My Beloved Duda

My Beloved Duda
Bab 43



BAB 21


PERTEMUAN


******


Raihan kembali kerumah untuk mengambil ponselnya yang ketinggalan. Raihan mempunyai firasat buruk entah apa itu, hati Raihan terasa tak tenang. Raihan memasuki rumahnya, aneh kenapa terasa sepi. Seharusnya Raihanah masih ada dirumah, bahkan ia melarang Raihanah keluar rumah tanpa izinnya saat iya tahu anaknya Rakan hilang. Perasaan Raihan jadi tak enak karena ia tak menemukan istrinya dimanapun.


Raihan mengambil ponselnya diatas meja rias istrinya, lalu dihubungi nomernya istrinya. Terdengar suara dering ponsel diatas kasur, Raihan mengernyit bingung tak kala ia melihat ponsel Raihanah disana. Kenapa gadis itu tidak membawa ponselnya? Dasar ceroboh sekali gadis ini!!!


Diambilnya ponsel Raihanah, Raihan mulai membaca sebuah pesan antara Raihanah dengan Tania. Melihat nama itu membuat Raihan mengeram marah. Jangan-jangan Raihanah bersama wanita sialan itu.


-Tania –


Temui aku, Rakan anakmu ada bersama ku. Datang sendiri jangan beritahu Raihan.


-Raihanah-


Oke, aku akan datang kesana. Cepat berikan alamatmu


-Tania-


Apertemen Juanda, lantai 3 nomer 14


Raihan mengeram marah tak kala membaca itu, istrinya pergi tanpa sepengetahuannya. Ditekan nomer Tania yang berada dalam layar ponsel Raihanah. Terdengar nada sambung disebrang sana namun pemiliknya tak kunjung menjawab telponnya. Raihan berdecih kesal, hatinya dipenuhi dengan kecemasan karena istri dan anaknya bersama mantan istrinya yang sudah gila itu.


Akhirnya dari sekian lama Raihan menunggu, panggilannya dijawab juga.


"Halo" ujar suara disana dengan nada biasa saja seakan tak melakukan kesalahan apapun.


"Hai ******, beraninya kau membawa anak dan istriku" Raihan berucap dengan nada tajam, ketika mendengar suara Tania yang mengangkat panggilannya.


"Hai Raihan, aku rasa kamu terlambat" balas Sinta.


"Shit, jangan kau apa-apakan mereka atau aku akan membunuhmu" belum sempat Raihan mengucapkan itu sambungannya sudah terputus.


"SIALAN, wanita itu" Raihan mengeram marah, sial kenapa wanita itu bisa bertindak sejauh ini. Hati Raihan dipenuhi rasa gelisah, ia merasa khawatir dengan keadaan anak dan istrinya.


Raihan berlari keluar kamarnya dengan tergesa-gesa dituruninya tangga satu persatu dengan cepat tanpa takut jatuh, hatinya tak nyaman dipenuhi rasa takut. Yang ia tahu ia harus sampai kesana dengan cepat menyelamatkan anak dan istrinya.


*****


Raihan melajukan mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata, ia tak peduli jika harus ditilang oleh polisi sekalipun. Yang Raihan tahu, ia harus cepat sampai ke Apartemen tersebut. Ia harus menyelamatkan cintanya, istrinya dan anaknya dari wanita parasit itu. Wanita yang seharusnya tak kembali ke kehidupannya, namun sekarang wanita itu datang membawa bencana dihidupnya.


Astagfirulloh


Raihan mengucapkan kata itu disaat ia tahu ia dalam kondisi dipengaruhi hawa nafsu, bagaimanapun ia tidak boleh hawa nafsu mengendalikannya. Raihan tak ingin kejadian seperti dulu terulang disaat ia mencium Raihanah. Raihan memakirkan mobilnya sembarangan, ia sudah tidak peduli lagi. Ia langkahkan kakinya yang panjang dengan cepat menuju lift. Ditekannya angka nomer 3, dan disaat lift itu bergerak keatas Raihan merasa bebannya sedikit berkurang.


'TING' suara pintu lift terbuka.


Raihan berlari mencari kamar nomer 14, ketika ia melihat sebuah pintu yang bertuliskan nomer itu langsung dihampirinya. Pintu Apertement itu terbuka, melihat itu membuat Raihan mengernyit bingung. Apa yang sebenarnya terjadi?


Raihan melangkahkan kakinya masuk ke Apertement itu menyusuri ruangan demi ruangan. Sepi tidak ada siapapun, namun Raihan tetap mencari hingga ia menemukan sebuah kamar yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Ada rasa ragu untuk memasuki kamar itu, tapi ia harus memastikan bahwa tidak ada siapapun diapertement ini.


Tubuh Raihan bergetar, tak kala ia melihat ada sosok perempuan yang tergeletak secara mengenaskan dilantai. Raihan berlari menghampiri sosok itu, ia menatap sendu gadis itu. Raihan merasa ia tidak bisa menjadi sosok yang suami yang baik, karena saat ini istrinya terlihat tak berdaya. Ada luka tembak dibahu Raihanah tanpa sadar air mata Raihan mengalir membasahi wajahnya.


Mulut Raihan bergetar, ia tak bisa berkata-kata. Dibawanya Raihanah kedekapannya masih terasa detak jantung Raihanah disana. Mengetahui hal tersebut Raihan merasa ada sedikit harapan. Harapan yang ia harap akan jadi nyata.


"Terimakasih Ya Allah"


"Aku berjanji akan menemukan anak kita dan menghukum wanita itu" ucap Raihan sambil mengecup bibir Raihanah lembut.


*****