My Beloved Duda

My Beloved Duda
Bab 25



Di pertemukan kembali oleh mu....


****


Raihanah menghirup udara malam, akhirnya ia menginjakkan kakinya di Jakarta. Tempat yang dulu ia hindari tapi kini ia datangi kembali. Raihanah melangkah sambil menarik kopernya, ia berdiri menunggu taxi di pinggir jalan. Sudah sepuluh menit ia menunggu tapi tak kunjung datang. Raihanah menoleh ke samping kanan, tepat saat itu sebuah taxi melintas ke arahnya. Raihanah melambaikan tangannya membuat taxi itu berhenti.


Raihanah bernafas lega, ia membuka pintu penumpang taxi lalu ia masuk tanpa ia sadari ada seorang laki-laki yang ikut masuk ke dalam taksi itu dan duduk di samping pak supir.


"Ke Pondok Indah, pak " ucap kedua orang itu bersamaan.


"Iya silahkan," balas Pak supir.


Raihanah terkejut, mendengar suara selain dirinya. Ia menatap ke depan dan menemukan sosok laki-laki menoleh ke arah dirinya. Mereka menatap satu sama lain terkejut, namun laki-laki itu dengan mudah mengganti raut wajahnya dengan datar.


"Kamu," ucap mereka bersamaan diikuti suara taxi melaju .


"Apa yang kau lakukan di sini? Aku yang memesan taxi ini duluan," tanya Raihanah ia tidak menyangka takdir akan mempertemukannya dengan orang ini lagi.


"Seharusnya aku yang berkata seperti itu, tapi ya sudahlah tujuan kita sama untuk apa memperdebat kan hal ini. Ya kan pak?? " balas laki-laki itu tidak mau kalah. Pria itu menatap pak supir meminta pembelaan.


"Ah iya bapak ini benar." Timpal pak supir, Ryan tersenyum penuh kemenangan. Raihanah mendesah ia memasukkan ponselnya ke dalam tas milik nya. Ini sudah malam, ia tidak ingin mengalah dengan pria ini. Ia takut tidak dapat taxi lagi.


"Aku mau pulang, bukannya kau sendiri yang bilang mau pergi dari kehidupanku." Balas Raihanah kesal, demi apapun ia tidak pernah sekesal ini. Padahal baru tadi pagi ia mendapat pesan dan bunga dari laki-laki itu, tapi apa sekarang sosok itu berada satu taxi dengannya .


"Ah itu, mungkin kita berjodoh. Apalagi rumah kita berada di tempat yang sama, bukankah begitu Raihanah?" Ucap Ryan asal ia berusaha mencari kesempatan.


Raihanah diam ia tidak membalas perkataan Ryan, karena jika ia semakin meladeni Ryan maka semakin gencar pula Ryan menggodanya, Raihanah memalingkan wajah ke jendela mobil menatap pemandangan di luar sana. Kenapa rumahnya dengan Ryan bisa di satu kompleks yang sama? iya tidak menyukai fakta itu.


Lampu-lampu jalan yang berkelap-kelip dan gedung-gedung khas Jakarta yang mencakar hingga ke langit menjadi pemandangan favorit Raihanah. Raihanah menghela nafas, ia tidak pernah menduga jika takdir akan membawa hidupnya seperti ini. Taxi itu melaju dengan keheningan hanya suara radio yang menemani mereka sepanjang jalan. Diam-diam Ryan melirik Raihanah melalui kaca lalu tersenyum atas pertemuan ini.


*****


"Terima kasih," ucap Raihanah sambil menunduk di jendela taxi menatap Ryan yang duduk didalam taxi. Taxi berhenti tepat di depan rumahnya.


Raihanah berterima kasih kepada Ryan, karena Ryan yang membayar ongkos taxinya. Padahal Raihanah sudah berulang kali menolak namun Ryan dengan keras kepala akan membayarnya. Maklum lah anak laki-laki harga dirinya akan turun jika dibayari perempuan.


"Sama-sama," Ryan tersenyum kecil membalas nya.


"Assalamualaikum," pamit Raihanah pada Ryan.


"Waalaikumsalam," baru saja Raihanah akan pergi, Ryan memanggilnya kembali. Pria itu ingin menyampaikan sesuatu yang sedari tadi mengganjal di hatinya.


