
Aku ingin dicintai..
Salahkah aku mengharapkan cinta..
bukan hanya cinta sepasang kekasih
Tapi juga keluarga..
Tuhan bolehkah aku berdoa untuk bisa memiliki keluarga...
Raihan bergegas masuk ke dalam ruangan kakeknya. Ia langsung menyambut pelukan buah hatinya yang berlari-lari kecil ke arahnya. Raihan memeluk erat Rakan seakan tak ingin kehilangan, Raihan bersumpah tidak akan membiarkan ****** itu merebut Rakan darinya, kemudian memutar tubuh Rakan melayang terbang. Ia benar-benar takut kehilangan anaknya ini. Maka dari itu ia langsung melesat ke sini untuk memastikan jika anaknya baik-baik saja tanpa kekurangan satu apapun.
Mata hitam Raihan tak sengaja melihat sosok tegap yang berdiri di depan kaca yang memperlihatkan gedung-gedung pecakar. Jantung Raihan berdegup kencang sudah lama sekali ia tidak melihat sosok itu, sosok yang menjadi obsesinya. Sosok yang tidak bisa ia gapai. Sosok yang bahkan tak pernah melihatnya sedikitpun. Sosok yang ia impikan dari kecil. Sosok yang inginkan.
"Ayah," ucap Raihan lirih, ia tidak yakin ia bisa mendengar suaranya.
Raihan terus mengamatinya, hingga sosok itu melangkah melaluinya. Hati Raihan perih, ayahnya masih sama seperti dahulu. Dingin kepadanya, tidak pernah menganggapnya ada. Dirinya benar-benar tidak di inginkan oleh siapapun. Matanya berkaca-kaca. Ia sedih karena sang ayah tak pernah menganggap nya ada. Lantas untuk apa ia ada kalau tidak di inginkan. Bahkan orang itu tak pernah menginginkan nya barang sedikitpun.
"Aku harus kembali," ucap Ray pada Reno sang ayah.
"Hati-hati." balas Reno.
Raihan terpaku ia masih menatap punggung Ray hingga hilang dari pandangannya. Ingin sekali pria itu menyapanya sedikit saja atau paling tidak menatapnya.
Kenapa hidupnya jadi melankolis seperti ini?
Apa ia tidak pernah diharapkan di dunia ini mulai dari ayahnya, ibunya, keluarganya hingga cintanya.
Lalu kenapa ia dilahirkan? Ia ingin memilki keluarga seperti orang-orang normal lainnya.
Raihan mendesah panjang, hingga ia merasakan tangan-tangan mungil mengusap pipinya. Ia baru sadar jika ada buah hatinya sedang mendekap eratnya.
"Papa jangan nangis nanti Rakan juga ikut sedih," hibur Rakan. Anak kecil itu tahu bagaimana perasaan Raihan walau ia masih kecil.
Raihan tersenyum kemudian mencium jemari-jemari mungil Rakan. Seharusnya ia tidak menunjukkan kelemahan nya pada putra nya ini. Tapi putra nya terlalu peka terdapat nya.
"Jangan tinggalin papa," guman Raihan dalam hati. Matanya menatap Raihan kuyu, Rakanlah satu-satunya yang ia punya. Ia harus memperjuangkan anaknya. Persetanan dengan wanita ****** itu.
Raihan yang telah merawat Rakan dari kecil bukan wanita itu. Tanpa sadar Raihan mengeratkan pelukannya. Ia tidak akan membiarkan Tania menyentuh Rakan barang sedikit pun. Walau Rakan bukan anaknya, ia tidak akan mempermasalahkan hal itu. karena hanya Rakan yang ia miliki di hidupnya.
"Sebaiknya kau istirahat Rai, kau terlihat lelah. Kakek tidak ingin kamu sakit." Ucap Kakek Raihan khawatir melihat wajah pucat Raihan. Ia tahu pasti kehadiran Ray ayahnya yang membuat Raihan seperti itu.
"Iya kek."
"Kau ajak Rakan tidur, ia belum tidur seharian. Kau tahu betapa lelahnya aku menjaga anak nakal ini bermain seharian dan kau malah asyik berjalan-jalan." ujar Reno.
Raihan tersenyum kecil, ia tahu kakeknya hanya bercanda untuk menghilangkan kecanggungan karena kedatangan ayahnya tadi.
"Andai ayah seperti kakek," ucap Raihan tanpa sadar.
