My Beloved Duda

My Beloved Duda
Bab 9



Permintaan Maaf


-Dari semua hal yang aku inginkan hanyalah maaf-


Raihan melangkah masuk kedalam ruangan milik Nathan, jantungnya berdebar ia belum siap mendengar sebenarnya apa yang terjadi. Namun demi gadisnya, gadis yang Raihan cintai ia akan melakukan apapun.


"Jadi, apa tujuan anda kemari Pak Raihan Salman Al-fatih?" Nathan menatap Raihan tajam, karena Raihan ini merupakan saingannya dulu disaat kuliah. Mereka saling berdiri berhadapan satu sama lain dengan tatapan membunuh.


"Cih ternyata kau masih mengenalku, aku saja sudah melupakanmu." decak Raihan.


"hahahah.. ternyata kau tidak berubah." ujar Nathan sambil tertawa.


"Apa hubunganmu dengan Afaf Raihanah?" tanya Raihan penasaran karena melihat mereka bersama nanti.


Nathan menaikkan alisnya mendengar ucapan Raihan, ia merasa ada yang aneh dengan Raihan. Ada hubungan apa dia dengan Raihanah, gadis yang ia cintai.


"SHIIT, jawab bodoh untuk apa kau memberikan cincin kepada gadisku." ujar Raihan marah. Ia benci terhadap Nathan yang berani merebut miliknya.


Raihan menatap Nathan marah, yang dibalas dengan tatapan bodoh oleh Nathan.


"Jadi kau pria beruntung itu, pria yang dicintai oleh Raihanah. Bodohnya Raihanah mencintai pria ******** sepertimu." Nathan berucap dengan nada mengejek.


"Beraninya kau!!" Raihan melangkah maju memukul rahang Nathan dengan kencang, dicengkramnya kerah kemeja Nathan. Raihan menatap Nathan dengan tatapan membunuh.


"Aku melamarnya." Nathan menyeringai melihat ekspresi Raihan yang marah. Walau bibirnya terasa perih dengan pukulan Raihan namun ia merasa puas jika Raihan cemburu adanya.


"Jangan dekati Raihanah lagi atau aku akan membunuhmu." Raihan memukul perut Nathan hingga jatuh terhempas kelantai, Raihan melempar cincin perak itu kehadapan Nathan lalu Raihan melangkah pergi menjauhi Nathan.


******


Raihanah keluar dari mobil Raihan, ia kecewa dengan Raihan. Bisanya laki-laki itu melecehkannya. Raihananh mengusap bibir yang disentuh Raihan tadi. Air matanya semakin mengalir, ia merasa jijik dengan dirinya sendiri. Raihanah memberhentikan taksi yang lewat di hadapannya. Ia tidak peduli lagi dengan Raihan, untuk apa mencintai orang yang melecehkannya. Ia tidak sudi berhadapan dengan Raihan lagi.


"Pak, tolong ke pondok Indah," Supir taksi mengangguk lalu melajukan mobilnya.


Raihanah duduk di kursi belakang, ia enggan menatap mobil Raihan yang masih terparkir di belakang. Airmatanya masih mengalir, isakpun tak lepas dari bibirnya. Matanya bengkak, ini pertama kali bagi Raihanah dilecehkan seperti itu. seharusnya Raihan tidak menggunakan cara seperti itu. Raihanah menatap keluar jendela mobil, tatapannya kosong. Kejadian tadi sangat membekas di hatinya.


Tapi ada sedikit nyeri dihatinya meninggalkan Raihan, ia masih mencintai Raihan. Rasa cintanya begitu mengembara. Hati kecil Raihanah berusaha membujuk Raihanah memaafkan Raihan. Akalnya menolak, ia ingin Raihan tau, jika ia tidak suka disentuh dengan orang yang tidak memiliki ikatan dengannya. ia maih milik orangtuanya , bukan milik Raihan seharusnya Raihan mengerti itu.


Apa Raihan terbiasa mencium wanita? sehingga ia menganggap semua wanita sama. Nafas Raihanah tersenggal, mempikirkan opsi terakhir tersebut membuat dadanya bergejolak, hatinya seperti ditikam belati.


Lagi-lagi Raihanah mengusap bibirnya kasar, bibir yang tadi disentuh Raihan. Ciuman pertamanya, yang susah payah ia jaga. Dan hanya ingin ia persembahkan pada suaminya. Kini musnah sudah harapannya, ia gagal menjaga dirinya. Seharusnya dari pertama ia mengenal Raihan ia harus menjauhinya, bukan sebaliknya mendekat mencari tahu perasaannya.