"Tunggu Raihanah," Raihanah berbalik lalu menatap Ryan ingin tahu. Ia penasaran apa yang membuat pria itu memanggil nya kembali. Apa ada barangnya yang tertinggal?


"Ada apa?" Tanya Raihanah bingung.


"Untuk kali ini aku tidak akan menyerah, aku akan merebutmu dari Raihanmu itu dan aku akan membuatmu jatuh cinta padaku." setelah mengucapkan itu Ryan tersenyum lalu menaikkan kaca jendela taxi. Meninggalkan Raihanah yang dalam keterpakuan. Taxi melaju menyusuri jalan meninggalkan Raihanah di depan rumahnya.


"Aku rasa ini takdir Allah untuk menyatukan kita kembali," guman Ryan senang. Ia sudah membulatkan tekad untuk merebut Raihanah. Dan membuat gadis itu jatuh cinta padanya.


******


Ridwan tersenyum senang akhirnya bisa melihat keluarganya utuh kembali. Dulu ia tidak mengizinkan Raihanah untuk pergi ke solo, tapi melihat tatapan anaknya yang sendu membuat hatinya tak berdaya untuk menentang keputusan Raihanah. Tapi lihatlah sekarang hanya dalam waktu kurun 6 bulan, anaknya berdiri di hadapannya.


"Dasar anak ini, hanya membuat orangtua khawatir," ucap Ridwan di dalam hati. Walau dalam hati ia senang melihat Raihanah kembali dengan kondisi yang lebih baik. Tidak seperti ketika pamit pergi. Gadis itu nampak pucat seperti menyimpan kesedihan.


Sejujurnya Ridwan penasaran dengan alasan Raihanah pergi, tidak mungkin jika hanya untuk bisa hidup mandiri. Pasti semua ini ada hubungannya dengan Raihan, semenjak Raihanah dekat dengan Raihan sikap anaknya berubah menjadi lebih tertutup. Ridwan menghela nafas, putri kecilnya sudah dewasa seharusnya ia bisa memahami itu. Raihanah pasti bisa mengatasi masalahnya sendiri tanpa bantuan darinya. Ridwan tidak boleh egois, ia harus memberi kebebasan pada putrinya.


Raihanah melepas pelukannya dengan Indah lalu berlari-lari kecil menghampiri ayahnya. Ridwan terkekeh melihat putrinya yang manja itu berlari hanya untuk memeluknya.


"Kangen ayah," rengek Raihanah manja.


"Ibu ngak di kangenin ini," ujar Indah bersedekan lalu pura-pura marah .


Raihanah melepaskan pelukannya, ia menatap ibunya lalu tersenyum lebar. Ia terkekeh mendengar ibunya merajuk seperti itu, begitupun dengan Ridwan .


"Kangen ibu juga lah." sahut Raihanah dengan memeluk ibunya erat sekali.


"Sudah-sudah, ayo kita lebih baik makan-makan. Merayakan kepulangan putri kita yang cantik ini." ujar sang Ibu menengahkan.


"Asyik." Seru Raihanah senang. Ia sudah begitu merindukan saat-saat bersama keluarga nya.


"Ayah yang traktir," usul Raihanah, Ridwan cemberut namun sedetik kemudian ia mengelus kepala putrinya sayang.


"Kau yang pilih tempat." Ridwan menyetujui itu.


"Hore!!!" Raihanah bersorak senang mendengar itu.


"Ayah Rain mau Beli mie ayam." Ucap Raihanah manja sambil melingkarkan tangannya pada sang ayah.


"Siap!!" Ridwan mengelus kepala Raihanah lembut.


"Pake uang ayah loh." ujar Raihanah.


"Katanya mau belajar mandiri masa beli mie ayam pakai uang ayah." Ledek Ridwan. Kemudian Raihanah mendelik sambil cemberut sedangkan yang lain tertawa melihat ekspresi Raihanah.


"Ayah mah.. nyebelin!!!"


"Rain marah loh."


"Hahahahah."


"Sudah yuk kita siap-siap pergi." Indah memeluk putrinya. Lalu mereka keluar dari rumah masuk ke dalam mobil menuju warung makan mie ayam dekat kompleks.


****


jangan lupa Follow Instagram aku @wgulla_


love youuu


semoga kalian suka ya sama cerita akuĀ  :)