My Beloved Duda

My Beloved Duda
Bab 26



Rasa Sakit Raihan


***


"Selamat tidur jagoan kesayangan ayah." ucap Raihan sambil mengecup kening putranya lembut.


Raihan memeluk erat Rakan yang tertidur dipelukannya, entah kenapa ada sedikit rasa penyesalan menolak Raihanah kemarin. Apalagi Raihanah mengungkapkan perasaannya terang-terangan kepadanya. Perasaan yang selama ini Raihan impikan, di cintai seseorang dengan tulus. Tapi apakah Raihanah tulus mencintainya? Raihan menggeleng, ini tidak benar Raihanah tidak mungkin mencintai. Gadis itu pasti hanya berbohong untuk menghiburnya.


Raihan terus berfikir, bahkan pikiran buruk mengenai Raihanah bermunculan di benaknya. Ia takut jika Raihanah sama dengan wanita-wanita yang telah menyakitinya, ibunya baik istrinya. Raihan memijat pelipisnya yang terasa sakit, entah sampai kapan ia bisa merawat luka di hatinya seorang diri, tidak ia tidak sendiri masih ada Rakan, Adrian dan kakeknya yang menyayanginya. Raihan mencium kening anaknya, ia berjanji tidak akan membiarkan Rakan di rebut oleh wanita ular itu sekalipun Rakan bukan anak kandungnya.


Apakah kebahagian itu hanya sebuah mimpi baginya?


Kenapa Tuhan tidak mengizinkannya bahagia? Ah Tuhan, akhir-akhir ini ia semakin sering mempikirkan tuhan sejak bertemu Raihanah. Ia jadi teringat buku yang diberikan Raihanah. Raihan bangkit perlahan dari ranjang, lalu ia melangkah menuju kamarnya mengambil buku yang ia sisipkan di bawah ranjangnya.


"Ensklopedia Wanita Muslimah," guman Raihan pelan sambil membaca judul buku itu.


Tangannya membuka halaman pertama sampai halaman terakhir dengan cepat. Siapa sangka jika buku itu terdapat halaman-halaman tertentu yang berisikan tulisan-tulisan Raihanah. Tangan Raihan bergetar karenanya, pertama kali yang ia lakukan adalah membuka halaman 10 yang terdapat halaman dengan tinta hitam tulisan Raihanah. Jantung Raihan berdegup kencang, ia bahkan tidak sadar jika ia sudah membaringkan tubunhya di kasur.


"Tuhan tidak mungkin menciptakan manusia tanpa alasan, jika kita hanya terus mengancam Tuhan dengan kata-kata bodoh kita yang tidak masuk akal. Bagaimana Tuhan ingin mengerti tentang kesulitan kita? Setiap luka yang tuhan berikan, pasti ia juga akan memberikan obatnya. Jika kita terus berkata Tuhan tidak adil, maka itu salah. Karena Tuhan selalu memberikan kenikmatan dan kesengsaraan secara merata terhadap semua orang. Tidak ada yang dibedakan, oleh sebab itu kita bisa mengerti bagaimana rasa bahagia dan menderita, karena Tuhan memberikan semua rasa itu kepada seluruh ciptaannya."


Raihan termenung membaca tulisan itu, kata-kata yang ditulis Raihanah ada benarnya juga, ia termasuk pria beruntung hidupnya tidak pernah kekurangan dan karirnya juga bagus dibanding orang-orang yang hidupnya serabutan di luar sana. Tapi ada yang membuatnya menderita, ia tidak pernah diakui oleh kedua orangtuanya.


Raihan selalu berfikir kenapa ia harus terlahir dari orang-orang yang menganggapnya hanya sebagai sampah. Dari Raihan kecil ibunya selalu menyiksanya, jika ia pulang terlambat maka ibunya tak segan-segan akan memukulnya hingga ia berhenti menangis, bukan karena kasihan tapi suaranya tak sanggup lagi keluar.


Ibunya selalu memanggilnya sampah dan pada akhirnya ibunya dengan tega membawanya ke sebuah bar, dia menjadikannya pemuas nafsu seorang tante-tante atau wanita yang haus akan gairah. Tidak pernah sekalipun Raihan merasakan nikmat dari itu selain air mata, ia diperlakukan kasar dan keras. Tak ada yang peduli dengan tangisannya dan rasa sakitnya. Saat itu ia belajar sesakit apapun kita orang lain tidak akan mengerti apa yang kita rasakan.


