
Ryan melajukan mobilnya dengan cepat, ia ada urusan bisnis mendadak. Ia terus melaju sampai tidak menghiraukan jika ada orang berlari cepat. Baru saja Ryan ingin mengerem, ia melihat perempuan itu ditarik oleh seseorang. Ryan bernafas lega, ia harus meminggirkan mobilnya dulu, lalu memeriksa keadaan wanita itu. Untung saja tidak terjadi kecelakaan bisa repot nantinya. Ia harus meminta maaf pada orang itu.
Ryan turun dari mobil sedan miliknya, tadi ia hampir menabrak seorang perempuan. Ia takut terjadi hal buruk terhadap wanita itu, bagaimanapun ia adalah orang yang bertanggung jawab. Ia tidak ingin lari dari kesalahannya, jika terjadi apa-apa dengan perempuan itu ia harus melihat keadaan wanita itu.
Ryan berlari menghampiri perempuan itu, namun yang ia dapatkan, ia melihat sebuah pemandangan yang romantis. Ia dihadapkan dengan kedua orang yang sedang berpelukan, perempuan itu entah siapa tapi bentuk tubuh nya mirip dengan Raihanah wanita yang akhir-akhir ini mampu mencuri perhatian nya, dan entah kenapa hatinya terasa sakit.
KetikaPerempuan itu melepaskan pelukan dengan pria dihadapannya. Tubuh Ryan menegang ketika ia menyadari jika perempuan itu adalah Raihanah. Apalagi ketika ia melihat tatapan cinta pada Raihanah. Ia tidak pernah melihat Raihanah seperti itu sebelumnya.
'Kenapa kau menyakitiku lagi Rai?'
'Apa Pria itu adalah pria yang membuamu menolakku?'
"Raihanah," ucap Ryan, ia tidak yakin suara terdengar tenang ada kekecewaan disana sama seperti yang ia rasakan di hatinya.
*****
Raihanah menoleh ke arah suara itu, diikuti Raihan. Tatapan mereka terpaku, Raihan mengernyit bingung melihat pria itu. Raihan tidak mengenalnya, tapi kenapa pria bisa mengenal Raihan. Apa hubungan mereka berdua? Hati Raihan sesak memikirkan hal terburuk yang ia bayangkan. Tidak boleh, Raihanah hanya miliknya.
"Siapa dia?" ucap Raihan dan Ryan bersamaan.
Raihanah memejamkan mata, sepertinya ia akan diintrogasi oleh dua pria menyebalkan ini. hari ini akan menjadi hari yang panjang untuknya. Tapi untuk apa mereka mengintrogasi nya, ke dua pria itu untuk saat ini bukanlah siapa-siapa nya.
****
Mereka bertiga saat ini duduk di sebuah café, Raihan dan Ryan duduk berdampingan. Sedang Raihanah duduk di belakang mereka, pemandangan yang sungguh aneh. Awalnya Raihan dan Ryan menolak posisi duduk seperti ini, mereka tidak nyaman duduk berdampingan. Aura tidak bersahabat begitu gencar di keluarkan keduanya. Mereka seperti ingin membunuh satu sama lain.
"Siapa kau?" ucap keduanya bersamaan.
Raihanah hanya bisa menghela nafas panjang, ia mempunyai firasat buruk.
"Kalian itu seperti anak kecil, lagi pula kalian bukan siapa-siapaku." Kata itu terucap begitu saja tanpa Raihanah sadari katanya melukai hati kedua pria tersebut. Suasana menjadi hening, hingga sebuah suara hanphone mengalihkan perhatian mereka.
Raihan bangkit dari kursinya, berjalan menggeser layar handphone menggangkat panggilan. Tertera nama yang membuat jantung Raihan bedetak kencang, untuk apa wanita ini menghubunginya. Bukankah mereka telah membuat perjanjian, untuk tidak berhubungan lagi. Sudah lama sekali ia tidak berhubungan dengan orang itu. Bahkan ia juga sudah memberikan sejumlah uang padanya untuk bersenang-senang asal tak mengganggu nya.
Raihanah mngikuti arah gerak tubuh Raihan, Raihan terlihat serius dengan ponselnya, ada sedikit rasa penasaran yang timbul di hatinya. karena Raihanah tidak pernah meihat Raihan seserius itu. Ia penasaran dari siapa itu?
