
Merindukanmu
-Didalam kata-kata ada doa, didalam doa ada kamu dan aku yang belum menjadi kita-
-
-
7 hari kemudian berlalu....
Raihanah merasa hidupnya hampa, entah kenapa seminggu belakangan ini iya tidak mendengar kabar tua Bangka itu. Dan itu membuatnya jengkel, setelah insiden bunga mawar itu, Ray menghilang tiba-tiba tanpa memberinya kabar sedikit pun. Dan bodohnya Raihanah malah merindukan orang itu, yang keberadaannya entah dimana. Membayangkan hal itu membuat Raihanah menjadi bodoh.
'Apa laki-laki itu telah mempermainkannya, dan kenapa pikirannya tidak bisa lepas dari lelaki menyebalkan itu. Ia merasa dipermainkan, karena awalnya Raihan mendekatinya tapi kini hilang tanpa kabar' keluh Raihanah dalam hati.
Raihanah tidak suka terjebak di suasana seperti ini. Baginya ini pertama kali untuknya. Sebelumnya ia tidak pernah merasakan ini. Tapi bersama Ray ia merasakan hal yang selama ini ia jauhi. Pria itu membawa semua rasa yang di dambakan orang-orang yaitu cinta.
Raihanah menatap ponselnya penuh harap berharap akan ada satu pesan singkat saja dari pria itu, namun nihil. Mungkin ia sudah gila menyukai laki-laki itu. Tapi ia benar-benar ingin tahu kabar dari Ray. Rasanya sulit sekali jauh dari pria itu.
Raihanah membuka akun facebooknya, entah kenapa ia ingin membuat status hari ini. Tangannya bergerak mengetik sesuatu yang Raihanah tidak sadari. Bahwa ia mengakui perasaannya.
-Raihanah Afaf-
Aku rasa aku merindukannya.... R.S.A
Raihanah mendesah, cukupkah rindu ini jika ia luapkan melalui doa-doanya sepanjang malam, doa yang ia baitkan dalam shalat tahajudnya. Namun nyatanya cinta pada ciptaan-Nya lebih menyiksa dari pada mencintai Sang Pencipta. Benar adanya rindu itu berat. Apalagi untuknya yang belum saling memiliki ikatan.
*****
Raihanah melangkah menuju mobilnya, namun disaat ia ingin membuka pintu mobilnya ia dikejutkan dengan suara maskulin yang selama ini iya rindukan. Ia tidak menyangka jika pria itu akan muncul saat ini juga. Disaat dia sedang memikirkan pria itu.
"Merindukan Aku." Ray berkata dengan suara lembutnya.
Raihanah tertegun mendengar suara laki-laki itu, kenapa ia bisa tahu jika Raihanah merindukannya. Apa ia seorang peramal. Raihanah masih diam tanpa membalikkan badannya ia masih tak berani untuk melihat Raihan.
"Aku membaca status di akun Facebookmu..." Jelas Ray seakan tahu apa saja yang Raihanah lakukan selama ini tanpa pria itu. Raihan memang suka menstalking kehidupan pribadi Raihanah. Karena ia ingin tahu apa saja yang Raihanah lakukan.
"R.S.A itu Raihan Salman Al-fatih, bukan?" Raihanah tambah syok berat mendengar perkataan laki-laki itu. Ia seperti mati kutu karena perbuatan anehnya itu di ketahui Ray. Pasti pria itu langsung percaya diri karena ia telah mengakui perasaannya dari media sosial.
"Iiitt-u" Raihanah menjawab dengan gugup, Ray yang mendengar itu hanya bisa menahan tawanya.
"Tidak apa, aku juga merindukanmu..." Ucap Ray berusaha menyentuh hati Raihanah agar lebih jujur terhadap perasaan yang wanita itu miliki. Karena Raihan tidak ingin menyimpan rasa ini sendirian, ia ingin tahu seperti apa Raihanah mencintainya.
"Seminggu yang lalu aku pergi ke afganistan ada masalah dengan perusahaanku disana. Maaf tidak mengabarimu, pasti kamu khawatir memfikirkan aku." Balas Ray masih menatap punggung Raihanah, ingin sekali ia menarik Raihanah dan membawa kepelukannya namun ia masih berfikir waras, ditatap saja Raihanah tidak mau apalagi dipeluk dalam dekapannya yang hangat ini.
