My Beloved Duda

My Beloved Duda
Bab 22



TERLUKA


Andai bisa ku bekukan waktu, pasti cinta ini akan menyatu tanpa ragu. Maaf telah melukaimu untuk kesekian kalinya, Rain....


-


-


Raihanah melangkahkan kaki memasuki gedung hotel, hari ini adalah hari pernikahan sahabatnya Cindy ketika SMA dulu. Cindy menikah dengan Heru seorang dosen di salah satu universitas terkenal di Surakarta. Pesta berlangsung dengan meriah, dengan dekorasi khas jawa yang di balut sentuhan modern menjadikan ruangan ini terlihat elegan. Raihanah memakai long dress merah berlengan panjang dengan renda dan kerudung putih panjang yang menutupi dada sampai pinggangnya. Raihanah terlihat anggun dan mempesona malam ini.


Raihanah berjalan tanpa menghiraukan tatapan memuja orang-orang yang ditunjukkan secara terang-terangan kepadanya. Ketika Raihanah sampai di kursi pelaminan, ia menyalami Cindy dan Heru. Mereka terlihat sangat serasi, timbul sedikit rasa iri di benak Raihanah. Andai dulu ia tidak menolak Raihan, pasti ia akan berada di tempat yang sama seperti Cindy. Raihanah menggelengkan kepalanya kenapa ia masih memikirkan Raihan. Tidak seharusnya pria itu berada di pikirannya.


"Barakallah, atas pernikahan kalian. Semoga Allah meridhoi kalian berdua hingga ajal menanti." Ucap Raihanah


"Terimakasih Rai, terimakasih sudah datang," Cindy langsung memeluk erat tubuh sahabatnya itu.


"Maaf kemarin aku tidak bisa menemanimu," Cindy menyesal, kemarin ia sibuk mengurusi jadwal pernikahannya hingga ia menolak ajakan Raihanah.


"Tidak apa-apa, Cin." Raihanah memaklumi itu.


"Aku harap kamu cepet nyusul Rai," sahut Heru tiba-tiba.


Raihanah tersenyum kecil mendengar ucapan Heru, apa ia bisa menikah secepat itu? setelah aku menyakiti hati dua orang pria sekaligus. Apa masih ada pria yang menginginkan aku? Raihanah menggeleng kecil menghapus pikiran itu. sebaiknya ia fokus terhadap kariernya dulu, ia tidak ingin terluka. Penolakan Raihan kemarin membuat Raihanah sadar jika ia tidak pantas untuk dicintai dan kepergian Ryan yang entah kemana juga membuatnya frustasi akan cinta.


"Permisi, aku mau kesana sebentar." Pamit Raihanah pada sahabatnya.


Raihanah melangkah kecil menuju jajaran meja yang berisikan minuman, ketika Raihanah mengambil salah satu minuman disana. Raihanah merasa lututnya dipeluk oleh sepasang tangan kecil. Raihanah menunduk melihatnya, ia kaget namun ia langsung menyembunyikan rasa kagetnya dengan senyumnya. Ia menundukkan badan mensejajarkannya dengan tubuh kecil Rakan. Raihanah tidak mengira ia akan bertemu dengan anak ini.


Apakah ini takdir tuhan? kenapa mereka selalu dipertemukan. jika ada Rakan pasti ada Raihan. Jantung Raihanah berdebar tanpa ia sangka. Padahal ia sudah berkali-kali mencoba menjauh dari Raihan. Tapi pria itu selalu ada di manapun.


"Bunda Rain, kok bisa disini," tanya Rakan. Ia senang akhirnya bisa bertemu Raihanah. Maka dari itu ia langsung menghampiri bundanya itu, padahal ayahnya tadi melarangnya bangkit dari kursi sebelum ada Paman Adrian. Ia rindu, dengan Raihanah.


"Seharusnya bunda yang bertanya seperti itu sama kamu Rakan." Raihanah tidak mempermasalahkan panggilan Rakan padanya.


"Rakan diajak ayah ke sini. Om heru temannya ayah nikah makannya kita kesini sebelum pulang." ucap Rakan.


"Oh." Ujar Rainah seakan mengerti apa yang Rakan katakan.


"Dimana ayahmu?" Raihanah melihat sekeliling tapi ia tidak menemukan keberadaan Raihan di sekitar Rakan.


