My Beloved Duda

My Beloved Duda
Bab 38



3 hari setelah peristiwa lamaran itu, raihanah dan Raihan disibukkan dengan mengurus pernikahan mereka. Saat ini Raihanah sedang dibutik untuk fitting gaun pernikahan. Raihanah berdecak kesal karena harus mengganti gaun pernikahan dari tadi ini sudah ke lima kalinya. Namun ibunya merasa tidak cocok, kurang inilah kurang itulah. Rasanya seperti dineraka, untung saja tidak ada Raihan. Jika ada pasti tua Bangka itu pasti akan menertawakan wajah tersiksanya ini.


"Coba kamu pakai yang ini, sepertinya yang ini akan cocok sama kamu" ucap Reina ibu Raihan.


Raihanah mengangguk mengiyakan, lalu masuk keruang ganti. Raihanah berdecak kesal sambil melepas gaunnya dan menggantinya yang baru. Dipandangi bayangannya dicermin. Raihanah tertegun dengan bayangannya , apakah ini dia kenapa beda sekali. Raihanah terlihat lebih dewasa dan anggun, gaun ini bewarna putih bersih dengan ekor yang menjuntai kebawah ada renda yang menghiasi gaun ini. Juga terdapat beberapa Kristal yang mengelilingi dibagian pinggang gaun ini sangat cantik.


Tanpa sadar Raihanah tersenyum, lalu ia membuka gaun itu dari tubuhnya dan menggantinya dengan baju yang ia pakai saat kemari.


Raihanah keluar dari ruang ganti dengan santai, Indah memandang bingung Raihanah yang tidak mengganti dengan gaun yang tadi. Seakan dapat membaca pandangan Raihanah tersenyum lalu menghampiri ibunya.


"Aku pilih gaun yang ibu pilihkan, Insya Allah cocok"


" Tapikan Ibu juga belum lihat" Tambah Indah tidak terima dengan sikap anaknya yang semaunya sendiri itu.


"Pasti nanti ibu suka" Raihanah mengucapkan dengan nada yang misterius.


****


PERNIKAHAN


"Seburuk-buruk kalian, adalah yang tidak menikah, dan sehina-hina mayat kalian, adalah yang tidak menikah" (HR. Bukhari)


Raihan mengusap-usap tanganya yang sudah basah karena keringat. Raihan merasa gugup. Lidahnya terasa kelu, dan jantungnya berdebar. Raihan menghembuskan nafas berkali-kali untuk mengusir kegugupan. Akhirnya hari yang Raihan tunggu datang juga. Hari ini Raihan akhirnya bisa jadi pria seutuhnya. Walau Raihan sudah latihan berulang kali untuk ijab qabul, tetap saja Raihan merasa gugup.


Ridwan yang melihat itu hanya tersenyum, digendongnya Rakan dalam dekapannya. Entah kenapa ia suka sekali bersama anak ini. Bahkan ia menganggap anak ini sebagai cucunya. Dikecupnya kening Rakan, hal itu membuat Rakan cemberut.


*****


"Saya terima nikah dan kawinnya Afaf Raihanah binti Ridwan Hafiz dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."


"Bagaimana para saksi, Sah?


"SAH"


"SAH"


"Alhamdulillah." Raihan melafadzkan puji syukur kepada Allah, akhirnya Raihan bisa mengucapkan kalimat sakral itu dengan lancar dalam satu tarikan nafas. Jujur Raihan merasa gugup, apalagi semua keluarga besar kami ikut mengelilingi Raihan. Raihan melihat Ridwan menyeka sesuatu diwajahnya menggunakan tissu.


"Terima kasih sudah membesarkan Raihanah Pak, saat ini tugas Bapak sudah selesai, tanggung jawab bapak berpindah kepada saya, terima kasih sudah mempercayai saya untuk menjadi imam Naya." Bisik Raihan saat Ridwan bangkit untuk memeluk tubuh nya, hal yang spontan dilakukan beliau. Ridwan sendiri tidak bisa berkata-kata, hanya diam dan menepuk-nepuk pundak Raihanah.


Tidak lama kemudian Raihanah keluar ia terlihat cantik dan mempesona, Raihanah berjalan mendekat ketempat Raihan. Raihan tersenyum melihat Raihanah, Raihanah sudah berdiri di depannya, dia berdiri canggung sambil menundukan kepala. Melihat hal itu membuat Raihan ingin mencium Raihanah.


"Salam dulu Rai sama suaminya." Bisik Indah.


****


Sedikit bingung untuk melanjutkan cerira ini, tapi karena author lagi seneng 😘😘 dapet pencerahan dari yang maha kuasa..


Thanks yang udah mau baca cerita gaje ini..


Love you


follow Instagram author @wgulla_