Raihanah masih diam ia tidak tahu mau berbicara apa, ia kehilangan kata-kata. Semua perkataan Ray begitu mengusik hatinya, mempengaruhi jiwanya. Membuat hatinya semakin larut dalam cinta yang ia impikan. Cinta yang tak pernah bosan ia rapalkan disetiap sujud panjangnya.
"Dimaafkan." akhirnya suara Raihanah pun keluar, hal itu membuat Ray bernafas lega.
"Sebagai gantinya maukah kau kencan denganku." pinta Ray dengan memohon. Ia berharap jika gadis itu menyetujuinya.
Raihanah tertegun mendengar ajakan Ray, ingin rasanya Raihanah mengiyakan ajakan itu. Namun Raihanah akan tetap dengan prinsipnya. Ia tak akan tergoda. Ia tidak akan jalan berduan bersama pria yang bukan mahramnya.
"Tidak, aku kan sudah pernah bilang tidak." Balas Raihanah cepat, Ray yang mendengar itu sangat kecewa.
"Maaf, kencan ini bukan denganku saja tapi dengan Rakan." Ray terus berusaha membujuk Raihanah. Bagaimanapun ia harus bisa kencan dengan gadis ini. Ia akan melakukan cara apapun.
"Rakan?" sahut Raihanah pelan dengan penuh tanda Tanya. Kenapa Raihan membawa nama anak kecil yang menggemaskan itu.
"Iya aku mohon, aku sudah berjanji dengan Rakan Raihanah, bahwa kita akan jalan-jalan bertiga." Ucap Ray dengan menyeringai. Ia senang bisa membuat Raihanah tidak berkutik.
Raihanah mendesah berat, bagaimana ini iya tak akan bisa menolak ajakan Raihan kalau Rakan adalah alasannya. Karena ia tidak bisa melihat anak itu sedih. Pasti Ray sudah menjanjikan pada putranya bahwa mereka akan jalan bersama. Dan Rakan akan kecewa jika ia menolaknya. Raihanah dilema besar.
"Baiklah, tapi kamu minta izin pada orangtuaku." Ujar Raihanah menyetujui.
Tanpa sadar senyum Ray mengembang, namun senyum itu tidak lama bertahan disaat ia mendengar lanjutan perkataan Raihanah. Perkataan yang membuatnya tidak percaya jika ajakannya di artikan seperti itu oleh gadis itu.
"Dan aku akan ajak ayahku ikut bersama kita." Putus Raihanah merasa jika tidak akan aman jika ia hanya bersama Ray. Ia takut perasaannya semakin dalam dan ia tidak bisa mengendalikannya. Cukup sekarang jantungnya berdebar dengan kencang. Ia berusaha untuk tidak menatap wajah tampan yang senantiasa terngiang di kepalanya.
"Apa?" Ray melotot tak percaya dengan ucapan gadis itu. Itu bukanlah hal yang dia inginkan.
"Tadi gadis itu bilang apa? Iya akan mengajak ayahnya?' keluh Ray dalam hati. Mana ada kencan bersama bersama orang tua itu namanya piknik. Ray mendesah tak percaya baru kali ini ada wanita yang berbicara seperti ini padanya. Biasanya mereka rela melakukan apapun demi bisa berdua dengannya.
"Permisi... assalamualaikum" pamit Raihanah sambil masuk kedalam mobil Honda jazznya. Tanpa menatap Ray sedikitpun. Ia tidak ingin terlalu jauh bersama pria itu. Ia takut perasaan ini jadi salah karena mereka belum saling memiliki di atas nama Allah.
"Walaikumsalam.." balas Ray sambil menatap kepergian gadis itu. Ia hanya bisa tersenyum kecil. Ia janji akan berusaha mendapatkan hati Raihanah bagaimanapun caranya. Baginya Raihanah adalah wanita terbaik yang pernah ia temui. Wanita yang cocok menjadi ibu dari anak-anaknya nanti. Maka ia benar-benar datang memenuhi tantangan wanita itu.
"Tidak masalah asal kau bisa menjadi milikku Rain.." guman Ray sambil menuju mobilnya.
*****
Hay readers, minta vote sama comentnya yah...
kritik dan saran kalian adalah penghargaaan buat saya..
jangan lupa like ya... dan koment
follow Instagram author @wgulla_