My Beloved Duda

My Beloved Duda
Bab 42



Tania mencengkram tangan Raihanah kuat-kuat seakan tak ingin melepaskannya. Hal itu membuat Raihanah menahan rasa sakit dipergelangan tangannya, Raihanah rasa wanita ini positif gila.


"Siapa yang memberimu izin untuk mendekati Rakan?"


"Kamu tahu tidak apa alasan aku mengundangmu kemari?"  tersenyum misterius tak kala mengucapkan kalimat itu.


Raihanah menggeleng tidak mengerti, ada rasa takut dihatinya melihat senyum Tania itu. Ia merasa Tania akan memperlakukannya sama seperti Raihan membayangkan itu membuat hati Raihanah nyeri, bukan karena ia takut dengan Tania tapi karena anaknya Rakan dibuat tak berdaya oleh wanita ular itu.


"Aku tidak takut dengan kamu." Raihanah mengatakan itu dengan lantang.


Tania menyeringai tak kala mendengarnya, dikeluarkannya sebuah pistol dalam sakunya. Tania mengarahkan pistol itu tepat kearah kepala Raihanah, seakan-akan siap menembak Raihanah kapan saja yang ia mau.


Jantung Raihanah berpacu dengan cepat tak kala ia melihat Tania mengarahkan pistol kekepalanya. Raihanah rasa hidupnya hanya tinggal hitungan detik saja, karena disetiap waktu yang berputar ini Tania kapan saja bisa menembaknya membayangkan hal itu membuat Raihanah gelisah. Dirapalkan ayat-ayat al-qur'an yang ia hafal dalam hatinya berharap ada keajaiban yang menolong dirinya.


Tania tertawa senang tak kala melihat wajah ketakutan milik Raihanah, entah kenapa ada kepuasan tersendiri tak kala melihatnya. Tania merasa dirinya sekarang sudah benar-benar seperti seorang psikopat.


Tania membayangkan bagaimana ekspresi wajah Raihan jika ia membunuh Raihanah dan Rakan. Lamunannya terhenti dikala ponsel Tania berdering. Dilihatnya siapa yang menelpon, Tania terlonjak kaget mengetahui jikalau yang menelpon adalah nomer Raihanah. Padahal gadis itu bersamanya, tapi kenapa gadis itu bisa menelponnya. Ditatapnya Raihanah dengan tajam.


"Dimana ponselmu ******?" Tanya Tania


"Aku tidak membawanya. Aku meninggalkannya dirumah"


"Shit, wanita sialan" Ucap Tania sambil mendorong Raihanah jatuh kelantai.


Ponsel itu terus berdering tanpa henti, berharap agar diangkat. Tania yang melihatnya dengan kesal menjawab telpon tersebut.


Rasakan itu! siapa suruh menolak nya.


"Hai ******, beraninya kau membawa anak dan istriku....." ujar suara di seberang dengan penuh amarah.


"Hai Raihan, aku rasa kamu terlambat..." Tania tertawa penuh kemenangan mendengar Raihan yang begitu lemah.


"RAIHAN TOLONG AKU, RAKAN ADA DISINI. DATANGLAH CEPAT RAIHAN." teriak Raihanah berharap Raihan dapat mendengar suaranya. Tania geram ia langsung mematikan ponselnya dan membuangnya sembarangan.


Tania menghampiri Raihanah menjambak rambut gadis itu dengan kencang lalu dilemparnya Raihanah kelantai, hal itu membuat Raihanah meringis kesakitan.


"Rasakan itu berengsek." ujar Tania pada Raihanah yang ceroboh.


Tania mencondongkan pistolnya kearah Raihanah, ditembaknya kearah bahu Raihanah hingga peluru itu melukai Raihanah. Darah mengalir dari bahu Raihanah tanpa henti, Raihanah yang melihat darah itu langsung syok dan pingsan. Raihanah merasa matanya tertutup, pandangannya kabur ditelan kegelapan begitu saja. Namun sebelum pandangannya tertutup ia masih sedikit melihat bayangan Sinta yang membawa Rakan pergi dari hadapannya.


"Rakan" Raihanah bersuara lirih, tak kala ia mendengar suara derap langkah kaki yang meninggalkannya sendiri diruangan ini.


****


jangan lupa Follow Instagram aku @wgulla_


love youuu ♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️


semoga kalian suka ya sama cerita aku  :)♥️♥️♥️♥️♥️