"Mbak sudah sampai," tukang taksi tersebut bersuara, menghentikan lamunan Raihanah akan kejadian di mobil Raihan tadi.


"Iya pak," jawab Raihanah cepat.


"Berapa pak?" Tanya Raihanah pada supir taksi untuk membayar.


"55 Ribu mbk," ucap Supir taksi sambil menunjuk argo taksi yang tertera.


"Terima kasih," ucap


Raihanah sambil mengeluarkan uang dari dompetnya, ia mengasih ke tukang taksi tersebut. Lalu ia langsung pergi menuju kerumahnya.


Raihanah masuk tanpa salam, ia tidak memperdulikan ibunya yang terus memanggilnya. Ia hanya ingin cepat masuk ke dalam kamar dan menangis sepuasnya.


"Rai, apa yang terjadi?" Indah berdiri di depan pintu Raihanah, ia terus mengetuk pintu. Namun tidak ada jawaban, membuat Indah khawatir. Ia tidak pernah melihat anaknya seperti ini.


"Rai," ucap indah sekali lagi memanggil anaknya yang terlihat aneh.


"Rai, Cuma kecapekan bu," Raihanah teriak, ia tidak ingin bertemu ibunya dulu. Ia butuh kesendirian.


"Baiklah, jika ada apa-apa. Panggil ibu," Indah menghela nafas, ia pergi menjauh dari kamar Raihanah.


Anaknya butuh waktu sendiri.


Raihanah meringkuk di atas kasur, pandangannya kosong. Ia tahu Raihan mencintainya, Raihan melakukan itu untuk menghukumnya. Raihanah tau itu, Raihan cemburu melihat kedekatannya dengan Nathan. Tapi untuk apa Raihanah mengharapkan cinta Raihan, sampai saat ini Raihan belum menunjukan keseriusan padanya. Bahkan Raihan belum berniat untuk melamarnya tidak seperti Nathan yang tiada henti memborbardirnya dengan lamaran. Raihanah terus menolak, ia merasa Nathan bukanlah jodohnya. Hati kecilnya tidak menginginkan Nathan, walau akalnya terus memaksa menerima Nathan.


Raihanah menghela nafas, suara ponsel mengalihkan erhatiannya. Raihanah bangkit mencari ponselnya di dalam tas. Raihanah mengeram, melihat nama Raihan tertera di ponsel. Ia tidak habis pikir kenapa Raihan masih berani menghubunginya.


"Untuk apa orang ini menghubungiku, tak tahukah dia jika aku tidak ingin berhubungan dengan dia," Raihanah menatap ponsel marah melihat nama Raihan tertera di panggilan. Ia benci tahu jika Raihan masih punya wajah untuk mendekatinya atas apa yang telah pria itu lakukan padanya tadi.


Dimatikan panggilan itu, ponselnya berbunyi lagi dengan nama yang sama. Raihan seakan tak menyerah untuk menghubungi Raihanah. Raihanah kesal, ia tidak ingin mengetahui apapun yang berhubungan dengan Raihan. Ia mencabut batrai ponselnya lalu menaruh ponsel di meja sebelah kasurnya. Raihan membaringkan tubuhnya di kasur, ia memejamkan mata. Lelah meyerang tubuhnya.


*****


Raihan berjalan bolak-balik di ruang kerjanya, Raihanah tidak menjawab panggilannya. Itu membuat Raihan frustasi, Raihan tahu sikapnya salah. Dan Raihan akan terus meminta maaf sampai Raihanah memaafkannya. Raihan menyadari kebodohannya ia tadi terbakar cemburu, ia lebih mengikuti hawa nafsunya dari pikirannya. Raihan menghela nafas, melihat air mata Raihanah tadi membuat Raihan sakit.


Raihan memejamkan mata, ia menggenggam ponselnya erat. Panggilannya tidak ada satupun yang diangkat oleh Raihanah.


"Rain, maafkan aku," guman Raihan berulang-ulang. Meski Raihan tahu Raihanah tidak akan mendengar gumanannya saat ini.


Raihan merasa tak berguna, ia terus membuat Raihanah menangis. Raihan mengusap wajahnya kasar, Raihanah marah besar padanya. Mungkin Raihanah tidak akan memaafkannya, Raihan terduduk hatinya terasa sakit, ini pertama kali ada wanita yang membuatnya tak terkendali, Raihan menjambak rambutnya kasar. Ia harus mencari cara agar Raihanah memaafkannya.


*****


jangan lupa like ya... dan koment


follow Instagram author @wgulla_