanah menaikan alisnya tak kala mendengar suara itu, suara yang ia rindukan akhir-akhir ini. Rakan muncul dari balik pintu sambil melompat-lompat membawa ice cream ditangannya.


"Sayang kok bisa disini?" Tanya Raihanah bingung seharusnya anaknya berada di sekolah. Seharusnya Rakan tidak kesini, bagiamana anak itu bisa kesini.


"Ayah yang ngajak kesini." Rakan membuka Ice creamnya dan mulai memakannya dengan nikmat.


"Apa?" ucap Raihanah dengan nada tak percaya, tidak mungkin suaminya berada disini.


"AYAH?" Raihanah meyakinkan diri sekali lagi.


"Dimana ayah kamu?" tanya Raihanah penasaran.


"Diluar sama kakek." Jawab Rakan dengan lembut, matanya berkedip sambil menjilat eskrim yang mengotori mulut kecilnya.


"Hay.. sayang." Sapa sebuah suara yang akhir-akhir ini mengusiknya.


Raihan berjalan menuju ranjang Raihanah sambil membawa bunga mawar merah jambu kesukaan Raihanah, disampirkan bunga mawar itu dimeja sebelah ranjang Raihanah. Raihanah cemberut tidak suka melihat kehadiran Raihan, karena Raihan tidak menemaninya disaat persalinan.


"Maaf sayang aku ngak bisa nemenin kamu, kamu tau kan aku ada di Rusia, dan perjalanan ke Indonesia itu butuh waktu berjam-jam." Keluh Raihan semenjak peristiwa penculikan Rakan dulu, ia mulai membangun bisnisnya ke penjuru Eropa. Untungnya ia selamat dalam peristiwa itu.


Raihanah memalingkan muka, disaat Raihan ikut berbaring diranjangnya. Raihan tersenyum geli melihat tingkah Raihanah. Dikecupnya bibir Raihanah yang cemberut itu dengan tiba-tiba. Raihanah yang mendapat kecupan itu langsung kaget dan mendelik menatap Raihan sebal.


"Jangan marah terus sayang nanti cepet tua" Goda Raihan berharap dengan begitu Raihanah akan memaafkannya.


Tanpa Raihanah sadari ia tersenyum mendengar ucapan Raihan. Raihan mengelus kepala Raihanah, namun elusan itu terhenti disaat ia melihat anak laki-lakinya yang baru saja lahir. Tampan itulah yang ada difikiran Raihan tak kala melihat anak laki-lakinya.


"Anwar Salman Al-fatih" tanpa sadar Raihan mengucapkan kata itu.


"Anwar?" tanya Raihanah penasaran.


"Anwar artinya cahaya. Aku rasa anak kita akan membawa cahaya baru dikeluarga kita," Ujar Raihan sambil tersenyum senang. Ia tak henti memandang anaknya dengan bahagia. Rasanya ia seperti hidup kembali.


*****


jangan lupa follow Instagram author @wgulla_ ♥️♥️♥️


love you ♥️