Raihan tersiksa, ia harus mendapat perlakuan kekerasan seksual dan pada puncaknya ia disodomi oleh seorang pria tidak hanya satu tapi lebih. Ia hanya dijadiakan lahan penghasil uang. Raihan tidak ingat berapa kali iamelakukan itu, yang ia ingat hanyalah isak tangisnya menahan perih di kemaluannya.


Raihan berusaha memberontak bahkan ia pernah pergi dari tempat itu, tapi ia malah mendapat ledakan amarah dari ibunya serta pukulan yang mendera punggungnya dengan kayu ataupun sabuk. Ibunya baru akan menghentikan pukulan itu bukan karena isak tangisnya tapi karena kemarahan yang telah mencapai titik klimaks. Wanita itu sungguh kejam. Ia sempat ragu jika wanita itu adalah ibunya.


Sejak saat itu ia bersumpah tidak pernah menganggapnya sebagai ibu, bahkan menganggapnya tidak ada. Karena ia tidak pernah mendapat kenangan yang indah bersama ibunya.


Ada ibu yang berusaha melenyapkan janinnya saat masih di dalam rahim. Ada ibu yang memanfaatkan anaknya sebagai lahan mencari uang. Ada ibu yang melahirkan dan menelantarkan anaknya, dan ibunya melakukan semua kejahatan itu padanya.


Adrian terkejut, ia tidak menyangka jika Raihan mendapat perlakuan seperti itu. Adrian tidak tinggal diam, ia menolong Raihan bahkan mengajak Raihan untuk melarikan diri bersamanya. Awalnya Raihan menolak, tapi setelah dibujuk habis-habisan oleh Adrian, akhirnya ia menyetujuinya.


Hingga ia ditemukan oleh kakek nya Reno dan dibawa ke keluarga Al-fatih. Kakeknya Reno ternyata berusaha mencari keberadaan nya. Disaat tahu ternyata ia memiliki cucu lain. Dan kini sang ibu telah dipanggil Tuhan.


Ia tidak disambut dengan baik, seluruh keluarga Al-fatih memandangnya jijik dan cemoh termasuk ayahnya. Laki-laki yang selalu menjadi mimpi indah Raihan, setidaknya jika ia tidak pernah mendapat kasih sayang seorang ibu ia berharap ayahnya memberikan itu padanya.


Raihan menutup buku yang diberikan Raihanah, ia taruh di bawah bantal. Kemudian Raihan menatap langit-langit kamarnya, ia mendesah sambil memejamkan mata. Ia memegang ulu hati nya, kenapa semua terasa menyakitkan. Sekali ini saja ia ingin bahagia. Apakah itu tidak bisa ia dapatkan?


'Kebahagiaan seperti apa yang kau rencanakan untukku Ya allah?' guman Raihan.


Namun ia tidak mendapat jawaban hanya ada hening disana. Raihan tertegun untuk pertama kalian setelah sekian lama ia tidak pernah mengakui Tuhannya. Dan sekarang ia menyebut kata tuhan.


Apa sekarang ia mulai mempercayai Tuhan? Atau aku hanya terbawa perasaan karena selama ini ia selalu berada di dekat Raihanah. Raihan menghembuskan nafas berat, lalu mengusap wajahnya kasar. Semenjak dekat dengan Raihanah ia jadi ingin mengenal Tuhannya. Sang penciptanya. Ini semua karena wanita itu.


'Apa aku harus percaya dengan Raihanah? Jika gadis itu mencintaiku'


'Atau aku pergi melepaskan Raihanah'


'Tapi aku tidak bisa membohongi perasaanku jika aku juga mencintai Raihanah. Bahkan aku sampai sulit bernafas mempikirkannya.'


Batin Raihan terus bertengkar, ia sibuk memikirkan hatinya. mencoba menyambungkan hatinya yang bagai puzzle. Karena pada dasarnya ia tidak bisa menjauh dari Raihanah, hatinya sangat menginginkan Raihanah.


'What Shoul I do?' guman Raihan hingga tertidur di alam mimpi.


****


Jangan lupa follow Instagram Author @wgulla_


semoga suka cerita aku ya


love youuuuuuuuuu 😘