
Semua orang memiliki hak untuk bahagia. Jadi salah kah aku juga ingin bahagia seperti orang-orang di luar sana.
"Apakah kau baik-baik saja?" suara Ryan terdengar di indera Raihanah, ketika ia membuka matanya. Ia begitu mencemaskan Raihanah. Ia juga merasa bersalah karenanya gadis itu jadi pingsan.
"Berapa lama aku pingsan?" pandangan mata Raihanah bergerak mengamati ruangan ini, nuansa rumah sakit begitu kental. Raihanah menebak jika ini adalah rumah sakit. Ryan duduk di dekatnya. Kepala nya sedikit terasa sakit. Mungkin efek dari pingsan.
"3 jam, aku begitu mencemaskanmu," Ryan tidak menutupi rasa khawatirnya. Hatinya lega melihat Raihanah sadarkan diri, ia tidak pernah merasa sebahagia ini.
Raihanah memengang kepalanya yang terasa pusing, ia rasa waktu itu mag nya kambuh dan ia juga banyak pikiran yang membuatnya setres ditambah tamu bulanannya. Raihanah mencoba untuk bangkit, tapi Ryan mencegahnya.
"Sebaiknya kau istirahat terlebih dahulu, aku takut sesuatu yang buruk terjadi padamu. Soal lamaran itu tak usah kau pikirkan," Raihanah diam, ia tidak membalas apapun. Jujur ia merasa tidak enak dengan Ryan karena ia berulang kali menolak lamaran Ryan. Ryan pria yang baik tidak seharusnya Raihanah menolak laki-laki sebaiknya. Tapi hati Raihanah tidak bisa diubah cintanya masih tersimpan untuk laki-laki itu, Raihan.
Cinta pertamanya. . . .
Pria itu masih menduduki di hatinya...
andai saja Ryan datang lebih dahulu dari Raihan. pasti Raihanah akan memilih pria itu... atau sama saja perasaannya akan biasa saja.
entahlah...
"Apa yang kau fikirkan Raihanah?"
"Tidak ada," Ryan menghela nafas lagi-lagi Raihanah menyembunyikan sesuatu padanya.
"Jika kau butuh sesuatu jangan sungkan mengutarakannya padaku, aku akan memanggil Tyas untuk menjagamu. Aku harus menyelesaikan urusanku." pinta Ryan. ia senang jika di repot kan oleh Raihanah. itu artinya kehadirannya berguna untuk gadis itu.
"Assalamualaikum." Pamit Ryan pada Raihanah, ia bangkit dari sofa yang di dudukinya. Lalu melangkah pergi menjauh.
"Waalaikumsallam." Jawab Raihanah.
Raihanah mengangguk, kemudian Ryan pergi meninggalkanya melewati pintu kamar di hadapan Raihanah.
Tyas masuk menggantikan Ryan, disambut ramah oleh Raihanah. Ia lebih nyaman jika yang menjaganya Tyas pegawai yang telah dianggapnya seperti sahabatnya sendiri dari pada harus satu ruangan bersama Ryan.
"Ibu baik-baik saja?" Tyas menanyakan itu dengan khawatir. Ia tidak menyangka jika atasannya itu akan pingsan. ia jadi merasa bersalah karena telah ikut andil dalam rencana Ryan.
"Jangan panggil aku ibu, aku merasa seperti sudah tua," ucap Raihanah pelan.
"Ah, iya bu eh Rai." Ucap Tyas berusaha untuk tidak memanggil ibu.
"Kemarilah, tolong bantu aku untuk duduk." pinta Raihanah. ia ingin duduk.
*****
Ingin kuacuhkan rindu,
Rinduku terbelengu waktu,
dalam tangisan sendu
Jika bisa kuhentikan waktu,
pasti kita akan bersatu
Raihan menatap hamparan bintang yang bersinar di langit malam. Melihat bintang-bintang mengingatkannya akan Raihanah, bulan berlalu tidak mampu menghapus cintanya. Raihan menghela nafas panjang, ia lebih memilih tenggelam dalam tumpukan berkas untuk melupakan Raihanah. Ia akan mencoba walau itu sangat sulit. Karena wanita itu terlanjur bersemayam di dalam hatinya. Selalu muncul di dalam ingatannya. Bahkan selalu menjadi ingatan yang ingin ia putar seperti film. Mulai dari wajah cantik itu hingga senyum manisnya semua terekam jelas di benaknya. Raihan menghela napas pelan. Ini sungguh melelahkan.
