My Beloved Duda

My Beloved Duda
Bab 16



Bab 16


Pagi ini Raihanah disibukkan dengan puluhan rangkaian bunga, ada perusahan besar yang memesan 50 rangaikaian bunga mawar. Raihanah tidak tahu siapa pemilik hotel itu, hingga berani memesan bunga sebanyak itu. untung saja Raihanah memiliki pegawai. Jadi ia tidak kelelahan melakukan pekerjaan ini. bunga-bunga ini nanti sore harus sudah tiba di hotel tersebut. Terlalu mendadak memang, karena toko bunganya hanya diberi waktu 2 hari untuk mengerjakan ini. tapi Raihanah tidak bisa menolak, demi kelangsungan hidupnya.


Raihanah menyeka keringatnya, sudah memasuki jam makan siang. Hanya tinggal 3 rangkaian lagi. Ia menguatkan dirinya. Ia harus semangat.


"Tyas, Beno. Lebih baik kalian istirahat terlebih dahulu. Hanya kurang 3, sebaiknya kalian mengisi perut kalian. Aku tadi sudah memasak, kalian bisa memakannya di meja itu," Raihanah menunjuk meja dekat kasir. Disana terlihat berbagai macam makanana terhidang, menggoda untuk disantap.


"Baik bu," ucap keduan nya meninggalkan pekerjaannya.


Mereka bertiga berkumpul di meja itu makan bersama-sama. Beno agak merasa canggung karena hanya ia yang laki-laki di sini. Bekerja dengan dua wanita cantik kadang membuatnya salah tingkah. Dan harus menjaga sikapnya yang urakan. Ia tidak ingin di pecat hanya karena tidak sopan pada atasannya.


"Tidak usah malu Beno, ambilah sesukamu. Aku tahu porsi laki-laki kalau makan pasti banyak." Canda Raihanah. Beno meringis, lalu menggaruk rambutnya yang tidak gatal.


"Bener kata bu Raihanah, kau itu kan porsi makannya banyak. Kalau kamu makan sedikit, nanti kau tidak bertenaga bekerja," sahut Tyas menggoda Beno.


"Dengar Beno, yang dibilang Tyas benar. Aku tidak ingin toko bungaku bangkrut karena kau yang kelaparan. Makan yang banyak ya." Beno langsung mengambil makanan dengan lahap. Raihanah dan Tyas tertawa melihat kelakuan unik Beno.


"Bu tumben Pak Ryan 2 minggu ini ngk kesini," Tyas menyela. Raihanah terdiam, mungkin karena Ryan telah menyerah. Raihanah terus menolak lamaran Ryan. Apalagi malam itu ia terang-terangan mengatakan jika ia mencintai pria lain. Pasti Ryan sekarang sudah mundur teratur untuk mengejarnya. Raihanah yakin akan itu.


"Aku tidak tahu,'" ucap Raihanah karena dia memang tidak mendapat kabar apapun mengenai pengusaha kaya itu. kadang ia bingung kenapa hidupnya harus terjebak dengan laki-laki kaya.


"Maaf bu." Tyas melihat perubahan raut wajah Raihanah. Ia merasa bersalah menanyakan hal itu. kepada bosnya.


"Tidak apa-apa." Raihanah tersenyum, ia tidak mau Tyas merasa bersalah. Lagi pula Tyas tidak salah, ia hanya heran tidak menemukan Ryan di sini.


*****


Raihanah sibuk menata bunga-bunga rangkaiannya di salah satu ruangan Hotel Prasetya. Ruangan itu terlihat sangat mewah dan elegan bukan hanya bunga tapi juga hiasan kayu yang diukir dari Jepara dilengkapi kilau lilin yang menambah suasana romantis, keningnya berkerut. Ia penasaran sebenarnya ada acara apa. Rasa penasarannya tak terjawab, toh dia hanya seorang penata bunga tidak lebih. Dia dibantu oleh dua rekannya Tyas dan Beno.


Ketika ia ingin keluar dari ruangan ia dikejutkan dengan lampu yang mati. Raihanah menjerit ketakutan, karena tidak ada orang di sini selain dia. Hanya ada nyala lilin menemani keremangan. Ia meringkuk meluruh jatuh ke lantai. Bahkan disaat ia memanggil kedua rekannya tidak ada sahutan dari mereka hatinya resah, ia bingung. Peluh mengalir di dahinya sampai ia menangis. Raihanah tak henti menangis, hingga isaknya berhenti mendengar dentingan piano memenuhi indranya.


