
BAB 46
Penyelamatan
Raihan berjalan dilorong-lorong Rumah Tania yang besar dan megah itu sendirian. Rumah itu terlihat temaram, hanya diterangi cahaya ala kadarnya. Sedangkan Darren, Ryan dan Adrian mereka berada jauh dibelakang Raihan. Mereka sengaja mengambil jarak yang jauh dengan Raihan, agar mereka bisa berjaga-jaga jika ada serangan mendadak.
Rumah itu dipenuhi dengan bodyguard yang menjaga rumah tersebut dengan ketat. Raihan berhasil melumpuhkan bodyguard tersebut satu per satu dengan lincah cepat dan tanpa mencurigakan siapapun. Raihan terus berjalan hingga mencapai ruang tengah namun Raihan dengan cerobohnya menyenggol sebuah guci, hingga menimbulkan suara yang bising.
"PRANK" suara guci pecah memenuhi ruangan.
Para penjaga menyadari bahwa ada penyusup disaat mendengar suara itu mereka langsung berlari menuju sumber bunyi. Disaat Para penjaga melihat ada bayangan laki-laki diruang tengah mereka bergerak menuju bayangan itu. Lalu mereka mengepung Raihan yang sedang berdiri sambil memegang pistol.
"Jatuhkan senjatamu" ucap salah satu penjaga itu dengan menodongkan pistolnya ke arah Raihan dan diikuti dengan penjaga lainnya yang ikut menodongkan pistolnya ke arah Raihan.
Raihan menelan ludahnya melihat itu, Raihan menjatuhkan senjatanya dan mengangkat tangannya. Namun disaat Penjaga itu siap menembaknya, tiba-tiba penjaga-penjaga itu tumbang satu persatu di hadapan Raihan.
"Dort..Dort...Dort..Dort..Dort.."
Terdengar bunyi tembakan dari arah belakang terlihat Ryan, Adrian dan Darren menembak para penjaga itu dari belakang. Raihan tersenyum lega, melihat teman-temannya berhasil menyelamatkan nya. Raihan beruntung membawa teman-teman nya andaikata ia sendirian ke sini. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana hasilnya.
" Terima kasih" guman Raihan.
Mereka berempat langsung berlari berpencar sesuai rencana, Adrian dan Darren bergerak keluar mencari celah agar mereka dapat keluar dengan mudah sekaligus mengendurkan pengamanan. Sedangkan Raihan dan Ryan mencari keberadaan Rakan.
"Jangan lengah...." ucap Ryan menyadari kebodohan yang dibuat Raihan tadi, ryan sempat kesal melihat kecerobohan Raihan, tapi ia menahannya ia tidak ingin mengacaukan misi ini kalau tidak mereka akan mati. Raihan mengangguk terus berlari menelusuri setiap ruangan dirumah itu namun nihil. Raihan tidak menemukan dimana Rakan disembunyikan oleh Sinta.
Raihan kesal, ia langsung berlari menuju tangga Raihan yakin bahwa anaknya berada dilantai atas. Raihan melangkah menaiki anak tangga. Ryan mengikuti Raihan dari belakang. Hingga mereka tiba dilantai atas mereka melihat ada sebuah bayangan seorang perempuan yang sedang berdiri didepan balkon. Raihan yakin jika itu adalah Tania mantan istrinya, Raihan langsung berlari menghampiri sosok bayangan itu. Ketika langkah Raihan hampir dekat dengan Tania, ia tiba-tiba berhenti.
"Jangan mendekat dan jatuhkan senjata kalian atau aku akan menjatuhkan Rakan." ancam Tania sambil menyeringai.
Tania membalikkan badannya menghadap Raihan, Tani berdiri sambil menggendong Rakan anaknya. Rakan menatap Raihan sendu, ingin sekali Rakan berteriak minta tolong namun entah kenapa suara Rakan tidak keluar. Tenggorokan Rakan seperti tertekan sesuatu hingga Rakan sulit untuk bicara. Apa yang Tania perbuat hingga anaknya terlihat begitu terluka? Pikir Rakan menyadari raut wajah Rakan yang berbeda.
***
Semoga kalian suka cerita aku :)
love youuuuuuuuuu 😘 ♥️♥️♥️♥️♥️♥️
jangan lupa Follow Instagram Author @wgulla_