
Bab 13
Aku dan masa kelamku, salahkah jika aku mengharapkan bidadari surga seperti mu Raihanah aku hanya menginginkan mu, Rain kau bunga surgaku....
hanya kamu...
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Adrian sambil membantu Raihan duduk di ranjang kamar. Raihan sudah sadar dari mabuknya. Pria itu terbangun dari tidurnya. Saat ini sudah pukul tujuh pagi dan Adrian rela tidak kerja hanya untuk Raihan.
Adrian rasa ada yang aneh, tidak biasanya Raihan menelponnya untuk menjemputnya ke bar. Biasanya Raihan bisa melakukannya sendiri, terakhir kali Raihan meminta menjemputnya ketika Raihan diselingkuhi oleh istrinya dulu. Sekarang Raihan seperti mayat hidup.
"Apa karena wanita?" Adrian mendengus, melihat ekspresi datar Raihan membuktikan jika tebakannya tepat, ia menganalisis dari racauan Raihan sepanjang malam.
"Apa perlu aku ingatkan padamu Raihan? Apa yang telah terjadi kepada kita berdua dulu?" Adrian membungkuk di hadapan Raihan, tangannya memegang bahu Raihan erat.
"Kita sama-sama pernah disakiti wanita sejak kita di dalam kandungan, Rai. Apakah kau lupa?" Adrian mencoba mengingatkan Raihan tentang luka mereka.
"Aku jatuh cinta padanya, saat pertama kali bertemu,"ujar Raihan ia tidak tahu harus berucap apa. Ia mengakui perasaannya pada Adrian walau ia tahu Adrian pasti akan memarahinya.
"Astaga Raihan, tak bisakah kau tahan hastratmu. Kita hanya mahluk rendahan Raihan, tidak ada yang menginginkan keberadaan kita. Bahkan ibu kita berusaha untuk membunuh kita sejak didalam kandungan, mereka mengakui kehadiran kita hanya sebagai kesialan buat mereka. Lalu untuk apa kau mengharapkan dicintai wanita. Jika selama hidupmu, wanita yang selalu menyakitimu Rai," ujar Adrian ia tidak suka Raihan lemah karena wanita.
"Aku menciumnya dengan paksa," Raihan berusaha membela Raihanah, ia berbeda dengan wanita yang menyakitinya dalam hidup.
"Berhenti berharap, sebelum kau terlanjur sakit dan terluka. Aku tak ingin melihatmu tersakiti seperti dulu, saat ibumu menjualmu sebagai pemuas nafsu untuk melayani sejenismu," Adrian tersedu, ia perih mengingat kejadian itu.
Raihan diam, ia ingat ketika ia harus melayani nafsu laki-laki berengsek itu dulu. Tubuhnya terasa sakit, bahkan ia jijik terhadap tubuhnya sendiri. Tapi ia tidak bisa membenci ibunya, Raihan menyayanginya. Ia rela melakukan apapun untuk mendapat pengakuan dari ibunya. Walau ibunya menjualnya, memaksanya, dan melukainya dengan cambuk atau pukulan. Ibunya pernah bilang dirinya hanya sampah yang seharusnya dibuang. Kata-kata itu menyakitinya, Raihan hanya diam menyimpan lara. Air mata Raihan menetes, hatinya perih. Luka lamanya kembali menyeruak begitu saja.
"Apa kau tidak ingat? ketika kakekmu keluarga Al-fatih menemukanmu dan menginginkanmu sebagai penerus mereka. Karena mereka tahu hanya kau satu-satunya memiliki darah Al-fatih. Kau bilang bahagia, karena bisa mendapatkan keluarga baru. Bahkan tatapan mata berbinar memandang takjub keluarga barumu, tapi esoknya kau menangis karena tidak sesuai harapan. Kelurgamu memandangmu dengan jijik, seolah-olah kau adalah sampah, ayahmupun tak ingin melihatmu. Kau bilang hanya kakekmu yang menganggapmu ada," ucap Adrian mencoba mengingatkan posisi mereka.
