My Beloved Duda

My Beloved Duda
Bab 45



Raihan berjalan menuju ruangan Raihanah, hari ini ia akan pergi menjemput anaknya Rakan. Raihan memakai Rompi hitam anti peluru, baju ini iya dapatkan dari Sulaiman. Raihan merasa dirinya seperti polisi-polisi di film-film, Raihan ingin pamit kepada Raihanah.


Dibukanya pintu kamar Raihanah, disana Raihanah sedang berbaring sambil memejamkan mata. Namun disaat Raihanah melihat Raihan menghampirinya, Raihanah berusaha untuk mengangkat tubuhnya agar dapat duduk dikasur. Raihan tersenyum tak kala melihat itu, di usap lembut kepala Raihanah.


"Aku sudah merasa baik, obatnya bekerja" Raihanah tersenyum menatap Raihan, namun sedetik kemudian ia mengernyit tak kala ia melihat pakain Raihan.


"Kenapa kau berpakaian serapi ini?" tanya Raihanah ia bingung melihat Raihan memakai pakaian yang menurutnya aneh.


"Aku ingin menjemput anak kita" jawab Raihan sambil tersenyum.


"Tapi kenapa harus berpakaian seperti ini, jangan bilang kau akan kesana sendirian tanpa bantuan polisi"


Raihan menganggukan kepalanya seakan menjawab pernyataan Raihanah. Ekspresi Raihanah berubah seketika menjadi sendu, didalam dirinya ada rasa khawatir apa lagi ia tahu bagaimana kejamnya wanita ular itu. Ia takut ia akan kehilangan dua orang yang ia cintai, Raihan dan Rakan.


"Tidak perlu khawatir aku akan baik-baik saja" Raihan berusaha menenangkan Raihanah.


"Percaya padaku, aku akan kembali bersama anak kita, Rakan."


Raihan menarik nafas sebentar, ditatapnya Raihanah yang sedang menundukan kepalanya. Raihanah masih diam tidak membalas setiap ucapan Raihan.


"Kedatanganku kesini selain untuk pamit, aku ingin meminta hadiah pernikahan yang kamu janjikan untukku. Bolehkah aku mengambilnya sekarang?"


Raihanah tertegun, ia tidak boleh egois bagaimanapun Rakan dalam keadaan bahaya. Ia harus mengalah, dan membiarkan Raihan pergi menyelamatkan Raihan. Raihanah menganggukan kepalanya kepada Raihan.


"Aku pergi" pamit Raihan, sambil membalikkan badan, diusap airmata yang menetes dipipinya.


Raihan berjalan bersiap untuk pergi, baru beberapa langkah ia berjalan ada tangan kecil yang menghentikan langkahnya.


Raihanah bangun dari tempat tidurnya walaupun ia merasa sakit ditubuhnya ia tidak peduli, yang terpenting saat ini ia harus jujur, paling tidak ia ingin mengungkapkan sesuatu sebelum ia akan kehilangan Raihan. Raihanah tidak ingin menyesal, karena belum pernah mengatakan hal ini.


Dicekalnya tangan Raihan dengan cepat, membuat mereka saling berhadapan. Mata mereka saling bertemu tanpa Raihan mengerti, Raihanah berjinjit untuk mencium bibir Raihan. Bibir mereka saling menempel satu sama lain, ciuman itu berlangsung sangat lama. Tidak ada lumatan dan gairah, yang ada hanya rasa tidak ingin kehilangan.


"Aku mencintaimu" Raihanah berkata pelan sambil melepaskan ciumannya.


Raihan terpaku dengan perkataan Raihanah ini pertama kalinya ia mendengar Raihanah mengucapkan kalimat itu. Mata Raihan berkaca-kaca menatap Raihanah direngkuhnya tubuh mungil Raihanah kedalam pelukan hangatnya.


"Aku juga mencintaimu Raihanah"


*****


Aku harap ini bukan ciuman terakhir kita Raihanah batin Raihan ia takut kehilangan Raihanah tapi ia juga tidak bisa kehilangan Rakan anaknya, mereka adalah harta terindah yang ia punya Raihan berharap tuhan mengijinkannya untuk tetap bersama mereka


*****


jangan lupa follow Instagram author@wgulla_ ♥️♥️♥️♥️