My Beloved Duda

My Beloved Duda
Bab 23



Rasaku padamu sungguh tulus Rain, maaf menyakitimu lagi... dan utnuk kesekian kalinya.. tolong maafkan akuuu


Raihan tercekat mendengar suara itu, ia langsung melepas ciumannya. Raihan berdehem lalu merapikan pakaiannya yang berantakan. Ekor mata Raihan tidak sengaja menangkap sosok gadis yang akhir-akhir ini membuatnya gila. Raihan mendesah dalam hati, kenapa harus bertemu disaat seperti ini? pasti Raihanah akan berfikiran buruk dengannya. Tapi untuk apa Raihan peduli dengan pandangan Raihanah bukannya ia kemarin sudah menolak cinta Raihanah.


Cih!! Menolak ? dirinya hanya terlalu gengsi untuk menerima kenyataan jika Raihanah mencintainya. Ia takut cinta yang terdapat dalam diri Raihanah hanya sekedar bualan belaka. Raihan hanya tidak ingin terluka lagi, walau dalam hatinya ia begitu mendamba Raihanah.


Raihanah melihat gadis itu, Raihanah sangat cantik dan membuat darahnya berdesir. Raihanah menurunkan Rakan anaknya dari gendongannya hati-hati. Lagi-lagi Raihan tersentuh oleh prilaku Raihanah. Rasa cinta itu masih ada, tapi Raihan menahannya kuat-kuat.


"Maaf kehadiran saya mengganggu aktivitas menyenangkan anda, saya hanya mengatarkan anak kecil yang terlihat sendirian di pesta karena ditinggal orangtuanya." Suara lembut Raihanah penuh penekanan seakan-akan menyindir Raihan yang tidak becus merawat anak . .


Kening raihan berkernyit mendengar Rakan sendirian bukannya tadi ia menitipkan Rakan pada Adrian. Raihan menghela nafas, pasti pria sialan itu pergi bersenang-senang dan melupakan anak yang seharusnya ia jaga. Awas saja kau Adrian akan aku bunuh dirimu nanti!!!


"Kalau begitu saya pergi," Raihan sadar dari lamunannya, ia belum rela jika Raihanah meninggalkannya. Tapi ia juga tidak bisa menahan Raihanah. Raihan menelan ludah, ia dilema.


"Bunda mau kemana?" ucap Rakan tiba-tiba membuat semua orang di lorong itu menatap Rakan penuh minat termasuk wanita yang berciuman dengan Raihan tadi.


"Siapa yang kau panggil bunda?" tanya Raihan bingung.


"Tentu saja aku, aku kan ibunya." Ucap wanita di samping Raihan dengan angkuh. Mata Raihanah membulat, ia menatap wanita cantik yang berbalut pakaian seksi itu lekat-lekat. Ia masih tidak percaya jika orang yang ada di hadapannya adalah mantan istri Raihan.


"Bukan tapi bunda Raihanah." Balas Rakan kecil sambil menatap tidak suka pada tania yang merupakan ibu kandungnya. Tania mendelik ia menatap Raihanah tidak suka, sialan wanita itu membuatnya malu karena penolakan Rakan yang terang-terangan.


"Bunda harus pergi, ada suatu hal yang harus bunda urus." Suara Raihanah bergetar, ternyata wanita yang mencium Raihan adalah mantan istrinya dan ibu dari Rakan.


Walau ia merasa menang sedikit karena Rakan lebih memihak kepadanya tapi Raihanah tidak sanggup lagi berada disini, ia ingin pergi menjauh. Hatinya sakit melihat Raihan yang bermesraan  dengan  mantan istrinya itu. Raihanah lalu mengecup kening Rakan lembut. Batin Raihan iri melihat itu, kenapa Raihanah tidak pernah memperlakukannya lembut seperti Rakan.


Raihanah langsung berlari meninggalkan Raihan yang menatap kepergian Raihanah, tak ada sapa untuknya, tak ada senyum untuknya, bahkan Raihanah memperlakukannya seperti orang asing. Timbul rasa kecewa di hati Raihan, apa ucapan Raihanah kemarin hanyalah kebohongan?