"Untungnya kau pintar, karena bisa menemukan keberadaanku," ucap Raihanah sambil mengelus lembut rambut hitam milik Rakan.


"Dasar pria itu, bisa-bisanya meninggalkan anak kecil sendirian di hotel yang megah ini." guman Raihanah dalam hati. Ia marah kepada Raihan yang bisa-bisanya meninggalkan anaknya seorang diri. Bagaimana jika anaknya di culik nanti atau terluka? Apa Raihan tidak pernah memikirkan hal itu? Sebenarnya apa sih yang ada di otak Raihan.


Raihanah mengangkat tubuh kecil Rakan ke dalam gendongannya, disambut suka cita oleh Rakan.Tubuh Rakan terasa lebih berat sebelumnya. Raihanah meringis karena itu.


"Kamu kok tambah berat sayang. Banyak makan ya." Rakan hanya tertawa.


"Ayo kita cari ayahmu dan kita beri dia pelajaran!!!" Ucap Raihanah dengan senang. Ia tidak tega membiarkan Rakan seorang diri disana. Andai saja Rakan anaknya pasti dia akan sangat bahagia.


"Ayo!!" seru Rakan senang. Raihanah tertawa melihat betapa menggemaskan ekspresi Rakan. Lalu mereka berjalan mencari dimana keberadaan Raihana. Raihanah bertekad juga ingin memberikan pelajaran ada pria kurang ajar itu karena telah meninggalkan anaknya seorang diri.


*****


Setelah berputar-putar selama 10 menit di sekitar ruangan pernikahan, akhirnya Raihan menemukan Raihan. Dilihatnya sosok tegap itu berjalan menuju lorong kamar mandi, Raihan melangkah pelan mengikuti Raihan, ia agak kesulitan untuk berlari karena ia sedang menggendong Rakan dan memakai sepatu high hels. Raihanah tersenyum bahagia bisa melihat pria tampan itu lagi, timbul sedikit harapan di hatinya. Ia sudah memaafkan Raihan, dan ia ingin memulai semuanya dari awal. lalu meminta Raihan untuk melamarnya kepada sang ayah.


"Rai-" Ucapan Raihanah berhenti, ia terpaku dengan apa yang ia lihat. Hatinya seakan di remas untuk kesekian kalinya. Lagi-lagi Raihan menghancurkan hatinya berkeping-keping. Sesakit ini kah jatuh cinta. Kalau ia kenapa harus dia yang merasakan. Ternyata benar ujian paling berat adalah jatuh cinta sebelum menikah. Ya Allah kuatkan hatinya agar airmatanya tak tumpah dengan sia-sia.


Mata Raihanah melotot, tubuhnya hampir luruh kalau saja ia tidak menyandar ke tembok. Tubuh Raihanah menegang, hatinya belum sanggup menerima kenyataan ini. Raihan laki-laki yang kemarin baru saja mengatakan cinta padanya berciuman dengan wanita lain. Hatinya perih, ia tidak pernah merasa sakit seperti ini, ia jadi ingat ciuman pertama yang ia dapatkan dari Raihan. Raihan pasti sangat berpengalaman dibanding dirinya, bisa saja Raihan hanya mempermainkan hatinya. Pria itu tak sungguh mencintainya. Mana ada cinta tapi masih bisa mencium wanita lain.


Ternyata pria itu sama dengan pria lainnya yang bisa mencium semua wanita. Apa Raihan juga berpikir ia sama dengan wanita-wanitanya? Raihanah sedih memikirkan hal itu. Semudah itukah Raihan mencium wanita lain setelah menciumnya? dan bodohnya kenapa ia harus menangis untuk pria yg bukan siapa-siapa nya. Raihan bebas melakukan apapun. Jadi dia tak perlu sedih. Untuk apa menangisi pria berengsek sepertinya. Seharusnya ia tak menangis.


"Bunda," Suara Rakan menyadarkan Raihanah, dengan cepat Raihanah memalingkan wajah Rakan agar tidak melihat itu. tapi terlambat Rakan melihat sosok ayahnya lebih dulu.


"Ayah." Panggilan Rakan membuat aktivitas itu berhenti.


Raihan menoleh, matanya terbelalak kaget mendapati anak dan wanita yang di cintai nya berada di hadapannya. Habis sudah riwayatnya.


****


jangan lupa Follow Instagram author @wgulla_


jangan lupa like nya.... dan koment juga...


love youuuuuuuuuu semua