"Anggaplah kakekmu yang sudah mau mati ini seperti ayahmu," canda Reno.
"Kau memang yang terbaik kek. Tidak ada yang bisa mengalahkan kakek di hatiku." balas Raihan terharu. Baginya Reno adalah malaikat di hidupnya. Dari orang itu ia percaya bahwa malaikat itu tak selalu bersayap.
"Lalu bagaimana dengan wanita itu, si cantik Rain." Raihan terdiam. Melihat itu Reno mencoba mencari pengalihan. Pasti ada masalah antara Raihan dengan Raihanah. Tidak seharusnya dia mengungkit perempuan cantik itu di hadapan Raihan.
"Kau baru sadar, dasar cucu kurang ajar. Apa kau lupa aku yang menemukanmu dulu di pinggir trotoar seperti gelandangan? Dan kau saat ini bisa seperti ini berkat siapa? kalau bukan karena kakek mu yang tampan ini." Lanjut Reno sambil menepuk pundak Raihan berusaha menenangkan cucunya itu. Ia tahu Raihan terluka karena cinta. Malangnya cucunya ini.
"HAHAHA," tawa Raihan menggelegar. Kakeknya terlihat konyol saat ini. Ia sedikit terhibur dengan Reno.
"Eyang lucu," sahut Rakan sambil mengembungkan pipinya. Reno mencium pipi Rakan cepat. Rakan merengut sebal, ia langsung mengelap pipinya yang di cium Reno.
"Papa, eyang nakal cium pipi Rakan. Rakan udah gede bukan masih bayi. Kumis eyang geli." Rakan mengadu. Ia tidak suka di cium oleh Reno. Karena rasanya geli. ada kumis yang menggelitik di pipi mungilnya.
Raihan hanya tertawa, hatinya terhibur. Ia semakin yakin untuk mempertahankan Rakan menjadi anaknya. Ia tidak peduli jika Rakan bukan anaknya. Rakan satu-satunya kebahagiaan yang ia miliki sekarang.
"Sebenarnya ada yang ingin aku beritahukan kek." Ujar Raihan pada sang kakek. Raihan menaruh Rakan di sofa. Lalu berbincang jauh dari anaknya. Rakan di biarkan main dengan mainannya sendiri. Ia ingin membicarakan suatu hal pada Reno.
"Ada apa?" Tanya Reno ketika melihat wajah Raihan murung. Ia rasa Raihan memendam sesuatu. Kadang ia tidak suka dengan sifat Raihan yang selalu memendam semuanya sendirian.
"Tania kembali." Reno kaget. Ia tahu bagaimana rekor wanita itu menyakiti hati cucunya.
"Dan dia mengatakan ingin mengambil Rakan dari sisiku." ujar Raihan sedih.
"Dan dia bilang Rakan bukan anak kandung ku." Kalimat itu bagai petir di telinga Reno. Jadi selama ini wanita itu telah membohongi mereka. Ia jadi kasihan dengan Rakan kasihan anak itu.
"Tenanglah kakek tidak akan membiarkan kamu berjuang sendirian. Sekarang kamu istirahat lah. Wanita itu akan kakek urus semampu kakek." Reno berusaha menenangkan cucunya itu. Ia juga ikut sedih. Rasanya ia ingin membunuh wanita itu. Tidak tahu terima kasih.
"Jangan lemah dan lengah Rai. Kakek yakin wanita itu mempunyai tujuan lain selain mengambil Rakan. Bisa saja uang yang dulu kau berikan kurang untuk nya. Maka dia kembali atau wanita itu di campakkan oleh selingkuhan nya. dan dia mencari mu lagi."
"Entahlah kek, aku sudah pusing. Hari ini sungguh melelahkan untukku."
"Istirahat dulu dek."
"Kami pulang dulu kek," ucap Raihan pada Reno.
"Jaga Rakan sekalipun dia bukan darah daging mu tapi tetap saja dia adalah anakmu. Kau yang membesarkannya Raihan dan hanya kau yang memberikan kasih seorang ayah yang tidak pernah Rakan dapatkan dari siapapun." Raihan mengangguk. Ia tidak ingin Rakan bernasib sama dengannya. Cukup dia yang menderita jangan ada orang lain lagi.
****
jangan lupa Follow Instagram author @wgulla_
jangan lupa like nya.... dan koment juga...
love youuuuuuuuuu semua