"Lalu kau kembali bahagia disaat kau akan menikah, tapi kau kembali dengan luka. Istrimu mengkhianatimu, ia berselingkuh di hadapanmu, di ranjang kamarmu tanpa peduli perasaanmu. Dan yang terburuk Rai, kau membuat Rakan anakmu merasakan apa yang kita rasakan. Tidak bisa merasakan kasih sayang seorang ibu, padahal dulu kita berjanji tidak akan membiarkan orang yang kita merasakan apa yang kita rasakan. Itulah yang membuatku tidak ingin menikah, dan mengemis cinta kepada perempuan. Aku takut untuk berharap kepada mahluk yang bernamakan perempuan." Lanjut Adrian, ia menangis. Matanya berkaca sama halnya Raihan. Terlalu banyak lara yang menghiasi hidup mereka. Adrian hanya tidak ingin Raihan terluka lagi untuk kesekian kalinya. Ia tidak ingin melihat raihan terluka cukup hari ini saja jangan ada hari besok.
"Dengar Raihan jika ia malaikat, lalu kau apa. Kau iblis Raihan, bahkan kita menjadikan agama sebagai formalitas. Kita tidak pernah beribadah dan berdoa kepada yang kuasa. Perempuan itu tidak pantas untukmu atau aku yang sudah dicap sebagai anak haram, orang yang tidak boleh didekati," ujar Adrian kembali.
Ya mereka tidak mempercayai Tuhan semenjak peristiwa itu. Bagi mereka tuhan hanyalah omong kosong buktinya tuhan tidak pernah ada disaat mereka menderita.
"Setidaknya dulu aku pernah beribadah Adrian, sebelum peristiwa hina itu." Raihan ingat itu. Ia masih mengenal Tuhannya. walau ia pernah meninggalkan nya. Berdekatan dengan Raihanah membuat Raihan ingin mengenal Tuhannya kembali. Hal ini membuat Adrian takjub karena Raihan berubah menjadi orang yang tidak di kenalnya. Ia tidak mengenal Raihan yang saat ini berbicara dengannya.
"Aku menginginkannya Adrian, apa salah jika aku ingin menjadi lebih baik? Apa salah pria menjijikan sepertiku mengharapkan wanita yang baik untuk membawa hidupku lebih baik? Jawab aku Adrian, apa aku salah untuk berharap?" Raihan sakit, ia kotor dengan semua masa kelamnya. Ia tahu jika ia tidak pantas untuk Raihanah, tapi apakah Raihan salah menginginkan hidup yang normal. Dicintai wanita yang baik-baik seperti Raihanah. Apakah ia tidak boleh mencintai wanita baik? ia ingin berubah dan memiliki hidup yang bahagia bersama Raihanah. Ia yakin wanita itu akan membuat hidupnya lebih baik.
Adrian menggeleng, ucapan Raihan hanya omong kosong. Harapan hanya akan terjadi di negeri dongeng. Saat ini mereka di dunia nyata, hidup mereka hanya dipenuhi luka. Jadi untuk apa mengharapkan kebahagian. Impian yang sangat konyol. Ia ingin Raihan bangun dari impiannya dari pada menjadi pria bodoh seperti saat ini.
"Rai, lihat aku, tidak akan ada yang melihat kita dengan tulus. Jika wanita itu tahu masa kelammu. Aku yakin iya akan meninggalkanmu," Adrian mencengkram bahu Raihan erat, ia mengucapkan dengan nada sendu. Keduanya terisak, mengingat masalalu mereka. raihan mentap Adrian kemudian ia memeluk Adrian erat.
"Adrian, aku bingung. Aku tahu akan lukaku. Tapi Rakan menginginkan Rain untuk menjadi ibunya. Sama seperti hatiku yang menginginkannya untuk menjadi separuh hatiku. Apa yang harus aku lakukan, Rian," ucap Raihan sedih. Ia bahkan tidak peduli jika ia tidak masuk kantor. Adrian pun tidak jadi menyinggung soal muntah karena kasihnya melihat Raihan. Ia tidak pernah melihat Raihan sesedih ini. Ia jadi ingin mempertemukan Raihan dengan wanitanya itu.
"Salahkah jika manusia hina sepertiku mengharapkan seorang bidadari surga, seperti Raihanah." Guman Raihan putus asa.
"Aku ingin Rain... bagiku dia adalah bunga surgaku..."
***
.jangan lupa Follow Instagram @wgulla_
love you semoga baca cerita aku terus ya... semoga suka ya...
like and coment ya...