"Jadi anakku sudah tumbuh menjadi anak yang tampan." Suara Tania menyadarkan Raihan dari lamunannya.


"Jangan sentuh anakku ****** dan soal ciuman tadi aku tidak akan memaafkanmu." Ancam Raihan. Ya tadi Tania menjebak nya padahal niat awalnya untuk membuat Tania pergi dari hidupnya.


"Shit!! Jangan pernah mencium orang sembarangan." Lanjut Raihan, Tania memutar bola mata dan menatap Raihan meremehkan.


"Rakan hanya anakku dan hanya aku yang boleh memilikinya." Ancam Raihan sambil membawa Rakan ke dalam pelukannya.


"Kita lihat saja nanti Raihan, karena aku sangat memerlukan anak itu." Tania menyeringai, ketika langkah tegap Raihan menjauh dari hadapannya.


*****


Lagi-lagi Raihanah harus menelan pil pahit, menghadapi kenyataan Raihan bermesraan dengan wanita lain adalah hal yang paling menyakitkan yang Put. Dan sialnya, wanita itu adalah mantan istrinya Raihan sendiri, Raihanah tertawa hambar, bodoh . Kenapa ia bisa jatuh cinta pada pria seperti Raihan. Kenapa ia harus jatuh cinta kepada Taipan tampa itu? pasti tidak akan ada wanita yang mau melepaskan pria setampan dan kaya seperti Raihan. Airmata Raihanah mengalir membasahi pipi, ia seakan berada di titik penderitaannya.


"Tak tahukah Raihan betapa sakit hatiku, kau buatku melambung namun dalam sekejap kau menjatuhkanku kembali, " batin Raihanah.


"Tidak baik seorang wanita cantik menangis di malam hari ," Tangis Raihanah terhenti, ia mendongakkan kepalanya, ia memandang sebuah sapu tangan yang tergeletak di pangkuannya. Lalu ia memutar kepalanya, matanya bertemu dengan punggung seorang pria yang berdiri menjulang di depannya.


"Te-rima ka-sih," suara Raihanah terdengar lirih, ia kehilangan suara karena menangis untuk pria yang mungkin saja tidak peduli terhadapnya.


"Dia mencintaimu." Pria itu berkata tanpa peduli reaksi Raihanah yang bingung.


"Apa katamu?" Tanya Raihanah tidak mengerti mungkin ia salah dengar.


"Dia mencintaimu, sangat mencintaimu." Ulang Adrian.


"Siapa yang kau maksud?" Raihanah menghapus airmatanya yang jatuh ke pipinya dengan sapu tangan yang diberikan Adrian. Raihanah merasa pria ini gila, datang dengan perkataan yang tidak masuk akal.


"Raihan Salman Al-fatih." Jawab Adrian.


"Apa?" jantung Raihanah berdebar sangat keras mendengar nama itu.


"Tadi aku melihatmu dan Raihan, kau pasti perempuan yang Raihan maksud hari itu." Adrian melanjutkan.


"Jangan menjauh darinya, aku mohon tetaplah berada di sampingnya. Dia sangat rapuh dan penuh luka." pinta Adrian tidak ingin Raihanah menjauhi Raihan. Siapa tahu gadis itu bisa menyembuhkan luka yang dimiliki Raihan.


"Aku tidak percaya perkataanmu." elak Raihanah.


"Kalian berdua terlalu bodoh untuk mengakui perasaan kalian masing-masing." Adrian kemudian terkekeh menyadari dua orang yang saling mencintai ini tapi terlalu bodoh tuk mengungkapkan perasaannya masing-masing. Benar-benar Bodoh! inikah yang di namakan cinta. Adrian berharap ia tidak merasakan ini.


"Terserah dirimu, aku hanya menyampaikan. Aku tidak ingin kau ataupun dia akan terluka suatu saat nanti."


"Pikirkan matang-matang keputusanmu," Adrian lalu berlalu meninggalkan Raihanah dalam keheningan yang tiada batas.


****


Sedikit bingung untuk melanjutkan cerira ini, tapi karena author lagi seneng 😘😘 dapet pencerahan dari yang maha kuasa..


Thanks yang udah mau baca cerita gaje ini..


Love you