Saat ini Raihan berada di Solo mengunjungi kakeknya serta rekan bisnisnya. Kembalinya ia kesini berarti ia harus bertemu dengan keluarganya, keluarga yang membencinya kecuali sang kakek. Berdiri di pinggir balkon malam hari terasa sangat nyaman. Ditambah semilir angin berhembus menyelimuti tubuhnya makin membuatnya terlena. Pandangannya menatap jauh ke depan terlihat senyum manis yang terukir di wajah Raihanah.
"Apa yang kamu lakukan Rai?" sebuah suara membuyarkan lamunan Raihan, ia terkejut dadanya berdebar dengan kencang.
"Kakek, kau mengagetkanku." Ucap Raihan.
"Kakek mengkhawatirkanmu, hari-hari ini kamu terlihat aneh." Raihan menggaruk rambutnya yang tidak gatal.
"Mungkin hanya perasaan kakek saja," Raihan mencoba mengelak, ia tidak ingin kakeknya mengetahui jika ia sedang jatuh cinta.
"Kamu sudah makan, Rai," Raihan menggeleng. Ia tidak ingin makan satu meja dengan keluarga nya. Ia hanya merasa sakit hati jika di beri pandangan jijik oleh mereka. Padahal ia sendiri tidak pernah mengharapkan untuk terlahir dengan cara seperti itu.
"Makanlah, aku tau kau pasti tdak suka tadi makan satu meja dengan keluarga Fatih, terkhusus ayahmu." Reno tahu jika anak laki-laki nya membenci cucunya. Padahal Raihan adalah anaknya sendiri. Hasil dari perbuatannya sendiri. tapi pria itu tidak mau mengakuinya. Kadang Reno merasa salah telah mendidik anak. Ia merasa ini karma karena telah banyak melupakan sang pencipta. Hartanya bertambah tapi keluarganya hancur berantakan.
"Aku tidak bisa memaksamu, anakmu Rakan sudah tidur. Sebaiknya kamu makan lalu shalat Isya," langkah kaki Raihan terhenti mendengar ucapan kakeknya, Reno.
Raihan terpaku, baru kali ini kakek menyuruhnya shalat. Selama hidupnya sang kakek tidak pernah mencampuri urusan agamanya. Bahkan Raihan tidak pernah tau jika kakeknya beribadah.
"Shalat, kakek tidak pernah menyuruhku shalat selama ini. Bahkan aku ragu jika kakek juga shalat." Ucap Raihan.
Reno menghela nafas panjang, ia sudah menduga. Reno akui ia memang dulu jarang sekali beribadah, tapi melihat kejadian buruk yang menimpa keluarganya membuat Reno sadar jika Sang Pencipta menegurnya untuk berubah. Umurnya sudah tidak muda lagi Reno memutuskan untuk mendekatkan diri kepada pencipta.
"Dulu kakek tidak ingin mencampuri urusan pribadimu, kakek ingin memberikanmu kebebasan karena kakek tahu kau begitu menderita dengan masalalumu. Kakek mengerti akan rasa sakit yang kau rasakan, mulai dari ayah dan ibumu mereka semua tidak mengharapkan kehadiranmu bahkan mereka menyiksa batin dan ragamu. Kakek takut jika kakek akan menyakitimu, kakek rasa kamu sudah cukup dewasa untuk bisa memilih mana yang baik untukmu." Reno mencoba membuka hati Raihan yang beku. Ia ingin Raihan tidak menyesal seperti dirinya. Ia ingin Raihan bisa mendapatkan kebahagiaan bukan dari uang dan kekuasaan tapi karena Allah. itu pasti akan sangat nyaman. dari pada hidupnya saat ini. Seperti dirinya kesepian.
Raihan membalikkan tubuhnya, langkah kakinya bergerak cepat kea rah Reno. Dalam hitungan detik ia mendekap tubuh Reno dengan erat. Airmatanya mengalir ia sangat beruntung memiliki kakek sepertinya. Sekarang ia tidak peduli lagi, jika ayah atau ibunya membuangnya bahkan menganggapnya sampah ia masih memiliki orang yang mengharapkannya. Orang yang menginginkan kehadirannya, isak Raihan terdengar pilu. yaitu sang kakek yang masih Sudi menganggap nya bahkan menyayanginya lebih dari apapun. Ia beruntung memiliki Reno.
Reno membalas pelukan cucunya, ia mengelus punggung Raihan menenangkan. Reno berjanji akan menjaga Raihan dengan seluruh tenaganya.
***
jangan lupa like ya... dan koment
follow Instagram author @wgulla_