My Beloved Duda

My Beloved Duda
Bab 39



"Alhamdulillah." Raihan melafadzkan puji syukur kepada Allah, akhirnya Raihan bisa mengucapkan kalimat sakral itu dengan lancar dalam satu tarikan nafas. Jujur Raihan merasa gugup, apalagi semua keluarga besar kami ikut mengelilingi Raihan. Raihan melihat Ridwan menyeka sesuatu diwajahnya menggunakan tissu.


"Terima kasih sudah membesarkan Raihanah Pak, saat ini tugas Bapak sudah selesai, tanggung jawab bapak berpindah kepada saya, terima kasih sudah mempercayai saya untuk menjadi imam Naya." Bisik Raihan saat Ridwan bangkit untuk memeluk tubuh nya, hal yang spontan dilakukan beliau. Ridwan sendiri tidak bisa berkata-kata, hanya diam dan menepuk-nepuk pundak Raihanah.


Tidak lama kemudian Raihanah keluar ia terlihat cantik dan mempesona, Raihanah berjalan mendekat ketempat Raihan. Raihan tersenyum melihat Raihanah, Raihanah sudah berdiri di depannya, dia berdiri canggung sambil menundukan kepala. Melihat hal itu membuat Raihan ingin mencium Raihanah.


"Salam dulu Rai sama suaminya." Bisik Indah.


Dengan malu-malu Raihanah mengulurkan tangannya, dan langsung Raihan sambut, Raihanah mencium punggung tangan Raihan dengan hikmat.


"Tahan ya, di foto dulu." Kata pihak photograper dan juga para tamu. Setelah Raihanah mencium punggung tangan Raihan, Raihan mencium kening Raihanah dengan lembut.


"Mas Raihan boleh dipakaikan Mas kawinnya." Kata petugas KUA, Raihan mengambil kalung yang ia beli sebagai mas kawin untuk Raihanah dan memakaikannya ke leher Raihanah.


"Kamu cantik." Bisik Raihan ketika mengaitkan kalung itu di leher Raihanah.


Raihanah terseyum malu-malu, membuat Raihan gemas. Ingin rasanya Raihan mencium Raihanah saat ini juga, namun ditahannya ini masih diruang resepsi. Setelah pemakaian Mas kawin, Raihan membacakan Sighat taklik dan dilanjutkan dengan penandatangan buku nikah.


Seorang pria dengan langkah tergesa-gesa menghampiri Raihan. Rahangnya mengeras, tangannya terkepal, ia tidak terima dengan pemandangan yang dilihatnya. Ryan merasa dicurangin oleh pria itu. padahal waktu itu Raihan sendirilah yang mengatakan padanya untuk bersaing secara adil tapi Raihan mengingkari janjinya dan mencuri start dengan melamar Raihanah tanpa memberitahunya. Ryan dengan tidak sabar melayangkan tinju tepat ke wajah Raihan. Semua orang di resepsi pernikahan terkejut melihat itu begitu pula Raihanah. Ia tidak menyangka jika Ryan akan berbuat senekad ini di pesta pernikahannya.


"Itu untukmu karena kau menghianatiku" Ryan mengucapkan itu dengan menggebu.


Raihan mengelap darah yang keluar dari mulutnya, baru ia akan bangkit Ryan meninjunya lagi.


"Sebenarnya apa yang terjadi pada kalian," tanya Raihanah membantu suaminya berdiri.


"Urusan laki-laki," jawab Ryan santai.


"Sialan kau!!" ucap Raihan memegang bibirnya yang masih terasa perih akibat pukulan Ryan. Jujur ia akui ia curang tapi ia tidak menyangka jika Ryan akan melakukan ini dipestanya membuatnya malu saja.


"Selamat atas pernikahan kalian,"


"Terima kasih Rayn."


"Dan untuk kau jaga Raihanah awas sampai dia terluka aku tidak akan memaafkanmu." Ancam Ryan.


"Tanpa kau ancampun aku akan melindungi Raihanah." Ryan mendecih, matanya menatap Raihan tidak suka. Ryan belum sepenuhnya memafkan pria itu. ryan menghela napas lalu ia tersenyum melihat hasil karyanya yang melukis wajah Raihan.


"Kau terlihat tampan dengan luka-luka itu." ejek Ryan. Menyadari maksud dari perkataan Ryan yang mengejek mukanya yang hancur karena pukulan Ryan.


"SIALAN KAU!!" Raihan berteriak lantang sambil menunjuk wajah Ryan. Hal itu membuat semua pandangan tertuju pada mereka. raihan menghela napas menyadari hal yang barusan ia lakukan malah membuat pesta pernikahannya kacau. Berengsek aku akan membalas pria ini.


Ryan pamit berlalu lalu tertawa penuh kemenangan karena berhasil mengerjai Raihan.