
"Dasar aneh," guman Ryan.
Terlepas dari itu pintu terbuka memperlihatkan Reno disana. Ia menatap Raihan khawatir. Semua mata teralihan menatap Reno.
"Syukurlah kau baik-baik saja, Rai." Reno memeluk cucunya yang terbaring pelan.
Reno bangkit, ia menatap Raihanah tajam. Jadi ini gadis yang telah membuat Raihan banyak berubah. Sepertinya ia harus membicarakan sesuatu hal pada gadis itu. Agar Raihanah sadar seperti apa posisinya.
"Kau yang bernama Raihanah," Raihanah mengangguk cepat. Ia menelan ludah gugup. Tubuhnya terasa kaku akibat tatapan tajam itu.
Hatinya berdebar, kenapa kakek Raihan memanggilnya? Apa ia membuat masalah atau ada sesuatu yang buruk terjadi pada Raihan. Raihanah terus berpikiran negatif ia takut kakek Raihan tidak menyukai kehadirannya. Suara Reno menghentikan lamunannya, ia kembali menatap Reno sopan.
"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu," Raihanah bangkit dari kursi yang di dudukinya lalu mengikuti Reno menghilang dari pintu.
"Apa yang akan mereka bicarakan?" Ryan penasaran, matanya terus mengamati Raihanah dan Reno.
Raihan diam tidak menjawab, ia juga penasaran sepertinya ada yang direncanakan kakeknya. Raihan mendesah, ia tidak ingin kakeknya ikut campur dalam masalah percintaannya.
"Hey, kau ini diam terus." Ryan menyentuh bahu Raihan pelan. Raihan mendelik menjauhkan tubuhnya dari Ryan.
"ckckck." Raihan berdecak.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Raihan.
"Kau lupa aku yang membawamu ke sini, setelah aksi heroikmu itu." sahut Ryan merasa paling berjasa akan Raihan kalau tidak ada dia maka Raihan tidak akan selamat.
"Pahlawan kesiangan," guman Ryan menyindir aksi Raihan yang menyelamatkan Raihanah.
"Kau bilang apa?" Raihan mendelik tidak suka dengan sikap tengil Ryan.
"Kau seharusnya berterimakasih karena berkat aku. Kau bisa selamat." Ryan mencoba mengalihan perhatian.
"Jadi kau yang membawaku ke sini," Raihan memastikan perkataan Ryan. Ryan menepuk jidatnya, ia baru menyadari jika Raihan pingsan saat ia membawanya.
"Terimakasih," ucap Raihan tulus, sepertinya Ryan orang baik. Tiba-tiba muncul sebuah pikiran.
"Lebih baik kita berteman saja," Raihan berkata pelan.
Ryan mendekat ke arah Raihan duduk di pinggir ranjang. Ryan mencondongkan badannya mendekat ke sisi Raihan. Raihan terkejut dengan tingkah laku Ryan yang aneh. Raihan rasa otak Ryan terbentur sesuatu padahalkan ia yang terluka.
"Aku serius dengan ucapanku. Aku akan mengalah jika Raihanah benar-benar memilihmu." Lanjut Raihan. Ia takut sekali jika Raihanah bersamanya maka wanita itu akan dalam bahaya lebih baik Raihanah bersama Ryan. Pasti gadis itu akan aman. Baru sehari aja sudah seperti ini.
"Akan aku pikirkan." jawab Ryan singkat.
Raihan mendengus lebih memilih diam, namun diamnya itu malah membuat Ryan nekat mendekatkan tubuhnya ke tubuh Raihan. Pria itu naik ke atas kasur mendekat ke arah Raihan. Raihan mendelik, ia tidak habis fikir dengan kelakuan Ryan yang satu ini. tepat saat itu pintu dibuka dan orang yang membuka itu terpekik sambil berteriak.
"Argh" Teriak Sinta. Ia tidak menyangka akan disuguhi pemandangan seperti ini. apa kedua pria ini seorang gay.
Awalnya Sinta hanya ingin mengantar Rakan kepada ayahnya tapi ia malah mendapat pemandangan seperti itu. Pikiran buruk terus keluar.
Raihanah yang mendengar itu ia datang menghampiri Sinta. Raihanah juga terkejut, tapi ia menggeleng tidak mungkin kedua pria itu melakukan hal yang aneh-aneh. Raihanah masuk disusul Sinta yang sambil menggendong Rakan.
Raihan mendorong tubuh Ryan, mereka terlihat gugup tapi langsung menyembunyikan itu semua dengan wajah datar mereka seakan-akan tidak terjadi apa-apa.
"dasar bodoh," rutuk Raihan kepada Ryan.
***
jangan lupa follow Instagram author @wgulla_ dan gullastory_ ♥️♥️♥️
love you ♥️
semoga kita semua terlindungi dari wabah corona...
aamiin..