"Tunggu, Kenapa nama belakang Ryan sama dengan nama hotel ini?" guman Raihanah.


Dentingan piano berhenti, menyisakan keheningan di antara keduanya. Raihanah menatap Ryan bingung, ia tidak tahu apa yang direncanakan Ryan. Apa Ryan ingin melamarnya lagi?


"Sebelumnya saya ingin meminta maaf kepada Raihanah. Mungkin, kamu sudah bosan mendengar kalimat ini. Tapi aku tidak akan menyerah, aku serius jika aku menginginkanmu menjadi istriku. "


"Maukah kau menikah denganku, Raihanah?" Ucap Ryan pada Raihanah.


Raihanah terpaku ucapan Ryan begitu manis ditambah suasana romantis seakan mendukung hari ini. Tapi ada satu hal yang Raihanah rasakan, jantungnya tidak berdebar. Hatinya tak merasa senang, tidak ada rasa bahagia semuanya begitu hampa. Ia juga tidak merasakan bahagia seperti pasangan pada umumnya yang di lamar sedemikian romantisnya.


Ruangan menjadi hening, Ryan tak lagi berucap namun dalam sekejap suara sahut menyahut memenuhi ruangan ini. Entah dari mana asal suara itu, begitu juga dengan langkah kaki orang-orang yang memenuhi ruangan ini. Menyoraki dirinya agar menerima lamaran Ryan, kedua karyawannya juga ikut disana ikut mendukung Ryan. Seharusnya Raihanah sadar jika Prasetya adalah Hotel milik Ryan, dengan begitu ia tidak akan terjebak di tempat ini.


"Terima! Terima!" Raihanah bimbang, ia tidak mencintai Ryan, jika ia menolak Ryan itu akan mempermalukan Ryan tapi jika ia menerima lamaran Ryan maka sama saja ia membohongi hatinya. Raihanah bingung, ia tidak suka terjebak di tempat seperti ini.


*****


Ryan terdiam di depan panggung, matanya tak lepas mengamati Raihanah yang berdiri di tengah kerumunan orang-orang itu. Raihanah hanya diam, tatapan matanya tak terbaca membuat Ryan bingung. Hatinya gelisah menanti jawaban dari Raihanah, tapi tak ada satupun kata yang keluar dari bibir manis Raihanah. Ryan menghela nafas panjang, ia gelisah takut Raihanah menolak lamarannya yang sekian kali itu ia utarakan pada Raihanah.


Ryan tidak peduli lagi jika ia dianggap bodoh oleh orang-orang karena terus mengharapkan cinta seorang Raihanah. Karena ia yakin hanya Raihanah yang cocok menjadi ibu dari anak-anaknya. Wanita yang akan mendampinginya sampai ia menutup mata. Ia yakin akan ada waktu yang membuat Raihanah akan mencintainya. Walau ia tahu hati Raihanah bukan untuknya. Tapi untuk pria lain.


'Ya Allah tolong aku, semoga Raihanah memberikan jawaban yang terbaik," Ryan memejamkan mata berdoa, ketika matanya terbuka suasana menjadi riuh. Riuh karena Raihanah jatuh pingsan di sana. Ryan terpaku, Raihanah pingsan seluruh tubuhnya terkujur di lantai rasa khawatir menyeruak di hatinya. Ia melompat dari panggung menghampiri sosok itu dengan sigap. Baru saja Ryan ingin mengangkat tubuh Raihanah, sudah ada dua orang wanita yang memapah Raihanah membuat Ryan mengurungkan niatnya untuk menyentuh Raihanah.


Sebaiknya Ryan menyiapkan mobil untuk membawa Raihanah ke rumah sakit ia tidak ingin Raihanah kenapa-kenapa. Walau Raihanah sering menolaknya, tidak pernah ada rasa dendam atau benci untuk menyakiti Raihanah. Namun sebaliknya rasa cintanya terus tumbuh menyelimuti hati ingin melindungi Raihanah. Benar kata orang, cinta bisa membutakan siapapun tanpa terkecuali. Sang pencipta tidak pernah memilih-milih untuk menanamkan benih cinta disetiap hati hambanya.


*****


jangan lupa follow Instagram author @wgulla_