"Halo?"
"Tania"
"Akhirnya kau mengangkat telefonku Raihan, aku mencarimu susah payah kesana kemari. Bahkan aku sampai diusir satpam sialanmu itu, aku ingin bertemu denganmu." suara di sebrang.
"Ada perlu apa kau mencariku?" Tanya Raihan. Keningnya mengernyit tidak memberi dengan mantan istrinya ini.
"Aku ingin mengambil anakku." Raihan terdiam, ia geram dengan ucapan Tania. Semudah itu ia berkata, padahal dulu siapa yang meninggalkan sosok Rakan padanya. Bahkan dulu Tania tidak ingin memeluk Rakan sama sekali, tapi kini wanita ular itu dengan mudahnya meminta buah hatinya yang ia jaga dari ia sedih hingga bangkit tuk rajut bahagia.
"Rakan bukan anak kandungmu," Raihan termenung, ia tidak percaya dengan apa yang Tania ucapkan. Karena itu bagai petir di siang bolong.
"Bohong," desis Raihan.
"Rakan anakku dengan selingkuhanku, kau terlalu bodoh untuk kubohongi bertahun-tahun," Tania terkikik.
"Kau penipu, aku tidak percaya semua ucapanmu." balas Raihan berusaha untuk tidak percaya. Walau di dalam hatinya ia ingin berteriak berengsek! karena selama ini ia hanya di tipu dan di manfaatkan. Tidak pernah ada orang yang tulus padanya.
"Tet-tet" namun yang ia dapatkan Tania mematikan telpon sepihak. Tanpa berniat ingin menjelaskan.
Raihan melempar ponselnya sembarangan, badannya jatuh meluruh ke lantai. Pandangannya kosong, ia tidak tahu arah tujuan. Luka lamanya terbuka mencabik hatinya, lagi-lagi ia harus merasakan luka. Apakah hidupnya hanya akan penuh dengan penghianatan dan kebohongan. Raihan terisak di jendela dekat pintu café, ia tidak peduli lagi dengan pandangan oranang tg yang mengganggapnya aneh. Air matanya mengalir, memutar setiap memori yang tidak ingin diingatnya.
Raihan tidak ingin kehilangan Rakan, Rakan adalah obat penyembuh luka nya. Rakan mengalihkan semua rasa sakitnya, ia menyadarkan Raihan jika ia diinginkan dan diharapkan. Perasaan nya menjadi hangat, ia seperti memiliki alasan untuk hidup. Jika Rakan pergi dari hidup nya lantas, alasan nya untuk hidup.
*****
Raihanah bingung, melihat Raihan yang meratap seperti orang yang tidak mempunyai arah. Sebenarnya apa yang terjadi pada Raihan, ini pertama kali ia melihat Raihan murung tidak ada lagi Raihan yang sering menggoda dan mengeluarkan kata-kata manis untuk diri nya
"Apa yang terjadi padamu, Raihan?" gumam Raihanah khawatir.
Raihanah berdiri di hadapan Raihan yang terduduk. Raihan seakan sadar ada yang mengamatinya. Ia bangun dan memasang wajah dinginnya. Ia terlihat menyembunyikan yang tidak boleh Raihanah ketahui.
"Apa kau baik-baik saja?" Raihan menganguk kaku.
"Apa yang terjadi?" Raihanah kekeh ingin tahu, kesulitan Raihan.
"Tidak terjadi apa-apa," balas Raihan santai, ia melangkahkan kakinya perlahan melintasi Raihanah.
Raihanah terpaku, lidahnya kelu begitu juga dengan hatinya. Ia merasa ada yang salah, kenapa hatinya mendesak ingin tahu masalah Raihan. Dan ia seperti bukan melihat Raihan karena pria itu mengabaikan kehadiran nya.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" ucap Raihanah lantang, membuat langkah Raihan berhenti. Tubuh mereka saling membelakangi satu sama lain.
"Apa pedulimu? Bukankah kau mengharapkan kepergiaanku."
Raihanah tercekat, ucapan Raihan benar untuk apa ia peduli. Bukan nya ia yang menginginkan kepergian Raihan dari hidupnya.
****
jangan lupa follow Instagram author @wgulla_ dan @gullastory_ ♥️♥️♥️♥️♥️
love you ♥️♥️