My Beloved Duda

My Beloved Duda
Bab 11



Menghilang dan merindu..


Jika hujan deras turun akan berhenti,


Namun Rindu membara sulit untuk berhenti


Jika air mengalir sampai ke hilir


Namun Rindu mengalir tidak bertemu hilir.


Jika pelangi datang lalu pergi,


Namun rindu datang tak kunjung pergi


Rindu hanya bisa terobati dengan suara bertemu.


-Raihan Salman Al-Fatih-


****


Semenjak kepergian Raihanah, hidup Raihan menjadi hampa. Ia seperti orang gila yang terus bekerja tanpa beristirahat. Anaknya Rakan ia titipkan pada baby sister, tapi ia tidak begitu menelantarkan anaknya, ia menyempatkan waktunya untuk bermain bersama anaknya. Rakan terlihat rewel semenjak kepergian Raihanah, Rakan terus bertanya dimana keberadaan Raihanah padanya. Membuat kepala Raihan bertambah sakit.


Raihan menatap layar laptopnya sudah 6 bulan berlalu, ia belum mengetahui dimana keberadaan Raihanah. Bahkan Raihan sudah berulangkali pergi ke rumah Raihanah, keluarga Raihanah seakan menyembunyikan dimana keberadaan Raihanah. Tidak cukup datang ke rumah Raihanah.


Raihan mengunjungi kampus dan juga tempat Raihanah mengajar, ia juga menemui Nathan. Semuanya nihil, tidak ada yang memberikan jawaban. Pertemuannya dengan Nathan malah membuat moodnya bertambah buruk. Pria itu mengejeknya bahkan menuduhnya jika ia yang membuat Raihanah pergi, walau Raihan akui ucapan Nathan ada benarnya juga. Tapi andai saja ia tidak melihat Nathan waktu itu ia tidak akan mencium Raihanah dengan paksa.


"Sialan!!" umpat Raihan ia menutup Laptopnya, ia bosan dengan hidup ini. Tidak ada gairah yang membuat hidupnya menjadi bersemangat. Raihanah benar-benar mempengaruhinya, dari cara gadis itu tersenyum bahkan tampang judesnya semua terbayang dipikiran Raihan membuat Raihan mendesah frustasi.


Raihan bangkit, ia berjalan menuju jendela di sudut ruang kerjanya di kantor miliknya. Di balik jendela, terlihat gedung-gedung pecakar yang memenuhi langit. Langit kelabu, penanda mendung dengan rintik hujan yang turun membasahi bumi. Raihan tertegun melihatnya, pandangannya tak lepas dari rintikan hujan. Ia seakan-akan sedang menghitung jumlah air hujan yang jatuh.


"Kau tahu Raihanah, jika hujan turun pasti akan berhenti namun jika rindu membara kapan ia akan berhenti," guman Raihan sendu, air matanya ikut turun meramaikan suasana hujan.


Rasa rindu dan penyesalan menjadi satu. Ia tahu apa yang ia lakukan waktu itu salah, ia merusak wanita yang ia cintai. Ia melecehkannya, walau Raihan tahu ciuman bukanlah hal yang tabu untuknya. Raihan sering melakukan itu malah lebih. Tapi dengan bodohnya Raihan memperlakukan Raihanah sama dengan gadis-gadis yang dulu sering ia mainkan. Raihanah gadis yang menjunjung tinggi kehormatan. Masih ingat di benak Raihan, ketika gadis itu tidak suka di cubit pipinya. Raihan mengusap wajah kasar, begini jadinya jika ia mementingkan nafsunya. Raihanah berbeda dengan gadis lainnya.


Tok Tok!!


Suara ketukan menghentikan lamunan Raihan berhenti, ia menghapus airmata yang masih terasa basah dipipinya.


"Permisi pak, saya ingin memberikan laporan keuangan perusahaan kita bulan ini," Indra berucap sopan, bosnya tidak seperti biasanya. Terlihat aneh di mata Indra, karena Raihan tidak berbalik untuk menatapnya, namun terus berdiri menghadap jendela.


"Taruh di meja saya, saya akan mengeceknya," balas Raihan, ia menjaga suaranya.


"Baik pak." ucap Indra tanpa ingin menggangu bosnya itu.


Indra melangkah ke meja Raihan, ia menaruh laporan-laporan itu dengan rapi. Lalu ia berlalu meninggalkan Raihan di dalam ruangan sendirian.


