
Mobil Raihan berhenti di parkiran Kebun Binatang Ragunan, Raihanah mengernyit bingung untuk apa mereka kesini. Raihanah memalingkan wajahnya menghadap Raihan yang duduk di kursi kemudi. Raihan tersenyum kecil lalu ia menggerakan tangannya mengelus rambut Rakan yang duduk di pangkuan Raihanah. Sebenarnya ia ingin mengelus kepala Raihanah tapi ia menahannya tidak ingin Raihanah menjauh darinya hanya karena sentuhannya.
"Aku takut Rakan akan terus diam dan ketakutan, jadi aku membawa dia kesini untuk menghiburnya. Aku harap kamu mau membantuku membuat Rakan kembali ceria, karena kamu adalah sosok ibu yang Rakan inginkan," ucapan Raihan membuat Raihanah tersentuh ia tidak mengira jika Raihan berhati lembut dan sangat menyayangi anaknya.
"Dia bukan ibuku, ayah wanita tadi bukan ibuku kan." Ucap Rakan tiba-tiba.
"Bukan jagoan," bohong Raihan, ia tak ingin Rakan terluka.
"Aku hanya mau Bunda Raihanah jadi ibuku." Rakan mengeratkan pelukannya seakan tidak ingin Raihanah menjauh darinya. Raihanah tersenyum ia mengecup kening Rakan sembari mengelus punggung Rakan lembut menenangkan.
"Tenang, bunda akan jaga Rakan dan Bunda akan selalu menjadi Ibunya Rakan."
Rakan tersenyum senang lalu memeluk leher Raihanah erat. Diam-diam Raihan tersenyum senang melihat itu.
"Apakah ini bagian kebahagiaan yang diciptakan Tuhan?" ucap Raihan dalam hati.
****
Setelah dua jam berputar-putar mengelilingi Ragunan, membuat mereka lelah. Tapi Rakan yang sedang bahagia ia langsung menarik tangan Raihanah mengajaknya untuk pergi ke danau. Rakan ingin naik bebek gowes yang berada disana. Raihanah mendesah, tapi ia tidak ingin Rakan sedih ia tersenyum lalu mengikuti Rakan yang disusul langkah lesu Raihan. Raihan merasa tubuhnya ingin tumbang, tapi ia tidak boleh seperti ini masa ia kalah dengan kedua orang yang ia cintai.
Mereka membeli karcis lalu berdiri di jembatan menunggu giliran, ketika bebek goes berwarna merah mendekat Rakan langsung berteriak antusias.
"Bunda bebeknya jalan, ayo cepat sebelum bebeknya ilang."
"Iya sayang sabar kita tidak akan ketinggalan."
Raihan turun ke bebek goes tersebut dengan hati-hati ia membantu Rakan turun. Ketika tangannya menjulur ingin membantu Raihanah. Raihanah menolaknya dan lebih memilih turun sendiri. Raihan menghebuskan nafas kecewa, ia langsung duduk di bagian kanan dan disusul Raihanah. Kemudian mereka menggowes bebek itu lirih, Rakan yang duduk di pangkuan Raihan dan tersenyum senang, namun disaat ada bebek goes yang dengan cepat membalap bebek mereka. Rakan langsung menggeliat di dalam pangkuannya meminta Raihan untuk cepat.
"Ayah cepat jangan mau kalah sama bebek pink itu," ucap Raihan.
"Iya sayang," Raihan tetap menggoes pelan begitu dengan Raihanah.
"Bunda cepat!!" Rakan mencoba membujuk Raihanah ia sebal karena ayahnya mengabaikannya.
"Rai, bisakah kau turuti keinginan anakmu," pinta Raihanah.
"Oke see kau menang." Raihan mengeram sejujurnya ia lelah tapi melihat wajah memohon Raihanah membuatnya tidak tega dan menyetujui keinginan Raihanah. Raihan langsung menggoes dengan kencang begitupun juga Raihanah. Mereka bergerak kencang ditemani tawa bahagia Rakan.
"Ayo Ayah. . . " seru Rakan dengan senang.
"Ayo Bunda kita hampir mengalahkan bebek pink itu."