Badan Raihan meluruh turun, ia duduk dengan jendela sebagai sandaran. Kakinya ia selonjorkan di lantai. Ia tidak peduli lagi dengan kotornya lantai yang mengotori bajunya yang mahal. Yang ia inginkan saat ini hanya Raihanah, rindunya semakin membara memeluk jiwanya dalam keputusasaan Raihan tidak pernah tahu jika merindukan seseorang akan seburuk ini. Raihan meremas kedua jarinya yang bertautan, suara hujan semakin bergemuruh di telinganya. Hujan seakan mengerti jika Raihan begitu merindukan Raihanah.


"Kau tahu Rain, aku begitu merindukanmu sampai aku tidak pernah tahu bagaimana cara menghentikannya. Kecuali dengan bertemu." Gumam Raihan.


"Dimana kamu Rain?"


*****


Raihanah tersenyum sudah lebih dari 6 bulan, ia tinggal di Solo. Raihanah terpaksa berbohong kepada semua orang, ia hanya tidak ingin Raihan dengan begitu mudah menemukannya. Raihanah tahu jika Raihan kaya, ia pasti akan melakukan cara apapun untuk bertemu dengannya. Jika dibilang Raihanah tidak merindukan Raihan itu bohong, Raihanah sangat merindukan pria itu.


Tapi Raihanah masih sakit hati atas perlakuan Raihan. Bukan karena dia juga mencintai Raihan, pria itu bisa berbuat seenaknya. Ia takut jika perasaannya pada Raihan semakin besar dan mereka semakin bertindak jauh. Buktinya saja Raihan sudah berani menciumnya tidak ada hal lain yang bisa membuat Raihan untuk tidak melakukan hal yang lebih dari ciuman itulah yang Raihanah takutkan.


Di kota ini Raihanah membuka toko bunga, walau ia merupakan mahasiswi lulusan psikologi bukan berarti ia tidak bisa mendirikan toko bunga. Nama toko bunganya bernama Rain Florist. Raihan selalu menyebutnya Rain, dan itu selalu terbayang di pikiran Raihanah. Sehingga Raihanah memutuskan untuk menamakan tokonya Rain. Terdengar gila karena masih bisa-bisanya ia memakai nama panggilan kesayangan dari Raihan padahal tujuan utamanya ke sini adalah melupakan pria itu. Rasanya Raihanah seperti tergila-gila tanpa sadar oleh pria itu. Raihanah mendesah panjang, jadi bagaimana caranya melupakan Raihan? kenapa sulit sekalinya dan hatinya tidak pernah sama dengan pikirannya.


Selama 6 bulan, ia menjaga toko bunga. Hasilnya lumayan bisa dikatakan lebih dari cukup untuk biaya hidupnya di Solo, tempat kelahirannya. Pagi ini Raihanah sibuk merangkai beberapa bunga mawar, Raihanah memiliki 2 karyawan yang membantunya. Nama mereka Tyas dan Beno. Tapi Raihanah tidak pernah sungkan untuk melayani atau merangkai bunga untuk pembeli meski ia memiliki karyawan. Ia suka akan kesibukkan. Kesibukkan yang bisa membuatnya melupakan Raihan. walaupun hasilnya sia-sia. Karena pria itu terus berada di pikirannya. Bahkan enggan pergi dan malah semakin menjadi-jadi hingga ia tidak bisa berpikir lagi. Hanya Raihan yang bersemayam di hatinya. Mungkin karena Raihan adalah cinta pertamanya. Jadi begitu sulit untuk melupakan Raihan. Karena ia sebelumnya tidak pernah seperti ini dengan cowok lain.


Raihanah menatap bunga Krisan di hadapannya. Suara rintik hujan membuat hatinya pilu. Seakan mengejeknya bahwa ia sedang merindu. Sesibuk apapun dia ia masih menyimpan rindu untuk pria itu walau ia membenci Raihan. Ternyata benar benci dan cinta itu hanya beda tipis. malah itulah yang menyatukan keduanya. Raihanah tersenyum tipis, hujan seakan mengejeknya.


"sampai kapan rasa ini akan terus tinggal? apakah kepergian ku ini akan sia-sia pada akhirnya?" gumam Raihanah sambil kembali ke tempat duduk untuk istirahat lama-lama ia bisa gila hanya karena pria bernama Raihan. Duda tampan yang mampu mengusik hidupnya. jadi apasih kelebihan dari duda itu hingga mampu menjungkir balikkan hatinya.


***


jangan lupa like ya... dan koment


follow Instagram author @wgulla_