"Tambah kecepatannya lagi sayang," ucap Raihan tanpa sadar kepada Raihanah. Raihanah terdiam, semburat merah bersemu di pipinya. Nafasnya sudah tersenggal kelelahan tapi mendengar ucapan Raihan membuat ia bersemangat.
"Ya Allah inikah yang namanya cinta." batin Raihanah.
"Cepat!! Cepat!!" Rakan bersorak menyadarkan Raihanah. Ia tertawa senang entah kemana rasa takutnya tadi siang semuanya menguap karena kasih sayang yang ayahnya dan bunda Raihanah berikan.
Mereka terlihat seperti keluarga kecil yang bahagia. Siapapun akaniri melihat kemesraan ini. raihan terus mengayuh dengan cepat tidak memperdulikan tetesan keringat yang berjatuhan di wajahnya. Raihanah yang reflek menoleh ke arah Raihan, ia menelan ludahnya Raihan begitu mempesona dan tetesan keringat itu membuat Raihan tambah jantan dimatanya. Raihanah menggeleng ia membuang fikiran itu jauh-jauh ia tidak boleh berpikiran seperti itu.
"Fokus Rain" ucapnya dalam hati.
"Yeay akhirnya kita menang," Rakan berseru senang, ia langsung mengecup pipi Raihan. Kemudian mereka tertawa bersama-sama.
"Love you day and love you mom," ucap Rakan lalu ia melakukan ciuman jarak jauh kepada Raihanah. Raihanah terkikik geli melihatnya.
"Love you too tampan," balas Raihanah.
"Aku berjanji akan menjaga kebahagiaan ini," ucap Raihan dalam hati.
*****
Raihan duduk di ruang kerjanya,ia merebahkan tubuh nya di kursi sambil membuka buku yang Raihanah berikan. Raihan tersenyum mengingat kejadian tadi siang, ia seperti terlahir kembali walau ia juga sedikit merasa kesal dengan sikap Tania yang kelewatan berani sekali wanita itu menyakiti anak dan wanitanya. Raihan menaruh buku itu di meja, ia mengeluarkan ponsel di sakunya menghubungi seseorang.
"Hallo, Sammy tolong kamu awasi Tania. Ikuti kemanapun dan jangan lengah. Jangan biarkan wanita bertindak bodoh lagi."Raihan berucap pelan.
"Baik boss . " seru suara disana.
"Bagus, jangan buat aku kecewa."Perintah Raihan, ia tidak ingin Tania berbuat ulah lagi dan melukai orang-orang yang dicintainya.
"Aku tidak akan pernah mengecewakanmu boss."
Raihan menutup panggilannya, namun sedetik kemudian muncul sebuah pesan. Raihan mengescroll ponselnya dan menampakan nama Adrian disana. Raihan tersenyum, sudah lama sekali sahabatnya itu tak menghubunginya semenjak kejadian di pesta pernikahan Cindy.
From: Adrian
-Aku melihat foto postingan di Instagrammu, kau terlihat bahagia dengan wanita itu. aku harap kau mendapat kebahagianmu-
To: Adrian
-Terimakasih Adrian, kau memang sahabat terbaikku. Aku tidak menyesal menerima ajakanmu dulu untuk melarikan diri dari masalaluku-
Send
From: Adrian
-Nope, you are my brother-
Raihan tersenyum lalu menaruh ponselnya di atas meja, ia melirik buku yang Raihanah berikan. Semenjak membuka buku itu iamerasa kekosongan jiwanya terisi. Ia membalikkan lembaran demi lembaran buku itu dan melihatkan tulisan rapi tangan Raihanah di sana. Raihan membaca setiap kata demi kata yang Raihanah tuliskan, begitu menyentuh hatinya.
-Tak perlu menunggu Yang Maha Kuasa memberikan kebahagiaan, karena dengan bersyukur kita bisa menciptakan kebahagiaan itu sendiri-
"Aku rasa kebahagian itu memang tercipta sama seperti tadi siang ketika ia bersama Raihanah dan Rakan. Hatiku terasa hangat, entah perasaan seperti apa yang aku rasakan. Inikah kebahagiaan yang aku cari. "
"Terimakasih Ya Allah." Guman Raihan tanpa ia sadari, jika ia bersyu kur untuk pertamakalinyadi dalam hidupnya.
******
jangan lupa follow Instagram Author ya temen-temen ku @wgulla_